Oleh: psikologi2009 | Februari 1, 2012

PSIKOLOGI: Bagaimana Cara Mengatasi Semangat Yang Menurun?

SERING kita mengalami semangat belajar menurun, semangat kuliah menurun, semangkat kerja menurun dan semangat menurun saat akan melakukan apa saja. Seringkali kita tak pernah tahu apa sebabnya. bahkan, jika semangat yang menurun itu tidak segera diatasi, kita akan terjebak pada sikap malas. Apa sebabnya dan bagaimana solusinya?

A.Beberapa sebab menurunnya semangat
1.Lelah atau kurang istirahat
2.Stamina menurun
3.Ada gejala sakit
4.Faktor usia atau fisik
5.Ada masalah

ad.1.Lelah
Menurunnya semangat bisa saja karena lelah atau karena tidur terlalu malam. Rasa lelah tentu saja ada pengaruh yang signifikan atas menurunnya semangat. Serasa 75% energi telah terkuras habis untuk melakukan pekerjaan sebelumnya.

Solusi rasa lelah
Rasa lelah apalagi lelah luar biasa harus diimbangi dengan waktu istirahat. Jika itu terjadi di kantor, maka kita tetap bekerja tetapi dalam kondisi santai, namun pekerjaan tetap dikerjakan. Sambil, tiap 15 menit istirahat sekitar 5 menit. Jadi, solusi lelah adalah istirahat disela-sela bekerja. Demikian juga kalau lelah saat sekolah atau kuliah, tetap sekolah dan kuliah, namun mengurangi kerjaan fisik seperti menulis. Toh, selesai sekolah/kuliah bisa meminjam catatan dari teman. Jika lelah terlalu berat karena mungkin habis dari luar kota, sebaiknya minta ijin kantor untuk tidak masuk kerja satu hari dan dimanfaatkan benar-benar untuk istirahat.

Solusi kurang tidur
Tidur terlalu malam juga bisa mengurangi semangat. Bahkan akan bangun tidur pagipun ada rasa malas. Padahal, idealnya tidur haruslah 8 jam semalam. Oleh karena itu, untuk mengatasi menurunnya semangat karena kurang tidur malam, harus membiasakan tidur tepat pada waktunya atau cukup waktu tidur.

2.Stamina menurun
Stamina menurun juga berakibat menurunnya semangat. Menurunnya stamina biasanya munu makanan kurang bergizi, kurang olah raga.

Solusi kurang gizi
Tentu, solusinya harus membiasakan diri makan-makanan yang bergizi. Empat sehat lima sempurna. Boleh juga minum minuman tambah energi, asal tidak berlebihan. Minum vitamin juga boleh, asal jangan over dosis.

Solusi kurang olah raga
Olah raga tidak harus berat. Bisa olah raga ringan. Antara lain jalan-jalan pagi Subuh, bersepeda onthel. Bahkan sebenarnya di sekolah/kampus/kantor juga bisa olah raga ringan. Tidak harus memakai pakaian olah raga. Dengan melakukan gerak-gerak tangan,kaki,tubuh, kepala, pergelangan tangan dan lain-lain dengan gerakan kecil dan secara teratur, itupun sudah olah raga ringan.

3.Ada gejala sakit
Gejala sakit juga mempengaruhi semangat walaupun itu sakit “ringan” seperti pilek, kepala pusing, sariawan dan penyakit-penyakit lainnya. Juga, bisa karena sakit berat.

Solusi sakit ringan
Biasanya penyakit ringan bisa diatasi sendiri. Misalnya meminum obat berupa cairan, tablet atau kapsul. Tentu, sebaiknya beli di apotek dan meminta informasi penggunaannya. Tentu, istirahat yang cukup.

Solusi sakit berat
Tak ada pilihan lain kecuali periksa ke dokter. Dan minum obat sesuai nasehat dokter. Tentu, harus diimbangi istirahat yang cukup.

4.Faktor usia
Faktor usia juga mempengaruhi turunnya semangat. Sebab, secara fisik usia tua memang tak selincah seperti masa mudanya. Semangat kadang-kadang menurun. Maksud faktor fisik yaitu misalnya tangan terasa kaku, pegal, linu, otot tegang, kram dan faktor-faktor gangguan fisik lainnya

Solusi karena faktor usia
Solusi terbaik yaitu olah raga ringan, makan makanan bergizi dan minum vitamin. Banyak orang usia tua tetap energik karena rajin olah raga, makan empat sehat lima sempurna serta minum vitamin yang cocok.

Solusi karena faktor fisik
Solusinya hampir sama dengan karena faktor usia. Cuma faktor fisik biasanya ada hubungan dengan kesehatan. Tak ada salahnya konsultasi dengan dokter.

5.Ada masalah
Seseorang yang punya masalah, apakah itu masalah ekonomi, masalah rumah tangga, masalah utang-piutang, masalah human relation, dan masalah-masalah lainnya. Bisa masalah nonpsikologis dan bisa masalah psikologis.

Solusi masalah nonpsikologis
Misalnya masalah ekonomi,hukum dan lain-lain, maka sesegera mungkin masalah itu diselesaikan secepatnya walaupun secara bertahap.

Solusi masalah psikologis
Semua masalah nonpsikologispun bisa mengakibatkan masalah psikologis. Bahkan masalah psikolispun demikian. Bisa berupa rasa galau, kacau, bimbang, ragu, stress, frustrasi, depresi dan semacamnya. Maka solusinya yaitu jangan menganggap semua itu sebagai beban, tetapi anggaplah sebagai tantangan. Selesaikan satu persatu secara bertahap.

B.Solusi secara umum
Apapun penyebab menurunnya semangat, maka secara umum bisa diatasi dengan tahapan-tahapan sebagai berikut.

1.Selesaikan masalah secara bertahap
2.Paksakan melakukan pekerjaan sesuai kemampuan
3.Jadikan rasa terpaksa sebagai kebiasaan
4.Jadikan kebiasaan sebagai motivasi
5.Jadikan motivasi untuk mendisiplinkan diri.

Kesimpulan

Jadi, kata kuncinya adalah “memaksakan diri” agar kita menjadi “disiplin”. Dengan demikian tiap kali semangat menurun, maka kita harus melakukan kelima tahapan tersebut.

Semoga bermanfaat.

Hariyanto Imadha
Pengamat perilaku
Sejak 1973

Oleh: psikologi2009 | Januari 31, 2012

PSIKOLOGI: Sepuluh Motivasi Menjadi Facebooker


SEMAKIN lama semakin banyak warga Indonesia yang bergabung ke jejaring sosial Facebook. Tentu, mootivasinya bermacam-macam. Secara umum, ada sepuluh motivasi mereka menjadi Facebooker. Apa saja itu?

Sepuluh motivasi menjadi Facebooker

1.Cuma ingin tahu
Yaitu Facebooker yang ingin tahu saja seperti apa sdih Facebook itu. Diapun membuat email,membuat akun FB, tetapi kemudian jarang membukanya. Juga jarang membuat status, komentar ataupun tanggapan. bahkan ada yang berbulan-bulan baru membuka akun FB-nya. Atau, termasuk sering membuka akun FB, tetapi Cuma ingin membaca status para Facebooker. Seringkali tidak dikomentari.

2.Mencari teman
Yaitu Facebooker yang memang punya motivasi untuk mencari teman sekolah atau mantan teman sekolah, teman kuliah atau mantan teman kuliah, teman sekantor atau mantan teman sekantor, teman sekota atau mantan teman sekota, teman seorganisasi atau mantan teman seorganisasi, teman baik, dan teman-teman lainnya.

3.Mencari pacar
Sekitar 60% Facebooker adalah kalangan remaja. Entah berapa persen, di antaranya pasti ada yang punya motivasi mencari pacar. Tidak hanya kalangan pelajar, tetapi juga kalangan mahasiswa. Dalam realita, memang banyak Facebooker yang menemukan pacar di FB. namun, tak jarang juga pacaran mereka berakhir dengan mengecewakan.

4.Mencari jodoh
Yaitu Facebooker yang ingin mencari jodoh. Tentu, kata-kata rayuannya tidak ditulis di status, melainkan di inbox Si Target. Bahkan tak jarang mereka memanfaatkan fasilitas chatting dan seterusnya. Memang, dalam realita, ada juga yang menemukan jodoh di FB ini.

5.Mencari selingkuhan
Yaitu Facebooker yang iseng. Menjadi Facebooker hanya untuk mencari teman selingkuhan. Biasanya menggunakan foto profil palsu, biodata palsu,nama palsu dan seterusnya. Kabarnya, ada juga yang berhasil menemukan pasangan selingkuhan. Tapi, pasti jumlahnya tidak banyak.

6.Curhat
Yaitu Facebooker yang memanfaatkan FB untuk sarana curhat. Biasanya ditulis di inbox milik Facebooker yang dipandang mampu memahami masalahnya. Misalnya curhat tentang masalah pribadi, masalah belajar, masalah kantor, masalah pernikahan, masalah psikologi, masalah bisnis dan masalah-masalah lainnya. Cara ini tidak buruk, bahkan merupakan langkah yang bijaksana.

7.Promosi
Yaitu Facebooker yang bertujuan memanfaatkan FB untuk memppromosikan bisnisnya. Namun harus hati-hati, terlalu sering memasang iklan di FB, bisa-bisa diremove atau dibloker Facebooker lain. Boleh saja memasang iklan, tetapi sebaiknya seminggu sekali saja.

8.Sharing
Yaitu Facebooker yang suka berbagi. Antara lain berbagi pengetahuan, ilmu pengetahuan, informasi, berita, dakwah agama, kata-kata mutiara, kata-kata bijak, artikel motivasi, berbagi gambar/foto/video,guyonan,kritik pencerahan dan status-status atau artikel-artikel lain yang bermanfaat bagi  Facebooker lain.

9.Kriminal
Yaitu Facebooker yang punya motivasi buruk atau dari komunitas yang kurang baik. Misalnya, adanya Facebooker yang bermaksud memperdaya Facebooker wanita, adanya kaum homoseks atau gay atau lesbian atau PSK yang menawarkan diri lewat inbox-inbox para Facebooker. Namun, mereka yang punya motivasi seperti ini sangat sedikit jumlahnya.

10.Lain-lain
Yaitu Facebooker yang punya motivasi lain. Misalnya, rajin membuka FB hanya untuk mencari informasi penting. Misalnya rencana reuni sekolah/kampusnya, undangan makan siang bersama, menyebarkan undangan ulang tahun, menyampaikan berita duka, mengabarkan kepindahan rumahnya dan motivasi-motivasi lainnya yang jumlahnya tidak begitu banyak.

Hariyanto Imadha
Pengamat Perilaku
Sejak 1973

 

Oleh: psikologi2009 | Januari 26, 2012

PSIKOLOGI: Sepuluh Perilaku Para Facebooker


WALAPUN jumlah Facebooker ada ratusan juta orang, namun sebenarnya perilaku mereka bisa dikelompokkan menjadi sepuluh perilaku. Perilaku ini sifatnya netral. Artinya, tidak dihubungkan dengan perilaku baik ataupun perilaku buruk. Sebab, baik atau buruknya perilaku ukurannya adalah norma. Sejauh sesuai dengan norma, maka perilaku tersebut baik. Sebaliknya, kalau tidak sesuai norma, maka perilaku tersebut buruk.

Sepuluh perilaku Facebooker

1.Abstract-isme
Yaitu Facebooker yang tidak punya ide yang bagus untuk menulis status. Akhirnya asal ketik dan asal bunyi saja. Tidak jelas apa maksus dan tujuannya.

Contoh:
“Prikitiew…prek-prok…Nggak ada ujan.Nggak ada ojek.Becek.”

2.Alay-isme
Yaitu Facebooker yang membuat nama profil atau username atau kata/kalimat yang neko-neko (aneh-aneh)

Contoh:
Nama : 34mb4n6 klewer-klewer
Kalimat : “@q gpp qoq. Titi DJ @z@,dech…”

3.Critic-isme
Yaitu Facebooker yang suka membuat status atau artikel kritik,

Contoh:
“Wah…Rupa-rupanya Partai Demokrat berubah nama menjadi Partai Demosekarat,ya?”

4.Info-isme
Yaitu Facebooker yang suka menyampaikan informasi kondisi desanya, kotanya, sekolahnya, kampusnya, kantornya dan semacamnya.

Contoh:
“Wah, entar malam ada band ST12 manggung di alun-alun,nih. Nonton,aaah…”

5.Joke-isme
Yaitu Facebooker yang suka bercanda. Selalu berusaha membuat status yang lucu dan menggelitik.

Contoh:
“Malam ini saya mau makan nasi goreng plus kroto goreng. Ditambah lagi sama sate kadal dan bothok tikus. He he he…”

6.Link-isme
Yaitu Facebooker yang suka membuat link/tautan yang di-copy paste dari blog atau website milik diri sendiri maupun milik orang lain.

Contoh:
Menempelkan link “http://wewegombel.com, dll.

7.Narsis-isme
Yaitu Facebooker yang suka memasang foto pribadinya dengan berbagai pose di mana saja dengan pose yang berganti-ganti

Contoh:
Hari ini memasang fotonya sewaktu di depan menara Eifel. Besok pasang fotonya sewaktu di kota Chiang Mai. Besoknya pasang lagi fotonya sewaktu di Hongkong. Dan seterusnya. Dan foto itu selalu ada dirinya.

8.Psikopat-isme
Facebooker yang kegemarannya suka mencela atau menyerang pribadi pembuat status.

Contoh:
“Elu kok sering pasang foto,sih! Narsis banget elu! Emangnye elu yang paling cantik di Facebook,ya?”

9.Religion-isme
Yaitu Facebooker yang suka memuat ayat-ayat suci agamanya. Atau sering menulis hal-hal yang berhubungan dengan agamanya.

Contoh:
Hari ini memuat salah satu ayat Al Baqarah. Besok Al Imron. Besok Al Maidah dan seterusnya. Atau status tentang agamanya sendiri. Status tentang mau shalat Jum’at. Status tentang ponpes. Dll.

10.Snob-isme
Yaitu Facebooker yang bersikap sok. Sok tahu, sok mengerti, sok pintar, sok kaya, sok keren, sok cantik/tampan, sok kaya, sok suci dan sok-sok lainnya. Mereka terkadang juga suka menggurui. Tidak mau mengakui ketidaktahuannya. Tidak mau mengakui kekurangannya.

Contoh:
“Mana mungkin menilai karakter Facebooker dari komen-komennya. Kan, para Facebooker bisa bersandiwara”. Jelas, komen demikian diucapkan Facebooker yang komennya mencerminkan ketidaktahuannya tentang psikologi, terutama psikolinguistik yang tekah berkembang jauh.

Nah, itulah sepuluh perilaku para Facebooker yang merupakan hasil observasi dan analisa bahasa komen  yang merupakan pengembangan dari psikolanguage.

Semoga menambah wawasan Anda.

Hariyanto Imadha
Facebooker/Blogger

Oleh: psikologi2009 | Januari 23, 2012

PSIKOLOGI: Program Keluarga Harapan (PKH) Tidak Mendidik


Program keluarga Harapan (PKH) merupakan suatu program penanggulangan kemiskinan. Kedudukan PKH merupakan bagian dari program-program penanggulangan kemiskinan lainnya. PKH berada di bawah koordinasi Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK), baik di Pusat maupun di daerah. Oleh sebab itu akan segera dibentuk Tim Pengendali PKH dalam TKPK agar terjadi koordinasi dan sinergi yang baik. Di beberapa negara, Program Keluarga Harapan (PKH) sebenamya telah dilaksanakan di berbagai negara, khususnya negara-negara Amerika Latin dengan nama program yang bervariasi. Namun secara konseptual, istilah aslinya adalah Conditional Cash Transfers (CCT), Begitulah, teorinya.

BLT yang berganti nama
Bantuan langsung tunai (BLT) yang sempat menghebohkan menjelang pemilu 2009 lalu, kini masih diteruskan oleh pemerintah SBY. Program bagi uang itu dikemas dalam program keluarga harapan (PKH).Hingga 2014, rencananya pemerintah akan menyalurkan bantuan langsung uang kepada sekitar 3 juta rumah tangga yang sangat miskin. Bantuan itu masuk dalam program penanggulangan kemiskinan yang lebih tepat sasaran.

Money politik terselebung
Seperti halnya BLT yang diberikan menjelang pemiilu 2009, maka PKH yang akan diberikan hingga 2014 juga bernuansa politis.

BLT bersyarat
Syarat mendapatkan PKH, rumah tangga sangat miskin itu harus memilik tanggungan anak yang masih sekolah dan yang mempunyai pendapatan kurang dari Rp344 ribu per orang setiap bulan.

PKH dinilai gagal mengentaskan kemiskinan
Kebijakan pemerintah menyalurkan dana sebesar Rp1,8 triliun untuk 1,5 juta keluarga miskin sebagai lanjutan program keluarga harapan (PKH) dinilai belum menjadi solusi untuk mengentaskan kemiskinan.

Besarnya PKH
Besarnya bantuan per keluarga berkisar dari minimum sebesar Rp 600.000 per tahun hingga maksimum Rp 2,2 juta per tahun. Besarnya bantuan berbeda-beda karena jumlah bantuan tergantung pada beberapa kriteria. Misalnya, apakah di keluarga itu ada anak balita atau ibu hamil dan menyusui. Usia anak yang bersekolah, apakah tingkat SD atau SMP, juga mempengaruhi besarnya bantuan.

Beda Bea siswa/mahasiswa di era Soeharrto dan di era SBY
Di era Soeharto, bea siswa/mahasiswa  hanya diberikan kepada siswa/mahasiswa yang berprestasi dan berasal dari keluarga miskin. Sedangkan di era SBY, juga diberikan kepada siswa/mahasiswa yang tidak berprestasi.

PKH Tidak mendidik
Syarat mendapatkan PKH terlalu sederhana, yaitu masyarakat miskin yang pendapatannya kurang dari Rp 344 ribu per orang setiap bulan dan memenuhi kriteria punya tidaknya anak balita atau ibu hamil dan menyusui, usia anak sekolah baik SD maupun SD. Jadi, cukup dengan “ongkang-ongkang kaki”, tanpa kerja keras,  masyarakat miskin mendapatkan uang. Inilah, yang dari sudut psikologi disebut tidak mendidik.

Masyarakat miskin sesungguhnya butuh pekerjaan
Sebetulnya masyarakat butuh pekerjaan permanen dengan honor, upah atau gaji yang tetap dan layak. Banyak pekerjaan sederhana yang bisa diberikan kepada mereka. Misalnya, sebagai penyapu jalan, tukang sampah dan sebagainya.

PKH yang mendidik
PKH dikatakan mendidik kalau PKH ditujukan atau diberikan kepada masyarakat miskin yang diberi pekerjaan sederhana tersebut. Dengan demikian ada unsur “susah payah” untuk mendapatkan bantuan tersebut.

Logika Machiavelli
Niccolo Machiavelli adalah seorang poliitikus Italia yang terkenal dengan pendapat “Tujuan menghalalkan segala cara”. walaupun tujuannya baik, tetapi kalau caranya salah, ttetap dianggap salah. Misalnya, Si A merampok bank, kemudian uangnya digunakan untuk membangun gereja. Tujuannya baik, tetapi caranya salah.

Demikian juga PKH, tujuannya baik, tetapi caranya salah. Tidak mendidik. Masyarakat menerima bantuan PKH hanya dengan cara “ongkang-ongkang kaki” saja. Kesalahan berlogika demikian disebut “Machiavelli Logic Error”

Bisa dijadikan sarana pencitraan
PKH lebih parah lagi kalau dijadikan bahan kampanye politik seperti halnya BLT menjelang pemilu 2009. PKH akan diiklankan habis-habisan di televisi sebagai program pro rakyat dan itu hanya menguntungkan parpol yang berkuasa. Padahal, pemerintah terdiri dari berbagai parpol. Dari sudut etika, seharusnya BLT maupun PKH tidak boleh dijadikan bahan kampanye politik.

Kesimpulan
Jadi, bisa ditarik kesimpulan bahwa PKH tujuannya baik, yaitu menghasilkan kedluarga yang mempunyai anak-anak yang mampu bersekolah hingga tingkat SD dan SMP. Jika perlu hingga lebih tinggi lagi. Tetapi, caranya salah dan tidak mendidik. Masyarakat miskin akan menjadi masyarakat peminta-minta dengan cara “ongkang-ongkang kaki”.

Sumber: Dari berbagai sumber.

Hariyanto Imadha
Facebooker/Blogger

Oleh: psikologi2009 | Januari 15, 2012

PSIKOLOGI: Memuji Orang Lain Bisa Mengurangi Stress


TIAP orang bisa dan pernah stress. Penyebab stress banyak. Cara mengatasi stress juga banyak. Yang pasti, rasa stress membuat hidup menjadi tidak nyaman. Orang bisa emosional. Bisa marah-marah. Bahkan bisa menjadi pemurung. Lantas bagaimana cara mengatasinya?

Kenapa orang bisa stress?
Seperti yang saya katakan di atas, penyebab stress cukup banyak. Namun secara umum, orang bisa stress karena tidak bisa menerima kenyataan. Tak bisa menerima realita. Tak bisa menerima fakta. Karena antara harapan dan keinginan tak sesuai dengam kenyataan yang terjadi.

Tiap orang suka dipuji
Adalah merupakan sifat yang sangat manusiawi bahwa tiap orang suka dipuji. Oleh karena itu, sikap memuji orang lain merupakan perbuatan yang menyenangkan. Namun, sikap suka memuji yang terlalu sering atau berlebihan, justru bisa meniumbulkan dampak negatif, sebab orang yang biasa memuji biasanya punya pamrih.

Memuji orang lain bisa mengurangi stress
Orang lain itu ibarat sebuah cermin. Apabila Anda memuji orang lain, maka orang lain akan merasa senang. Dan jika orang lain senang, maka Andapun akan merasa senang. Jika Anda merasa senang, maka rasa stresspun akan berkurang. Ibarat seorang pelawak, apabila lawakannya ditertawakan orang, berarti orang lain senang. Jika orang lain senang, pelawakpun merasa senang.

Mana mungkin orang stress bisa memuji orang lain?
Memuji atau tidak memuji tidak tergantung stress atau tidak stress. Orang yang tidak stress juga bisa memuji kalau ada kemauan untuk memuji. kalau tidak ada kemauan, orangpun tak bisa memuji. Demikian pula orang yang stress, jika ada kemauan untuk memuji, maka diapun bisa memuji orang lain.

Memuji saja belum cukup
Namun, memuji orang lain saja tidak cukup. Seseorang harus belajar menerima kenyataan. Misalnya, jalanan macet sehingga Anda merasa stress. Ya, apa boleh buat. Walaupun Anda berteriak-teriak histeris, jalanan tetap macet. Oleh karena itu kenyataan itu kita terima saja apa adanya. Mungkin kita bisa mengurangi stress itu dengan cara mendengarkan musik melalui ponsel, radio di mobil atau melalui media musik lainnya.

Memuji,menerima kenyataan dan bercanda
Lebih lengkap lagi, di samping kita memuji orang lain, menerima kenyataan, mendengarkan musik, kita juga bercanda. Dengan bercandapun kita bisa mengurangi rasa stress kita.

Semoga bermanfaat

Hariyanto Imadha
Facebooker/Blogger

JANGANKAN orang yang awam psikologi, mereka yang berpendidikan sarjana psikologi juga banyak yang tidak memahami maksud daripada judul itu. Bisa dimaklumi, sebab judul artikel ini tidak semata-mata psikologi, tetapi juga terkandung unsur bahasa (linguistik) dan ilmu filsafat.

Psikolinguistik
Ada yang namanya “psycholinguistic”, tetapi biasanya mempelajari bahasa anak-anak. Psikolinguistik meliputi proses kognitif yang memungkinkan untuk menghasilkan kalimat gramatikal dan bermakna keluar dari kosa kata dan struktur tata bahasa, serta proses yang memungkinkan untuk memahami ucapan-ucapan, kata, teks, dll Pengembangan kemampuan penelitian psikolinguistik anak untuk belajar bahasa .

Pendapat bisa diaplikasikan dalam bahasa tulis, bahasa lisan maupun bahasa tubuh (biasa dikenal dengan body language).

Body language
Sebuah teori yang mengajarkan bahwa tiap gerak tubuh seseorang, meliputi cara duduk, cara memegang gelas, raut muka dan seterusnya mencerminkan suasana emosi seseorang. Bisa mencerminkan kegembiraan, pandangan curiga, raut sinis, kesedihan, galau, gelisah dan semacamnya.

Oral language
Yang dimaksud oral language yaitu bahasa lisan. Ucapan-ucapan seseorang juga bisa menggambarkan emosi dan bahkan karakter seseorang. Antara lain ucapan yang sopan, kasar, kampungan, intelek, ancaman, pujian dan semacamnya.

Written language
Yaitu bahasa dalam bentuk tulisan. Bisa menggambarkan kesedihan, kesombongan, kesenangan, persuasif, motivasi, snob (sok tahu, sok mengerti, sok pintar, dll). Di sambing bisa memberikan gambaran tentang emosi juga karakter seseorang.

Merupakan indikator awal
Body language,oral language dan written language sesungguhnya merupakan indikator awal tentang emosi , motivasi maupun karakter seseorang. Untuk mendapatkan kesimpulan yang akurat, tentu perlu banyak data dan observasi langsung atau tidak langsung terhadap seseorang. Dan itu butuh waktu. Meskipun indikator awal, namun tingkat kebenarannya lebih dari 50%.

Pasti ada kekecualian dan penyimpangan
Ilmu apapun pasti ada kekecualian maupun penyimpangan. Hal ini biasa disebut “deviasi”. dalam statistik kita kenal istilah “standar deviasi”. dalam psikologi juga ada kekecualian-kekecualian.

Deviasi atau kekecualian
Bisa saja seseorang “bersandiwara” dalam bahasa body, oral maupun written (terutama dalam cerpen ataupun novel), namun yang pasti tidak semua orang yang berkomentar pasti “bersandiwara”. Deviasinya mungkin sekitar 10% saja.

Frekuensi
Jika kita mengamati bahasa tubuh, bahasa oral maupun bahasa written, tentu tidak cukup satu kali saja. harus berulang. Mungkin sepuluh kali, mungkin duapuluh kali. Kemudian kita cari konotasi persamaannya. Kita cari nada kalimatnya. Kemudian kita analisa.

Penerapan written language di Facebook
Di Facebook ada fasiltas status, komen ataupun tanggapan. Tentu semuanya tertulis. Kita bisa membaca dan disadari atau tidak, kita bisa merasakan “nada bicara” atau “warna emosinya” ataupun “nuansa motivasinya”. Jika kita punya beberapa data dan menganalisanya berkali-kali, maka kita akan mendapatkan “benang mrah” dari “karakter” Facebooker tersebut. Mungkin dia sombong, narsis, agamais, snob (sok tahu, sok mengerti atau sok pintar, cerdas, bodoh, bersifat menguji, rendah diri dan lain-lain).

Dasar teoritisnya
Kalau di dalam konteks ajaran carl Gustav Jung, bisa kita masukkan ke dalam salah satu teorinya. Misalnya: berkarakter introvert, ambivert ataupun ambivert dan seterusnya.

Indikator awal tentang karakter
Jadi, status,komentar ataupun  tanggapan di Facebook merupakan indikator tentang karakter Facebooker yang bersangkutan. Memang ada kekecualian, penyimpangan atau deviasi (karena Facebooker pandai berpura-pura atau menulis sesuatu tidak sesuai karakternya) namun jumlahnya sangat sedikit (kurang dari 10%).

Observasi sebagai tindak lanjut
Tentu, untuk membuktikan kebenaran indikator awal tersebut, perlu tindak lanjut berupa observasi, baik secara tidak langsung maupun langsung. Tidak cukup sekali. Harus berulang-ulang, hat-hati, cermat dan membutuhkan waktu.

Butuh dukungan ilmu pengetahuan lain
Supaya analisa psikologi memiliki tingkat kebanaran yang lebih tinggi, tentu butuh dukungan analisa dari ilmu pengetahuan lainnya.Antara lain, budaya, filsafat, agama, antropologi, sosiologi, ilmu komunikasi dan ilmu lain yang dianggap relevan dengan latar belakang objek yang dioberserasi dan dianalisa.

Sekitar 70% benar
Namun hasil penelitian menyebutkan bahwa analisa bahasa tubuh (body language), bahasa ucap (oral language) dan bahasa tulis (written language) terbukti mampu mencerminkan karakter seseorang. Tentu, ada deviasinya.

Hariyanto Imadha
Pengamat Perilaku
Sejak 1973

Oleh: psikologi2009 | Januari 10, 2012

PSIKOLOGI: Jangan Menganggu Privasi Seseorang


SAYA sering melihat dan bahkan mengalami masih adanya status-status, komentar-komentar atau tanggapan-tanggapan yang sangat menganggu privasi Facebooker. Yang dipersoalkan bukan tulisannya, tetapi siapa yang menulis. Dari sudut psikologi, hal tersebut tidak baik dan bisa melukai harga diri Facebooker dan menyebabkan adanya proses remove atau blokir.

Harus bisa membedakan domain semua, sebagian,beberapa atau tertentu

Domain “semua
Yaitu sebuah kata yang bicara pada umumnya dan tidak menyebut nama siapapun. Kata semua tentu merupakan hasil kesimpulan deduktif yang tidak bisa merupakan hal yang sebenarnya. Hanya merupakan “stereotype”.

Misalnya:
“Semua orang Indonesia sebenarnya malas bekerja. Kalau libur, senangnya bukan main”.

Domain “sebagian
Yaitu sebuah kata yang bicara sebagian dan tidak menyebut nama siapapun. Kata sebagian tentu berarti ada sebagian yang memang demikian dan ada sebagian yang memang tidak demikian.

Misalnya:
“Sekitar 70% anggota DPR adalah pengidap psikopat”.

Domain “beberapa
Yaitu sebuah kata yang biasanya ditujukan sekelompok kecil orang tanpa menyebut nama siapapun. Itu berarti ada sekelompok besar yang tidak demikian dan hanya sekelompok kecil yang demikian.

Misalnya:
“Beberapa anggota KPK pastilah ada yang tidak jujur”

Domain “tertentu”
Yaitu sebuah kata yang bicara pada sekelompok tertentu tanpa menyebut namanya dan itu tidak berlaku untuk kelompok tertentu lainnya.

Misalnya:
“Masyarakat yang tinggal di Kali Ciliwung merupakan masyarakat miskin dan hidupnya jorok. Membuang sampah ke Kali Ciliwung”.

Jadi, selama kata atau kalimat tersebut tidak menyebut nama seseorang atau beberapa nama orang, maka kata atau kalimat tersebut tidak perlu dipersoalkan, sebab itu masuk kategoro “kalimat abstrak” yang merupakan cara berpikir deduktif maupun induktif yang dilakukan melalui proses abstraksi.

Jangan mengganggu privasi seseorang
Tiap orang tentu punya “hak privasi”, walaupun hal tersebut diketahui banyak orang.

Misalnya:
1.Seorang Facebooker yang selalu menampilkan foto-foto pribadinya.
Ya, biarkan saja. Itu hak privasi dia.

2.Seorang Facebooker yang selalu menulis status-status dakwah dan menulis ayat-ayat suci.
Ya,biarkan saja. Itu hak privasi dia.

3.Seorang Facebooker yang selalu berbicara tentang cinta
Ya,biarkan saja. Itu hak privasi dia.

4.Seorang Facebooker yang suka mengeluh dan curhat
Ya,biarkan saja. Itu hak privasi dia.

5.Seorang Facebooker selalu mengritik (menunjukkan kesalahan pemerintah)
Ya, biarkan saja. Itu hak privasi dia.

Boleh komentar,tapi jangan melarang
Jadi, jika Anda membaca status para Facebooker yang bicara tentang apa saja, ya biarkan saja. Suka atau tak suka, Anda tidak berhak melarangnya, kecuali statusnya bernada melanggar hukum atau norma-norma.

Komentar yang tidak baik
Komentar-komentar yang tidak baik di Facebooker, apalagi mempersoalkan penulis status secara negatif, merupakan kondisi psikologis negatif para komentatornya. Antara lain, mungkin penulis komentar sedang stres, negative thinking, snob, tidak memahami masalah atau bahkan sedang mengidap psikopat..

Komentar yang baik
Komentar yang baik di Facebook harus bersifat menyenangkan pembuat status. Jangan sesekali membuat pembuat status tersinggung, harga dirinya terasa dilecehkan, menggurui dan hal-hal lain yang menyangkut hak privasi seseoranf Facebooker. Oleh karena itu, komentar yang baik adalah komentar yang menyenangkan. Misalnya, komentar yang bernada bercanda atau lucu-lucu. Atau cukup klik “Suka”.

Hariyanto Imadha
Pengamat Perilaku
Sejak 1973

Oleh: psikologi2009 | Januari 8, 2012

PSIKOLOGI: Berpikir Kreatif Menjelang Tidur Malam


KEBANYAKAN, sebelum tidur malam pikiran kita melayang ke mana-mana. Melamun atau menghayal tanpa tujuan yang jelas. Atau mengingat kejadian-kejadian hari ini. Atau, membayangkan hal-hal yang akan terjadi besok. Atau bahkan bernostalgia tentang masa lalu yan sudah berlalu lama sekali. Tentu, semua pikiran-pikiran itu tak menghasilkan apa-apa.

Kenapa harus menjelang tidur malam?
Menjelang tidur malam adalah merupakan tahap istirahat di mana kerja otak tak seberat siang hari di mana otak harus berbagi mengatur gerakan-gerakan tubuh untuk bekerja dan mengatur proses berpikir sekaligus. Sedangkan menjelang tidur malam, otak tak dibebani untuk memanajemeni gerakan-gerakan tubuh atau fisik . Dengan kata lain, daya otak cukup besar dan bisa dikonsentrasikan untuk berpikir kreatif.

Bukankah menjelang tidur kita dikuasai rasa kantuk?
Betul.Tetapi,maksud artikel ini tidak pada tahapan mengantuk. Tapi tahapan ketika baru saja merebahkan tubuh di tempat tidur. Yaitu pada tahapan istirahat malam menjelang tidur.

Manfaat berpikir kreatif menjelang tidur
Padahal, sebenarnya, banyak hal baru yang akan kita temukan apabila kita berpikir kreatif menjelang tidur. Atau, kita akan menemukan sebuah solusi dari masalah yang kita hadapi. Atau, kita akan mendapatkan inspirasi baru tentang sebuah bisnis yang sangat menguntungkan. Atau…..lainnya yang sangat bermanfaat.

Cara memulai berpikir kreatif menjelang tidur
Tentu, tergantung tjuan kita masing-masing. Kalauu misalnya punya masalah, cobalah umbar pikiran Anda untuk mencari alternatif solusi sebanyak-banyaknya. Pilih satu dua alternatif solusi yang menguntungkan atau bisa Anda lakukan secara nyata.

Inspirasi bisnis
Atau, carilah alternatif bisnis yang kira-kira sesuai dengan kemampuan Anda. Pikirkan bisnis-bisnis orang lain. Pikirkan apa yang disukai orang banyak. Berapakah modal yang harus Anda butuhkan. Bagaimana cara Anda mengelolanya. Di manakah lokasinya. Anda akan menyewa ruko atau usaha di rumah sendiri. Terus, gali terus pikiran-piliran kreatif Anda. Hingga saatnya Anda akan menemukan sebuah alternatif bisnis yang tepat untuk Anda.

Sumber inovasi
Jika Anda seorang yang suka membuat sesuatu produk, coba bayangkan apa yang jadi masalah yang dihadapi tiap orang. Misalnya, banyak orang naik bus TransJakarta busway yang berdiri. bayangkan sebuah kursi lipat super mini yang bisa diduduki sambil berdiri. Atau, bayangkan sebuah payung yang bisa dipakai dua orang, misalnya berpentuk empat persegi panjang. Bayangkan kalau Anda pergi ke kota lain, kemudian Anda membawa sepeda lipat super mini ciptaan Anda sehingga di kota tempat tujuan tak perlu banyak keluar uang untuk ojek ataupun becak. Carilah masalah yang dihadapi orang lain. Kemudian bayangkan produk baru yang bisa memberikan solusi. Syaratnya, produk inovasi belum pernah ada. Atau, produk itu sudah ada, tetapi Anda modifikasi.

Gali masalah diri sendiri
Tentu Anda pasti punya masalah. Mungkin tentang penyakit Anda. Nah, bagaimana cara Anda mencegah supaya penyakit Anda tidak semakin parah? Atau bagaimana cara Anda tidak ketularan penyakit di angkot, misalnya harus memakai masker atau saputangan penutup hidung. Atau Anda punya masalah banyak kerjaan di rumah padahal Anda tidak punya pembantu rumah tangga, cari solusi supaya Anda bisa mengerjakan pekeraan-pekerjaan rumah secara praktis dan cepat.

Nah, mulai hari ini. Biasakanlah Anda berpikir kreatif menjelang tidur, terutama tidur malam. Segera temukan ide-ide baru. Buatlah secepatnya agar ide-ide itu menjadi sebuah kenyataan dan jangan Anda tunda-tunda lagi.

Akhirnya Anda akan melihat, tiap hari selalu ada hal yang baru. Setiap hari selalu ada temuan baru. Tiap hari selalu ada solusi baru. Tiap hari selalu ada produk-produk inovatif yang baru.

Dari sudut psikologi,hidup Anda akan menjadi semakin bermanfaat dan menyenangkan.

Hariyanto Imadha
Facebooker/Blogger

Oleh: psikologi2009 | Januari 3, 2012

PSIKOLOGI: Kekerasan Merupakan Manifestasi Kebodohan

MANUSIA diciptakan Tuhan sebagai mahluk yang paling sempurna di muka bumi ini. Sempurna dalam arti, manusia dibekali otak yang cerdas bila dibandingkan mahluk lain, terutama hewan. Meskipun demikian, manusia juga dibekali emosi. Otak dan emosi saling berinteraksi. manakala otak berpikiran negatif, maka emosipun bersifat negatif, bahkan lebih negatif. Energi otak justru bisa berpindah ke emosi.

Mahluk rasional

Manusia sesungguhnya mahluk yang rasional. mampu berpikir rasional. mampu membedakan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. mana yang baik dan mana yang buruk. Bisa membedakan. Namun, berpikir baik ataupun buruk dikendalikan oleh motivasi masing-masing. Tergantung ego masing-masing.

Mahluk emosional

Emosi bisa dalam arti yang baik, yaitu berupa cinta, rasa kagum, rasa gembira, keinginan untuk melukis, membuat lagu yang indah dan semacamnya. Namun, emosi juga bisa berkonotasi negatif. Yaitu, rasa marah, iri, cemburu, benci, keinginan untuk merusak, keinginan untuk menghancurkan dan semacamnya.

Faktor lingkungan

Salah teori psikologi mengatakan bahwa, lingkungan lebih mempengaruhi perilaku manusia daripada faktor bawaan atau keturunan. Jika lingkungannya buruk, maka perilakunyapun bisa buruk. Jika lingkungannya baik, maka bisa jadi seseorang akan memiliki perilaku baik.

Tergantung pengendalian diri

Namun, sesungguhnya, baik buruknya perilaku manusia tergantung pengendalian diri masing-masing orang. Artinya, walaupun rajin shalat dan sudah naik haji, tetapi kalau pengendalian dirinya lemah, bisa saja seseorang melakukan korupsi. Sebaliknya, seseorang bisa saja berperilaku baik karena mempunyai perilaku yang baik. Walaupun situasi lingkungannya buruk, tetapi karena pengendalian dirinya baik, maka seseorang tidak akan terpengaruh oleh lingkungan yang buruk.

Ada hubungannya dengan kualitas otak

Ternyata, pengendalian diri tergantung dan ditentukan kualitas otak. Otak yang kuat dan cerdas dan biasanya mempunyai pengendalian diri yang kuat. Otak akan mengendalikan emosi dan bukan emosi yang menguasai otak.

Kekerasan merupakan cermin kebodohan

Dengan demikian, maka jelaslah, hanya otak yang cerdas yang mampu menyelesaikan persoalan atau masalah secara bijak. mampu melakukan negosiasi secara efektif, mampu melakukan komunikasi yang optimal, mampu mencari dan menemukan titik temu dan mampu membuat keputusan yang bersifat “:win win solution”

Kesimpulan

Dengan demikian, semua perilaku kekerasan, anarki, merusak, menyakiti fisik orang lain bahkan tindakan brutal, merupakan cermin manusia-manusia yang bodoh, tolol atau dungu. Sebab, otaknya dikuasai emosi. Otaknya tak mampu mengendalikan emosi. Dengan kata lain, kualitas otaknya rendah,IQ-nya rendah, bodoh, tolol atau dungu.

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Oleh: psikologi2009 | Desember 30, 2011

PSIKOLOGI: Mengenal Pribadi yang Impulsif

PSIKOLOGI adalah ilmu yang mempelajari “perilaku kejiwaan”. Oleh karena itu, dengan mudah kita bisa mengenali pribadi-pribadi yang kita hadapi. dari perilaku fisiknya dan dari ucapan-ucapannya. Terkadang kita tak menyadari bahwa kita ternyata berpribadi impulsif. Atau, kita bisa melihat orang lain ternyata berpribadi impulsif.

Apakah pribadi impulsif itu?

Pribadi impulsif adalah perilaku manusia yang tiba-tiba berubah, tiba-tiba di luar rencana, atau sebuah sikap yang tidak didukung alasan yang kuat. Dan pada umumnya sikapnya tergolong irrasional.

Ciri-ciri pribadi impulsif

Kalau bicara atau berbuat seringkali tidak disertai alasan-alasan atau penalaran-penalaran

Contoh 1 (Impulsif ringan)

Si A adalah seorang iibu rumah tangga. Seminggu sekali belanja ke Pasar Moderen ataupun ke Indomaret atau ke Alfamart. Semua yang akan dibeli sudah dicatat secara baik-baik. Namun, ketika tiba di tempat tujuan, dia melihat barang yang baginya menarik, padahal tidak tercatat di dalam  rencana pembelian. maka, dibelilah barang iitu di luar rencana semula

Contoh 2 (Impulsif sedang)

Si B adalah tetangga kita. Semula sikapnya baik terhadap kita. Tiba-tiba sikapnya berubah. Acuh tak acuh. Tak pernah menyapa. Tak pernah mengucapkan “good morning” ataupun “assalamu’alaikum”. Alasannyapun kita tidak tahu. Untunglah dia pernah kepada Si C dan suatu saat Si C bercerita kepada kita bahwa Si B mendiamkan kita karena mengira kita membeli mobil baru dari uang korupsi. Padahal, kita membeli mobil itu secara halal.

Contoh 3 (Impulsif berat)

Si D seorang mahasiswa. Punya pacar mahasiswi namanya Si E. Semula mereka akur-akur saja. Di mana ada Si D, pasti ada Si E. Namun, entah kenapa, Si E tiba-tiba suka marah-marah. Kalau ditanya apa alasannya marah-marah, maka Si E memberi alasan yang tidak jelas. bahkan berubah-ubah. bahkan seringkali tidak ada alasannya sama sekali.

Kenapa seseorang bersikap repulsif?

Seseorang bisa bersikap repulsif karena lemahnya pendirian. Lemahnya prinsip. Lemahnya kemauan. Biasanya belum memiliki kestabilan emosi. Biasanya terjadi pada wanita atau anak-anak. Meskipun demikian, kaum pria juga bisa memiliki kepribadian ini.

Pribadi impulsif itu positif atau negatif?

Kalau terlalu sering bersikap impulsif, tentu negatif. Tetapi kalau tidak sering atau kadang-kadang, tidak begitu masalah. Namun, lebih bagus lagi kalau tidak pernah bersikap impulsif.

Bagaimana cara mengatasi sikap impulsif?

Tentu harus latihan bersikap disiplin pada rencana semula.Harus latihan melakukan sesuatu dengan alasan-alasan yang kuat. Kenapa begini kenapa begitu, harus ada alasannya yang kuat. Kenapa tidak harus begini dan tidak harus begitu, harus didukung penalaran yang rasional dan masuk akal. Artinya, tiap hal yang kita lakukan harus ada alasan dan tujuannya yang jelas. Dan ada manfaatnya.

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.