Oleh: psikologi2009 | Juli 2, 2013

PSIKOLOGI: Orang Yang Merasa Dirinya Tidak Sombong Justru Orang Yang Sombong

FACEBOOK-PsikologiOrangYangMerasaDirinyaTidakSombongJustruOrangYangSombong

SOMBONG. Perilaku negatif yang tidak disukai orang. Orang sombong, sedikit temannya. Orang sombong, dijauhi orang. Masalahnya, sombong itu apa? Orang yang sombong itu yang bagaimana? Apakah orang sombong merugikan orang lain? Kenapa orang menjadi sombong? Apakah sombong itu penyakit? Dan banyak hal tentang sombong. Ada hal-hal yang sudah kita ketahui tetapi ada pula hal-hal yang belum kita ketahui. Akibatnya, banyak orang memvonis orang lain sombong, padahal dirinya juga bisa dinilai orang lain sebagai orang sombong. Bahkan banyak orang tidak tahu bahwa orang yang merasa dirinya tidak sombong justru orang yang sombong.

A.Di bawah ada beberapa kejadian yang harus diperhatikan dan dianalisa secara cermat.

1. Sombongkah tetangga saya?

Saya punya tetangga depan rumah. Salah satunya seorang remaja. Tiap kali bertemu dengan saya, selalu memalingkan muka. Pura-pura tidak tahu. Perilakunya sama dengan ketua RT saya yang baru. Walaupun bertemu di jalan, tetap cuek. Sombongkah dia?

Saya yang lebih tuapun mencoba menegurnya dan dia mau membalas teguran saya. Kalau begitu, kenapa selama ini kalau bertemu dengan saya pura-pura tidak tahu? Kemungkinannya banyak. Antara lain, sejak kecil memang tidak pernah diajari menyapa orang lain terutama yang lebih tua. “Clingus” (rasa ingin menegur tetapi takut kalau tidak dibalas, malu, enggan, merasa rendah diri atau karena sudah menjadi kebiasaan buruk yang sulit dihilangkan). Jadi yang terjadi selama ini, remaja itu tetap bisa diajak berkomunikasi dengan baik. Tetapi, tetap saja kalau bertemu di jalan tidak menyapa saya. Sombongkah dia? Tidak. Pembawaannya memang begitu (clingus) atau kuper (kurang pergaulan).

2. Mengendarai moge HD sombongkah?

Seorang sahabat saya kadang-kadang bertemu saya tiap Sabtu atau Minggu. Saya memakai motor tiga roda berkanopi sedangkan teman saya memakai moge (motor gede) HD. Tiap kali bertemu dengan saya, dia selalu meledek :” Beli HD yang harganya ratusan juta, dong!. Buat apa naik motor tiga roda yang harganya murah? Ha ha ha…!”. Dia meledek. Sombongkah dia?

Karena saya sudah mengenalnya puluhan tahun, maka saya tahu dia bukanlah sombong. Dia sahabat baiknya. Sejak dulu memang dia suka bercanda dengan cara meledek. Tidak menyakitkan hati karena sejak dulu gaya bercandanya seperti itu. Saya memakluminya. Jadi, dia bukanlah orang sombong. Gaya bercandanya memang begitu.

3. Ada gelar sarjana di kartu namanya

Seorang sahabat saya pernah bercerita. Ketika dia dipindahtugaskan ke Sulawesi Selatan,maka hari pertama berkenalan dengan karyawan lama, diapun membagi-bagikan kartu namanya. Ternyata ada yang nyeletuk :” Sombong amat. Mentang-mentang sudah bergelar S1 dan S2″.

Sahabat saya terkejut mendapat respon seperti itu. Padahal maksudnya adalah memperkenalkan diri supaya karyawan-karyawan lama tahu namanya, alamatnya, nomor teleponnya dan lain-lain. Jadi, niatnya bukanlah untuk menyombongkan gelar sarjananya.  Kalau memang kejadiannya, maka tidak bisa sahabat saya dikatakan sombong. Penilaian sombong muncul akibat kesalahpahaman saja.

4. Mengamalkan ilmu dianggap sombong

Saya memang punya pengetahuan banyak. Karena saya punya hobi menulis, maka sayapun sering membuat artikel di blog pribadi, blog pihak lain, di Facebook, surat kabar dan lain-lain. Untuk artikel kritik memang saya menggunakan gaya sarkasme sebab kritik saya tergolong kritik “keras”. Bahkan tak jarang saya menggunakan kalimat bernada membodoh-bodohkan. Ternyata, melalui inbox ada yang mengatakan saya ini sombong. Betulkah saya sombong?

Di dalam membuat status, artikel dan tulisan lainnya, tak ada niat untuk menyombongkan diri. Gaya bahasa sarkasme memang bisa memberi kesan itu. Gaya sarkasme sengaja saya pilih karena kalimatnya langsung “mengena”. Langsung “terasa”. Bukan sekadar menyalahkan, tetapi mengoreksi sesuatu yang selama ini dianggap benar oleh masyarakat padahal sesungguhnya tidak benar. Atau, menulis hal-hal yang belum dipahami masyarakat. Jadi, sifatnya adalah mengamalkan pengalaman, pengetahuan dan atau ilmu pengetahuan yang saya miliki dan memberikan pencerahan.

5. Membanggakan kekayaan termasuk sombongkah?
Hal ini biasanya terjadi dikalangan para penguasa, pemimpin, konglomerat, pengusaha, dan para pejabat negara serta keluarga mereka. Mereka membanggakan kedudukan dan hartanya sehingga merendahkan dan melecehkan orang lain.

Memang orang kaya punya segalanya. Punya rumah mewah, punya mobil mewah. Kalau mereka sering keliling kota menggunakan mobil mewah, apakah mereka orang sombong? Kalau seseorang punya rumah mewah sedangkan tetangga-tetangganya rumahnya sederhana, apakah dia termasuk sombong? Kalau dia menceritakan rasa bangganya atas kekayaannya, apakah dia termasuk sombong.

Kalau ternyata dia dalam posis menikmati kesuksesannya atas jerih payahnya berusaha secara halal atau berbisnis secara halal sehingga dia kaya raya, maka sebenarnya dia dalam posisi buan sombong, tetapi menikmati kesuksesan.

A.Definisi sombong

Kalau begitu, sombong itu yang bagaimana?

 a.Menghargai diri secara berlebihan; congkak; pongah: tabiatnya agak aneh, sebentar — sebentar rendah hati (Sumber: http://kamusbahasaindonesia.org/sombong)

b. Rasulullah SAW: Sombong adalah “Perbuatan melecehkan orang lain dan menolak kebenaran” (HR Muslim dan Tirmidzi).

c. Sombong adalah keadaan seseorang yang merasa bangga dengan dirinya sendiri. Memandang dirinya lebih besar dari pada orang lain, Kesombongan yang paling parah adalah sombong kepada Rabbnya dengan menolak kebenaran dan angkuh untuk tunduk kepada-Nya baik berupa ketaatan ataupun mengesakan-Nya”. (Fathul Bari’ 10/601)

C.Ciri-ciri sombong

Dari definisi tersebut maka ciri-ciri orang sombong yaitu:

1.Menghargai diri sendiri secara berlebihan (termasuk narsis)

Bukan sombong: Menyadari bahwa dirinya memang mempunyai kelebihan dari pada orang lain dan berniat mengamalkan kelebihannya itu.

2.Melecehkan orang lain

Bukan sombong:  Mengatakan bodoh kepada orang yang memang bodoh dengan tujuan memotivasi agar orang bodoh mauu berusaha untuk tidak menjadi bodoh.

3.Selalu merasa benar sendiri

Bukan sombong: Ada orang yang memang dalam posisi selalu benar. Ada argumentasi atau penalaran yang benar dan berdasarkan fakta.

4.Menolak kebenaran

Bukan sombong: Jika tidak sependapat dengan orang lain karena dari sudut ilmu logika pendapat orang lain memang tidak benar.

5.Tidak mau menghargai pendapat orang lain

Bukan sombong : Apabila pendapat orang lain memang salah dan ada argumentasi atau penalarannya yang bisa dipertanggungjawaban.

D.Sumber kesombongan

-Harta kekayaan

-Keturunan orang penting

-Amal atau ibadah

-Ketampanan atau kecantikan

Kesimpulan

1. Kita harus hati-hati untuk menilai orang lain, sombong atau tidak. Harus kita ketahui motivasi atau tujuannya. Kalau tujuannya adalah memberikan pencerahan dan kebenaran, maka itu bukanlah kesombongan.

2.Orang  yang merasa dirinya tidak sombong justru adalah orang yang sombong. Sebab, perasaan itu merupakan perasaan sok bersih, sok jujur, sok alim dan merasa hanya orang lain yang bisa sombong.

Semoga bermanfaat.

Hariyanto Imadha

Pengamat Perilaku

Sejak 1973

About these ads

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 45 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: