Oleh: psikologi2009 | Mei 4, 2011

PSIKOLOGI: Hati Nuranipun Bisa Salah !

SEWAKTU Pemilu 2009, walaupun saya golput, saya tetap datang ke TPS walaupun di bilik suara saya tak memilih siapa-siapa. Sesudah keluar dari bilik suara, saya ngobrol-ngobrol dengan para pemilih yang belum memilih.

Saya tanya, mereka akan memilih berdasarkan apa? Berdasarkan figur, partai favorit, kira-kira, asal-asalan, visi misi, terpengaruh iklan, terpengaruh hasil survei ataukah berdasarkan hati nurani? Ternyata, kebanyakan mereka menjawab memilih berdasarkan hati nurani. Namun ketika saya tanya, hati nurani itu apa, mereka tak bisa memberikan penjelasan yang memuaskan saya.

Apakah hati nurani itu?

Menurut kepercayaan China yang tertuang dalam buku Zhuan Falun, dikatakan manusia mampunyai :

-Zhu Yuanshen (Jiwa Utama) dan

-Fu Yuanshen (Jiwa Sekunder) yang menguasai satu tubuh.

Jumlah Fu Yuanshen berbeda-beda ada yang mempunyai satu, dua, tiga, empat, bahkan lima. Tubuh manusia jika tidak ada Yuanshen, tidak ada tabiat, watak dan karakter, bila tanpa semua ini hanya merupakan segumpal daging, dia tidak akan menjadi seorang manusia yang lengkap dengan kepribadian mandiri.

Fu Yuanshen atau jiwa sekunder, yang berada di dimensi lain dapat melihat hakikat suatu urusan, tahu mana yang salah dan yang benar, tidak dibuat sesat oleh masyarakat manusia.

Sedangkan Zhu Yuanshen (Jiwa Utama) mudah tergoda oleh nafsu duniawi. Untuk manusia yang mempunyai bawaan dasar baik mudah dikendalikan oleh kehidupan tingkat tinggi, Fu Yuanshennya juga berasal dari tingkat tinggi. Semakin tinggi tingkat Fu Yuanshennya berasal, hal-hal yang diketahui semakin sesuai dengan kebenaran dari prinsip-prinsip Tuhan. Sedangkan untuk manusia yang bawaan dasarnya rendah mudah dipengaruhi oleh informasi dari kehidupan tingkat rendah yang menyesatkan

Sumber: http://erabaru.net/kehidupan/41-cermin-kehidupan/5830-apakah-hati-nurani-itu

Komentar

Teori Zhu Yuanshen (Jiwa Utama) dan Fu Yuanshen (Jiwa Sekunder) membingungkan, karena terkesan manusia punya dua jiwa. Di dalam kontek agama Islam maka teori itu tidak tepat karena Islam hanya mengenal satu jiwa saja.

Lantas, hati nurani itu apa?

Apakah hati nurani itu indera keenam? Ataukah intuisi? Atau firasat? Atau bisikan malaikat? Atau bisikan Tuhan? Atau kira-kira saja? Atau kata hati? Semua itu tempatnya di mana, di pikirankah (otak), di perasaankah (emosi)?

Hati nurani merupakan objek bahasan psikologi

Kalau kita baca buku-buku psikologi, maka sebagian besar memasukkan hati nurani di dalam kontek perasaan atau emosi. Bukan otak atau pikiran. Hati nurani merupakan emosi yang sangat cepat mengambil keputusan sedangkan otak memerlukan proses berpikir sebelum mengambil keputusan.

Prof Dr Hare, pakar psikologi, dalam bukunya berjudul “Without Concience” (Tanpa Hati Nurani) berulang-ulang mengatakan bahwa hati nurani seringkali bersentuhan dengan norma.

Apakah norma itu?

Norma adalah aturan-aturan standar yang ttelah diakui mayoritas komunitas. Antara lain, norma sosial, norma hukum dan norma agama.

Yang mempengaruhi hati nurani

Jangan lupa, hati nurani juga bisa tumpul dan juga bisa kurang peka. Tingkat kepekaan seseorang terhadap suatu hal tidaklah sama. Ada yang memikliki kepekaan sangat tinggi, sedang dan rendah atau tumpul.

Hati nurani bisa benar bisa salah

Dengan ddemikian, jika manusia memiliki tingkat kepekaan yang tinggi, maka keputusannya pasti benar. Jika tingkat kepekaannya sedang, maka bisa benar bisa salah. Jika kepekaannya rendah atau tumpul, maka keputusannya banyak salahnya.

Ukuran kebenaran adalah epistemologi

Ukuran kebenaran bukanlah hati nurani, melainkan epistemologi. Epistemologi adalah ilmu logika material yang mempelajari cara berpikir benar berdasarkan fakta yang ada. Fakta itu didukung oleh norma sosial atau norma hukum atau norma agama.

Pengujian

Kalau Anda tetap “ngeye;” hati nurani tak mungkin salah, coba Anda kerjakan semua soal Ujian Nasional (UN) menggunakan hati nurani Anda. Bisa tidak?

Kesimpulan

-Dengan demikian, hati nurani bisa benar dan bisa salah tergantung tingkat kepekaan seseorang

-Ukuran kebenaran adalah epistemologi berdasarkan ilmu logika material yang didukung fakta norma sosial atau hukum atau agama.

-Tentu, kebenaran tertinggi hanya dimiliki Allah swt

Sumber gambar: semuatentanghas.blogspot.com

Hariyanto Imadha

Pengamat perilaku

Sejak 1973

Iklan

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: