Oleh: psikologi2009 | Januari 13, 2012

PSIKOLOGI: Betulkah Komentar Anda di Facebook Mencerminkan Karakter Anda?

JANGANKAN orang yang awam psikologi, mereka yang berpendidikan sarjana psikologi juga banyak yang tidak memahami maksud daripada judul itu. Bisa dimaklumi, sebab judul artikel ini tidak semata-mata psikologi, tetapi juga terkandung unsur bahasa (linguistik) dan ilmu filsafat.

Psikolinguistik
Ada yang namanya “psycholinguistic”, tetapi biasanya mempelajari bahasa anak-anak. Psikolinguistik meliputi proses kognitif yang memungkinkan untuk menghasilkan kalimat gramatikal dan bermakna keluar dari kosa kata dan struktur tata bahasa, serta proses yang memungkinkan untuk memahami ucapan-ucapan, kata, teks, dll Pengembangan kemampuan penelitian psikolinguistik anak untuk belajar bahasa .

Pendapat bisa diaplikasikan dalam bahasa tulis, bahasa lisan maupun bahasa tubuh (biasa dikenal dengan body language).

Body language
Sebuah teori yang mengajarkan bahwa tiap gerak tubuh seseorang, meliputi cara duduk, cara memegang gelas, raut muka dan seterusnya mencerminkan suasana emosi seseorang. Bisa mencerminkan kegembiraan, pandangan curiga, raut sinis, kesedihan, galau, gelisah dan semacamnya.

Oral language
Yang dimaksud oral language yaitu bahasa lisan. Ucapan-ucapan seseorang juga bisa menggambarkan emosi dan bahkan karakter seseorang. Antara lain ucapan yang sopan, kasar, kampungan, intelek, ancaman, pujian dan semacamnya.

Written language
Yaitu bahasa dalam bentuk tulisan. Bisa menggambarkan kesedihan, kesombongan, kesenangan, persuasif, motivasi, snob (sok tahu, sok mengerti, sok pintar, dll). Di sambing bisa memberikan gambaran tentang emosi juga karakter seseorang.

Merupakan indikator awal
Body language,oral language dan written language sesungguhnya merupakan indikator awal tentang emosi , motivasi maupun karakter seseorang. Untuk mendapatkan kesimpulan yang akurat, tentu perlu banyak data dan observasi langsung atau tidak langsung terhadap seseorang. Dan itu butuh waktu. Meskipun indikator awal, namun tingkat kebenarannya lebih dari 50%.

Pasti ada kekecualian dan penyimpangan
Ilmu apapun pasti ada kekecualian maupun penyimpangan. Hal ini biasa disebut “deviasi”. dalam statistik kita kenal istilah “standar deviasi”. dalam psikologi juga ada kekecualian-kekecualian.

Deviasi atau kekecualian
Bisa saja seseorang “bersandiwara” dalam bahasa body, oral maupun written (terutama dalam cerpen ataupun novel), namun yang pasti tidak semua orang yang berkomentar pasti “bersandiwara”. Deviasinya mungkin sekitar 10% saja.

Frekuensi
Jika kita mengamati bahasa tubuh, bahasa oral maupun bahasa written, tentu tidak cukup satu kali saja. harus berulang. Mungkin sepuluh kali, mungkin duapuluh kali. Kemudian kita cari konotasi persamaannya. Kita cari nada kalimatnya. Kemudian kita analisa.

Penerapan written language di Facebook
Di Facebook ada fasiltas status, komen ataupun tanggapan. Tentu semuanya tertulis. Kita bisa membaca dan disadari atau tidak, kita bisa merasakan “nada bicara” atau “warna emosinya” ataupun “nuansa motivasinya”. Jika kita punya beberapa data dan menganalisanya berkali-kali, maka kita akan mendapatkan “benang mrah” dari “karakter” Facebooker tersebut. Mungkin dia sombong, narsis, agamais, snob (sok tahu, sok mengerti atau sok pintar, cerdas, bodoh, bersifat menguji, rendah diri dan lain-lain).

Dasar teoritisnya
Kalau di dalam konteks ajaran carl Gustav Jung, bisa kita masukkan ke dalam salah satu teorinya. Misalnya: berkarakter introvert, ambivert ataupun ambivert dan seterusnya.

Indikator awal tentang karakter
Jadi, status,komentar ataupun  tanggapan di Facebook merupakan indikator tentang karakter Facebooker yang bersangkutan. Memang ada kekecualian, penyimpangan atau deviasi (karena Facebooker pandai berpura-pura atau menulis sesuatu tidak sesuai karakternya) namun jumlahnya sangat sedikit (kurang dari 10%).

Observasi sebagai tindak lanjut
Tentu, untuk membuktikan kebenaran indikator awal tersebut, perlu tindak lanjut berupa observasi, baik secara tidak langsung maupun langsung. Tidak cukup sekali. Harus berulang-ulang, hat-hati, cermat dan membutuhkan waktu.

Butuh dukungan ilmu pengetahuan lain
Supaya analisa psikologi memiliki tingkat kebanaran yang lebih tinggi, tentu butuh dukungan analisa dari ilmu pengetahuan lainnya.Antara lain, budaya, filsafat, agama, antropologi, sosiologi, ilmu komunikasi dan ilmu lain yang dianggap relevan dengan latar belakang objek yang dioberserasi dan dianalisa.

Sekitar 70% benar
Namun hasil penelitian menyebutkan bahwa analisa bahasa tubuh (body language), bahasa ucap (oral language) dan bahasa tulis (written language) terbukti mampu mencerminkan karakter seseorang. Tentu, ada deviasinya.

Hariyanto Imadha
Pengamat Perilaku
Sejak 1973

Iklan

Responses

  1. Whats Taking place i am new to this, I stumbled upon this I have found It positively helpful and it has aided me out loads. I hope to contribute &amp assist other users like its helped me. Great job. fdgfekbdkbdb


Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: