Oleh: psikologi2009 | Mei 14, 2011

PSIKOLOGI: 70% Manusia Pernah Mengalami Déjà Vu Termasuk Anda!

DÉJÀ VU adalah sebuah frasa Perancis dan artinya secara harafiah adalah “pernah lihat”. Maksudnya mengalami sesuatu pengalaman yang dirasakan pernah dialami sebelumnya. Fenomena ini juga disebut dengan istilah paramnesia dari bahasa Yunani para (παρα) yang artinya adalah “sejajar” dan mnimi “ingatan”.

Contoh:

Ketika saya pindah ke BSD Nusaloka, Tangerang, tiba-tiba ingatan saya tersentak. Saya pernah melihat tempat itu (termasuk letak pos satpam dan lain-lain). Padahal, seumur hidup, sebelumnya saya tidak pernah ke BSD Nusaloka, Tangerang.

Menurut para pakar, setidaknya 70% penduduk bumi pernah mengalami fenomena ini.

Beberapa teori tentang Déjà vu:

1.Teori optical pathway delay:

Beberapa ilmuwan beranggapan bahwa deja vu terjadi ketika sensasi optik yang diterima oleh sebelah mata sampai ke otak (dan dipersepsikan) lebih dulu daripada sensasi yang sama yang diterima oleh sebelah mata yang lain, sehingga menimbulkan perasaan familiar pada sesuatu yang sebenarnya baru pertama kali dilihat.

Tetapi,teori yang dikenal dengan nama “optical pathway delay” ini dipatahkan ketika pada bulan Desember tahun lalu ditemukan bahwa orang butapun bisa mengalami deja vu melalui indra penciuman, pendengaran, dan perabaannya.

2.Teori Detante Gyrus:

Susumu Tonegawa, seorang neuroscientist MIT, membiakkan sejumlah tikus yang tidak memiliki dentate gyrus, sebuah bagian kecil dari hippocampus, yang berfungsi normal. Bagian ini sebelumnya diketahui terkait dengan ingatan episodik, yaitu ingatan mengenai pengalaman pribadi kita. Ketika menjumpai sebuah situasi, dentate gyrus akan mencatat tanda-tanda visual, audio, bau, waktu, dan tanda-tanda lainnya dari panca indra untuk dicocokkan dengan ingatan episodik kita. Jika tidak ada yang cocok, situasi ini akan ‘didaftarkan’ sebagai pengalaman baru dan dicatat untuk pembandingan di masa depan

3.Teori Ingatan Palsu:

Kenneth Peller dari Northwestern University menemukan cara yang sederhana untuk membuat seseorang memiliki ‘ingatan palsu’. Para partisipan diperlihatkan sebuah gambar, namun mereka diminta untuk membayangkan sebuah gambar yang lain sama sekali dalam benak mereka. Setelah dilakukan beberapa kali, para partisipan ini kemudian diminta untuk memilih apakah suatu gambar tertentu benar-benar mereka lihat atau hanya dibayangkan. Ternyata gambar-gambar yang hanya dibayangkan partisipan seringkali diklaim benar-benar mereka lihat. Karena itu, deja vu mungkin terjadi ketika secara kebetulan sebuah peristiwa yang dialami seseorang serupa atau mirip dengan gambaran yang pernah dibayangkan.

4.Teori Determinisme

Di Facebook ini saya pernah menulis artikel tentang “determinisme” (kejadian yang telah direncanakan Tuhan), “freedomisme” (kejadian yang direncanakan manusia) dan “moderatisme” (kejadian di dunia merupakan gabungan antara kejadian yang sebagian ditentukan Tuhan dan sebagian ditentukan manusia).

Penjelasan Hariyanto Imadha

Sesungguhnya Tuhan hanya menciptakan “potentia” (potensi) sebagai sebuah rencana yang pasti akan dihadapi manusia dan bersifat “determinism”. Terdiri dari berbagai opsi. Namun yang memilih opsi atau “actualita” (kenyataan) adalah manusia sendiri karena tiap manusia memiliki kebebasan atau “freedom”.

Misalnya

Ketika Anda berusia 25 tahun, pernah mendapatkan bayangan/mimpi/kesan yang Anda tangkap secara antara sadar dan tak sadar bahwa Anda menempati sebuah rumah bertingkat dua di kawasan Kebayoran Baru. Ketika Anda berusia 45 tahun, Anda benar-benar menempati rumah itu. Saat itu Anda tersadar dan berkata “Kok, sepertinya saya pernah tinggal di rumah ini”.

Jadi,kehidupan manusia ibarat satu rol filem sinetron yang sudah jadi. Ketika Anda berada di awal sinetron, Anda secara tak sengaja bisa “melihat” (menggunakan mata batin) adegan di tengah atau di akhir cerita sinetron itu.

Nah, itulah yang dimaksud dengan “déjà vu”.

Maka, saya berpendapat dan yakin bahwa “déjà vu” merupakan bagian dari “determinisme” di mana manusia sebelumnya pernah mendapatkan “sinyal” atau “pemberitahuan” atau “informasi” tentang suatu kejadian yang akan dialami (bisa dirasakan oleh pancaindera) dan sinyal ini tanpa Anda sadari tersimpan di dalam memori otak Anda. Namun realisasinya tergantung Anda, sebab Anda mempunyai kebebasan (freedom)  untuk memilih berbagai alternatif

Yang pasti, “déjà vu” bukan penyakit, melainkan fenomena psikis-metafisis biasa-biasa saja. Sebab, sebagian perjalanan hidup Anda sebenarnya sudah direncanakan Tuhan.

Sumber gambar: mysticmedusacom

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Iklan

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: