Oleh: psikologi2009 | Oktober 23, 2011

PSIKOLOGI: Zaman Edan Banyak Orang Bodoh Merasa Pandai

ZAMAN edan sudah lama diprediksikan sejak dulu. Di mana orang bodoh mengaku pandai. Bahkan, merasa lebih pandai daripada orang yang benar-benar lebih pandai. Sebaliknya, banyak orang yang pandai, justru dianggap bodoh. Anehnya, yang bodoh dipercaya sedangkan yang pandai tidak dipercaya.

Ada sejarahnya

Ternyata, prediksi itu ada benarnya. Ada sejarahnya. Sesudah bangsa Indonesia merdeka, maka bangsa ini mempunyai rasa pede yang berlebihan. Bahkan Bung Karno menyatakan ingin menjadi bangsa yang berdikari, berdiri di atas kaki sendiri. Tetapi lupa, sistem pendidikannya tidak berbasiskan penalaran atau “logic”. Sejak itu, lahirlah lulusan-lulusan yang pandai di bidang ilmunya tetapi tidak pandai di bidang penalaran.

Lemah pada manajemen

Bangsa Indonesia boleh dikatakan lemah manajemen di semua bidang, baik politik, ekonomi, sosial, budaya dan lain-lain. Yang terjadi kemuudian bongkar pasang strutur organisasi pemerintahan, bongkar pasang peraturan perundang-undangan dan bahkan tumpang tindihnya peraturan perundang-undangan.

Tak mampu membuat sistem dan prosedur

Kelemahan bangsa Indonesia, terutama para pemimpinnya yaitu tak mampu membuat sistem prosedur yang benar-benear efektif dan efisien. Sampai sekarangpun bangsa ini belum mempunyai sistem yang efektif, apalagi terintegrasi.

Lemah pada fungsi pengawasan

Paling parah adalah lemahnya pemimpin bangsa kita dalam hal pengawasan. Akibatnya, Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan dicaplok Malaysia, juga beberapa wilayah lainnya. Pengawasan di bidang keuangan negara juga mengakibatkan korupsi, kolusi dan nepotisme merajalela.

Sistem politik yang tidak profesional

Sistem politik yang dibangunpun hanya melahirkan politik dagang sapi, politik dmi kepentingan, politik demi uang . Hasilnya adalah prestasi-prestasi semu. Kelihatannya maju, tetapi utang luar negerinya luar biasa besar dan tidak tahu kapan lunasnya.

Birokrasi yang terlalu gemuk

Karena pemerintah ingin dianggap mampu menciptakan lapangan kerja, maka pemerintah menerima pegawai baru untuk PNS. Akibatnya, jumlah PNS terlalu besar sehingga untuk menggaji PNS,TNI,Polri, pemerintah terpaksa “ngutang” ke JICA (Jepang). Tidak mampu mengukur kemampuan APBN.

Menjual sumber daya alam dengan harga murah

Karena untuk membayar utang luar negeri dari sektor pajak tidak cukup, maka sumber daya alam (SDA) dijual ke kapitalis asing dengan harga yang luar biasa murah. Juga karena pemerintah ingin dianggap mampu menciptakan lapangan kerja, investor asingpun diundang. Padahal, yang dilakukan kapitalis asing yaitu “memberi sedikit tapi mengambil banyak”.

Indonesia akan miskin SDA

Akibat kebodohan pemimpin-pemimpin kita, maka ngara kita yang semula pengekspor BBM, telah berubah menjadi pengimpor BBM. Bukan tak mungkin Indonesia nanti juga menjadi pengimpor nikel, besi, timah, batubara, gas, dll. Pemerintah hanya berpikir jangka pendek dan tak berpikir jangka panjang.

Mental korupsi

Sikap dan cara pikir ingin kaya sekaya-kayanya, melahirkan mental korupsi. Undang-undangpun dibuat demi kepentingan kapitalis asing asal ada imbalannya berupa uang dalam jumah yang luar biasa besar. rasa nasionalismenyapun pudar.

Melahirkan mahasiswa,  sarjana, pemimpin dan wakil rakyat sok pintar

Sistem pendidikan yang keliru, akhirnya melahirkan lulusan-lulusan yang pandai di bidang ilmunya, tapi tak mampu bernalar secara benar. Akhirnya, muncullah lulusan-lulusan, termasuk S1, S2 dan S3 yang sebenarnya bodoh, tetapi merasa pandai. bahkan merasa pandai dibandingkan dengan orang yang benar-benar pandai. Banyak orang bodoh yang justru membodoh-bodohkan orang pandai.

Bukti kebodohan

Adanya impor beras, kedelai, ikan, garam, sayur mayur, buah-buahan, dan impor-impor produk agraria dengan harga yang murah menunjukkan bahwa sejatinya bangsa Indonesia, terutama para pemimpinnya, adalah pribadi-pribadi yang bodoh. Bahkan tusuk gigipun diimpor.

Bukti kebodohan lainnya, pemerintah lebih suka menghamburkan uang puluhan triliun untuk (rencana) membangun jembatan Merak-Lampung atau jembatan Selat Sunda dibandingkan untuk membangun daerah perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan, terutama infra strukturnya.

Kebodohan lain yaitu, sistem pemilu atau pemilukada yang hanya melahirkan pemimpin-pemimpin korup dan tidak berkualitas. Bisanya hanya menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak produktif. pemilu dan pemilukada hanya melahirkan pemimpin-pemimpin yang hanya mampu sebagai manajer politik tetapi tidak mampu menjadi manajer bangsa dan negara.

Pengaruh life style dari luar negeri juga turut mempengaruhi gaya hidup bangsa Indonesia. Masuknya berbagai produk teknologi menyebabkan bangsa Indonesia menjadi bangsa konsumerisme. Orangpun berlomba kaya dengan berbagai cara, termasuk korupsi. Moralpun rusak. para ulama agamapun tidak ada yang mampu memperbaiki kerusakan moral itu

Solusi

Beberapa solusi untuk memperbaiki keterpurukan dan kebodohan antara lain:

1.Membangun sistem pendidikan berbasiskan ilmu logika (logic science).

2.Memberikan pendidikan moral agama yang benar sejak usia dini.

 

Generasi yang sekarang, tak bisa diharapkan.

 

Hariyanto Imadha

Pengamat Perilaku

Sejak 1973

Iklan

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: