Oleh: psikologi2009 | Agustus 30, 2011

PSIKOLOGI : Puasa Hedonistis

SEMUA orang muslim tentu tahu apa arti daripada puasa itu. Yaitu, menahan rasa lapar,haus,pikiran dan tindakan yang tercela. Sebuah arti yang sempit dan hanya berlaku bagi dirinya sendiri.Belum ada rasa toleransi, simpati atau empati kepada strata sosial yang paling bawah, yaitu masyarakat miskin.

Sahur dan berbuka bermewah-mewah

Sementara masyarakat miskin cuma makan nasi aking, atau nasi dari beras raskin kualitas rendah, maka ada segolongan muslim kaya yang makan sahur dan berbukanya bermewah-mewah.Kue-kuenya juga berserakan di meja dan banyak yang belum termakan.

Ayam goreng, sate kambing,dadar gulung, hati,beafsteak,spaghetti,pizza dan makanan mahal lainnya. Juga minuman kalengan made in luar negeri, juice apel, dan minuman mahal lainnya. Apalagi diadakan di hotel berbintang yang serba gemerlap.

Puasa tanpa rasa simpati dan empati

Puasa yang demikian tergolong puasa tanpa simpati dan empati. Seolah-olah orang miskin dianggap sebagai “itu sudah nasib kamu” dan kalau saya bisa makan sahur dan berbuka mewah-mewah “itu sudah nasib saya”.

Puasa hedonistis pada dasarnya mempunya konsekuensi

-Kurang peka terhadap penderitaan masyarakat miskin

-Puasa dianggap sebagai ritual tahunan yang bersifat biasa-biasa saja

-Ramadhan dianggap sebagai kesempatan untuk pamer dan foya-foya

-Puasa akhirnya hanya merupakan basa-basi saja

-Puasa kehilangan hakekatnya

Hakekat daripada puasa

Untuk apa berpuasa? Untuk menahan rasa lapar dan minum? Kenapa demikian? Sebab itulahyang dirasakan masyarakat miskin sepanjang hari. Jadi, hakekat berpuasa itu apa? Yaitu, turut merasakan betapa susahnya hidup menjadi masyarakat miskin yang serba kesulitan mencari makan. Menumbuhkan rasa simpati, toleransi dan empati kepada saudara-saudara kita yang miskin.

Puasa hedonistis puasa tanpa makna

Memang tak ada larangan untuk makan dan minum yang enak-enak dan mahal-mahal. Namun agama Islam mengajarkan agar umatnya hidup jangan serba berlebihan. Islam mengajarkan kesederhanaan dan bukan kemewahan.

Catatan

Artikel ini hanya sebagai bahan renungan saja.

 

HariyantoImadha

Facebooker/Blogger

Iklan

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: