Oleh: psikologi2009 | Oktober 20, 2011

PSIKOLOGI: Jangan Mudah Berprasangka Terhadap Orang Lain

JANGAN mudah berprasangka, baik berprasangka positif (husnudzon) maupun negatif (suudzon) kepada orang lain. Sebab prasangka sifatnya masih sementara, menilai hanya berdasarkan penampilan, tulisan, ucapan atau kata orang lain.

A.Beberapa contoh berprasangka negatif

1.Mengira guru olah raga galak

Ketika Si A pindah ke SMAN 6 Surabaya, Si A melihat guru olah raganya (Si B) berbadan besar dan tegap, berkulit agak hitam dan berwajah angker. Si A pun mengambil kesimpulan guru olah raga itu pasti galak dan angker. Tapi setelah mengenalnya, ternyata guru itu ramah, sopan, tutur katanya lembut. bahkan ada yang mengatakan, guru yang suku Ambon itu lebih “njawani” dibandingkan orang Jawa.

2.Mengira anak seorang menteri yang sombong

Si A menilai bahwa Si C yang anaknya menteri, teman kuliahnya, adalah mahasiswi yang kaya raya dan sombong. Oleh karena itu Si A agak enggan ketika Si C menyatakan ingin bergabung dalam kelompok belajarnya. Namun ketika sudah bergabung, lama kelamaan Si A baru tahu bahwa Si C ternyata tidak sombong. Bahkan baik hati, sopan dan suka membantu orang yang sedang kesulitan.

3.Mengira seseorang suka pamer

Sewaktu Si A kos di Grogol, Jakarta, dia punya teman kos cowok (Si D) yang suka pamer bermacam-macam kalung, gelang, cincin yang semuanya terbuat dari emas. bahkan juga sering memamerkan intan berlian dan permata lainnya. Si A menilai Si D cowok yang suka pamer kekayaan. Namun, setelah lama berkenalan, Si A baru tahu kalau Si D pebisnis permata membantu bisnis ibunya untuk menawarkan permata tersebut.

4.Mengira cewek gampangan

Si A mengira Si E cewek gampangan melihat cara berpakaiannya yang seksi dan suka memakai rok mini. Diapun punya pikiran negatif. Namun setelah berkenalan selama enam bulan, Si A baru yakin kalau Si E bukan cewek gampangan, melainkan cewek baik-baik yang menyukai pakaian-pakaian yang simple atau sederhana.

5.Mengira dosen yang cuek

Si A, sewaktu kuliah di akademi bahasa asing, menilai Si F merupakan dosen yang bersikap cuek. Tampilannya pendiam, dan jarang bicara. Tetapi, setelah Si A mengenalnya, ternyata Si F suka sekali mengobrol, berdiskusi dan bertukar pikiran tentang apa saja. bahkan suka bercanda.

B.Beberapa contoh berprasangka positif

1.Mengira pebisnis jujur

Si A mengajak mahasiswi Si G dan dosennya Si H. Si A beranggapan mahasisdwi tersebut jujur karena tiap hari berjilbab dan mengira dosennya juga jujur karena berpeci. Namun dalam perjalanan bisnis kerjasamanya, ternyata Si G dan Si H telah menipu dirinya hingga mengalami kergian sekitar Rp 100 juta. Celakanya tak ada perjanjian tertulis karena Si A mengira Si G dan Si H orang jujur.

2.Mengira capres yang berkualitas

Si A mengira Si I adalah capres yang berkualitas. Sebab penampilan capres Si I tersebut meyakinkan, janji-janjinya meyakinkan, iklan-iklannya meyakinkan. Namun, setelah Si I terpilih sebagai presiden, ternyata Si I seorang pembohong besar. hanya mementingkan kepentingan politiknya. Tak serius memperhatikan kepentingan rakyat terutama yang di daerah perbatasan. Tak mampu menurunkan harga sembako. Gagal di semua sektor.

3.Mengira orang baik

Si A berkenalan dengan teman barunya bernama Si J. Si J suka traktir ini traktir itu. Mengajak ke sana sini. Karena itu, ketika Si J kemalaman di rumah Si A, maka Si A menawarkan ke Si J tidur di rumahnya saja. Esok harinya ketika bangun tidur, Si A terkejut tidak ada. Tiga buah HP dan uangnya di laci Rp 3 juta amblas dibawa Si J.

4.Mengira pandai

Si A menilai calon bupati Si K merupakan cabup yang pandai. Soalnya Si K punya gelar MM, Msi dan MH. Wah, hebat,pikirnya. Namun setelah Si K terpilih sebagai bupati dan bekerja selama satu tahun, Si A baru tahu kalau Si K ternyata tidak pandai. Gelar S2-nya juga ternyata gelar hasil kuliah asal bayar.

5.Mengira kaya secara halal

Si A punya tetangga baru, namanya Si L. Mengakunya pejabat pada sebuah BUMN. Rumahnya direnovasi. Tiga bulan kemudian mobilnya diganti mobil Mercy terbaru. Pakaiannya perlente. Bicaranya tinggi. Bicara soal bisnis, soal kafe, soal apartemen dan lain-lain. Karena mengaku pejabat BUMN, maka Si A-pun berprasangka positif bahwa Si L kaya karena jabatannya. Setahun kemudian, Si L ditangkap KPK karena kasus korupsi.

C. Bagaimana sikap Anda sebaiknya terhadap orang lain?

1.Bersikap biasa,hati-hati dan waspada

2.Boleh berprasangka positif maupun negatif, tetapi bersifat sementara saja

3.Kenali kenalan Anda secara pribadi  dan secara langsung dalam waktu yang relatif lama

4.Pelajari perilakunya, konsistensi antara ucapan dan tindakan, prestasinya, statusnya, pekerjaannya, karirnya, ketahui domisilinya secara langsung, masa lalunya, dll.

5.Setelah mengenalnya secara pribadi, Anda baru boleh menilai teman Anda baik atau tidak.

Semoga bermanfaat

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Iklan

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: