Oleh: psikologi2009 | Juli 2, 2011

PSIKOLOGI : Anda Dikuasai Rasio atau Emosi?

ANDA pernah menonton MetroTV atau mungkin TV lain yang menayangkan rapat dengar pendapat (RDP) antara Andi Nurpati dengan Panja Mafia Pemilu di DPR? Kesan banyak orang, betapa tenangnya dia. Kenapa bisa begitu? Ya, sebab dia selalu memposisikan dirinya pada wilayah “rasio”. Otaknya selalu berpikir cepat untuk menjawab pertanyaan, mencari alasan ataupun berdalih. Jika dia berada di wilayah “emosi”, tidak mungkin dia mampu menjawab selancar iitu, terlepas jawabannya bohong atau tidak.

Anda tahu Nazaruddin yang kabur ke Singapura? dari kalimat-kalimat yang diucapkan dan dari kata-kata yang tertulis di SMS-nya, maka semua mencerminkan bahwa dia berada pada wilayah “emosi”.

Rasional

Rasional bisa bersifat positif bisa bersifat negatif. Tergantung motivasi masing-masing individu. Orang yang pembawaannya rasional, dalam segala situasi, maka dia tetap berada pada wilayah “rasio”. Membuat pertimbangan-pertimbangan yang cepat dan mengambil keputusan yang cepat. Terlepas keputusannya benar atau tidak benar.

Emosional

Emosional bisa bersifat positif bisa bersifat negatif. Tergantung daya tahan emosional masing-masing individu. Orang yang bersikap positif, akan menyalurkan emosinya dalam bentuk-bentuk yang positif.

Dikuasai rasio positif

Seseorang bisa saja berada pada wilayah “rasio” yang positif.

Misalnya, ketika putus cinta, maka dia menyadari bahwa itu adalah fakta. Dan fakta pula masih banyak calon penggantinya. Jadi, rasionya mengatakan bahwa dunia ini tidak sempit. masih banyak alternatif lain.

Dikuasai rasio negatif

Seseorang bisa saja berada pada wilayah “rasio” yang negatif.

Misalnya, ketika putus cinta, maka rasa-rasanya dunia sudah kiamat. Diapun berpikir agar bisa kembali ke pacarnya. Seolah-olah tidak ada alternatif lain. Seolah-olah hanya “Si Dia” saja dia bisa jatuh cinta. Diapun berpikir untuk melakukan cara-cara yang negatif.

Dikuasai emosi positif

Seseorang bisa saja berada pada wilayah “emosi” yang positif.

Misalnya, ketika seseorang mearasa gelisah, galau, kecewa, stres dan perasaan-perasaan tak menentu lainnya. Maka, dia segera beribadah menghadap Tuhannya. Semua perasaannya,semua masalahnya,diserahkan kepada Tuhannya. Atau, dia menumpahkan perasaan ngatifnya ke emosi yang positif, yaitu membuat puisi yang gembira, membuat cerpen yang lucu dan sebagainya.

Jika Anda dikuasai emosi negatif

Jika ini yang terjadi, maka Anda merasa sulit menemukan jalan keluar. Tiap detik,tiap menit,tiap jam,tiap hari,sepanjang waktu Anda selalu sedih, kecewa, galau, stres, hidup terasa tak ada artinya, putus asa, merasa tak nyaman, begini salah begitu salah. Televisi, Facebook, Twitter, bioskop, tak mampu menghilangkan rasa galau Anda. Rekreasi, jalan-jalan, apapun yang Anda lakukan, tak mampu menghilangkan masalah. Itu artinya, “rasio” Anda dikuasai “emosi”. Anda terjebak pada kepribadian “pesimistis”.

Jika Anda dikuasai rasio negatif

Jika ini terjadi, maka apa yang Anda pikirkan selalu negatif. Misalnya, ingin berselingkuh, ingin korupsi, ingin menipu, ingin lulus ujian dengan cara menyontek, ingin diterima sebagai PNS dengan cara menyuap dan pikiran-pikiran negatif lainnya. Itulah yang dinamakan “negative thinking”.

Lantas, bagaimana kita harus menyikapi hidup ini?

Tentu, kita harus bersyukur kepada Tuhan bahwa sampai hari ini kita masih bisa menikmati hidup, kehidupan dan perkehidupan. Harus lebih bersyukur lagi kalau kita masih sehat dan bisa makan minum enak.

Coba kita lihat orang lain yang berada di bawah level kita. Ternyata banyak juga orang yang hidupnya kurang beruntung. Miskin, sulit cari uang, cacat fisik, sekolah tidak tinggi. Dengan kata lain, cobalah kita lihat penderitaan orang lain. Cari di terminal, stasiun, pinggir sungai, pinggir rel kereta api. Ternyata, kita ternyata lebih beruntung dibandingkan mereka.

Hidup realistis. Itulah kuncinya. Tak usah kita berabdai-andai. Kita terima apa adanya. kalau memang tidak punya uang, ya jujur saja. Kalau kita tidak diterima di perguruan tinggi negeri, itulah faktanya. Jadi, tak perlu disesali realitas-realitas yang negatif.

Berpikir alternatif. bahwa sesungguhnya hidup adalah rentetan tindakan memilih. gagal memilih A, pilihlah B. gagal memilih B,pilihlah alternatif C dan seterusnya.

Terakhir, “rasio positif” Anda harus menguasai “emosi negatif” Anda.

Jangan sebaliknya!

Kesimpulan

Untuk menyikapi berbagai masalah kehidupan,maka kita harus bersikap:

1.Menyukuri hidup,kehidupan dan perikehidupan.

2.Anda tak sendiri yang bermasalah. Banyak orang lain juga punya masalah

3.Berpikirlah realistis.Anggap saja semua yang terjadi adalah kehendak Tuhan

4.Berpikir alternatif. Bahwa, masih banyak cara lain.Banyak jalan menuju Roma.

5.Perkuat “rasio positif” Anda.

Kata-kata bijak

“Sesungguhnya,rasa sedih atau rasa gembira, Anda sendirilah yang menciptakannya

Semoga sukses.

Sumber gambar: penjagaquran.blogspot.com

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Iklan

Responses

  1. terimakasih. 🙂 mulai detik ini aku akan mengubah cara pandangku.


Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: