ORANG yang tak faham psikologi sering mengatakan, tak ada hubungan antara nama seseorang dengan sifat seseorang. Pendapat ini bisa benar bisa salah. Sebab, dalam kenyataannya, nama seseorang bisa mempengaruhi perilaku dan sifat seseorang.
Beberapa contoh
1.Nama Pariyem
Sewaktu di desa, dia bernama Pariyem. Namun setelah pindah ke Jakarta dan sukses membuka salon kecantikan, dia merasa rendah diri dan suka marah-marah akibat namanya. Artinya, nama “Pariyem” mempengaruhi cara berpikirnya. Apalagi, teman-temannya sering mengejek namanya. Maka, diapun kemudian mengubah namanya menjadi “Paramitha”. Dan sejak itu dia merasa “pede” dan tidak pernah marah-marah lagi karena tiidak ada temannya yang meledeknya lagi.
2.Nama Mathias Muchus
Sebenarnya sih, nama aslinya cuma Mathias. Sewaktu dia masuk di Akademi Bahasa Asing, dia harus ikut PIMA atau Ospek. Dia harus memakai nama “bagus”, yaitu “ingus” yang harus di-bahasa Ingggeriskan. Bahasa Inggeris “ingus” yaitu “mucus” (baca:myu-kes). Karena tahun 1977 hurut “tj” diganti “c”,maka kata “mucus” dibaca “mutjus” menurut ejaan lama atau “mucus” atau “muchus”.Tingkah lakunyapun berubah. Akhirnya dia pindah ke Akademi Sinematografi dan akhirnya menjadi bintang sinetron.
3.Nama Hariyanto Imadha
Nama asli saya sih Hariyanto. Namun dengan nama ini saya sering sakit dan tidak punya prestasi apa-apa.Sewaktu SMA saya sering membuat cerpen di buletin sekolah dengan nama Imadha. Sejak saat itu saya punya banyak prestasi. Antara lain, sesudah lulus SMA, saya mampu kuliah di 6 perguruan tinggi sekaligus,meraih anugerah award sebanyak 7 (tujuh) buah award, dll. Sifat saya sebelum SMA dan sesudah SMA-pun banyak berubah.
4.Banyak orang sukses karena mengganti atau mengubah nama
Beberapa di antaranya, Tukul Arwana , Polo (pelawak Srimulat), Taufik Savalas, Yuni Shara dan banyak lagi.
Aspek psikologi
Penalarannya adalah, orang yang mempunyai nama, karena sesuatu hal, akan mensugestikan dirinya sendiri sehingga sifatnyapun berubah. Sebab, nama seseorang dan pribadi seseorang adalah merupakan kesatuan yang utuh.
Banyak faktor
Nama seseorang memang bisa mempengaruhi sifat seseorang, tetapi tidak pasti mempengaruhi sifat seseorang. Sebab, sifat seseorang disebabkan banyak faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Kedua faktor itu sedkit banyak pasti mempengaruhi cara berpikir seseorang dan cara berpikir seseorang bisa mempengaruhi perilakunya. Dan perilaku yang sering terulang bisa merupakan sifat seseorang.
Logika yang sempit
Jadi, pendapat yang mengatakan nama seseorang tidak ada hubungannya dengan sifat seseorang merupakan kalimat yang kurang tepat. Kalimat seharusnya adalah nama seseorang bisa mempengaruhi atau tidak mempengaruhi perilaku dan sifat seseorang.
Jangan salah mengartikan
Tapi,jangan salah mengartikan bahwa nama Si A sifatnya demikian, nama Si B sifatnya demikian atau nama Si C sifatnya demikian. Bukan seperti itu maksud daripada artikel ini.Artikel ini bicara tentangg hubungan: nama-pengaruh psikologi-sugesti-motivasi-perilaku-sifat.
Kurangnya pemahaman tentang psikologi
Anggapan bahwa nama tak ada hubungannya dengan sifat tentu harus dipahami secara kritis. Sebab, banyak orang Islam di Indonesia yang menamai bayi atau anak-anaknya dengan nama Islam. Kenapa dinamakan Zahra,kenapa dinamakan Falih kenapa dinamakan Yusuf. Kenapa tidak dinamakan saja Tulkiyem,Bejo atau Tarjo?
Sebuah kemunafikan
Adalah sebuah kemunafikan jika di satu pihak mengatakan nama tidak ada hubungannya dengan sifat, tetapi di satu pihak menamai anaknya dengan nama-nama Islam. Sebuah kemunafikan lagi jika orang yang punya nama bagus tidak mau diganti dengan nama yang jelek.Maukah orang yang bernama “Muhammad” diganti dengan nama “Tahi Kebo”?
Kesimpulan
Dari sudut pandang psikologi, sebuah nama bisa memberikan sugesti bagi pemilik nama. Dan sebuah sugesti bisa mempengaruhi perilaku seseorang. Dan perilaku yang terulang bisa merupakan sifat seseorang. Jadi, nama seseorag bisa mempengaruhi sifat seseorang.
Catatan:
Artikel ini harus Anda baca dengan teliti supaya Anda tidak mengambil kesimpulan yang keliru. Apalagi kalau Anda tak memahami psikologi dan ilmu logika.
Hariyanto Imadha
Penggamat Perilaku
Sejak 1973















