Oleh: psikologi2009 | Februari 15, 2012

PSIKOLOGI: Megalomania dan Perilaku Anarki


PERILAKU anarki di dalam sebuah negara yang tidak dalam keadaan perang merupakan sebuah penyimpangan yang harus diwaspadai. Sebab, biasanya ketika jumlahnya masih sedikit atau kecil, sebuah pemerintahan biasanya bersikap masa bodoh. namun, ketiga perilaku anarki menjadi besar, maka justru akan merugikan pemerintah. bahkan, sebuah pemerintahan bisa jatuh oleh tindakan-tindakan anarki itu. Bisa dalam bentuk pemberontakan, terorisme, pembunuhan beberapa pemimpin atau perusakan-perusakan bangunan vital. Sikap anarki bisa muncul dari seorang atau beberapa pemimpin organisasi yang mengidap “megalomania” atau “narcissistic personality disorder”.

Apa sebabnya muncul kondisi psikologis megalomania?
Megalomania antara lain muncul dari seseorang atau beberapa orang yang mempunyai cara berlogika yang keliru, atau tujuannya benar tetapi caranya salah, dan merasa dirinya atau kelompoknya sebagai sebuah komunitas yang paling hebat. Semua orang yang berbeda pendapat akan dihadapinya dan diperlakukannya dengan kekerasan. Mereka merasa semua yang dilakukannya itu benar. bahkan mempunyai keyakinan, berani mati demi kebenaran versi mereka.

Apakah megalomania itu?
Megalomania adalah suatu kondisi psiko-patologis ditandai dengan fantasi delusi kekuasaan, relevansi, atau kemahakuasaan. Megalomania, juga bisa dikatakan sebagai “narcissistic personality disorder”, penyimpangan kepribadian karena menghargai diri sendiri atau kelompoknya secara berlebihan. Jika, perilakunya diikuti tindakan anarki, maka bisa dikatakan juga memasuki wilayah psikopat, sebab telah mengabaikan norma-norma sosial yang berlaku. Mereka menggunakan norma-norma sendiri hasil dari tafsirnya sendiri.

Mirip-mirip megalomania
Ada yang mirip-mirip megalomania. Antara lain dementia, acute mania, melancholia, idiocy, hallucination, erotomania and paralysis (tidak kami terangkan dalam artikel ini).

Ciri-ciri kelompok megalomania
-Merasa paling benar
-Merasa paling hebat
-Mereka yang berbeda pendapat dianggap musuh
-Menganggap kekerasan sebagai sebuah ilusi
-Tidak menyadari prinsip hidupnya keliru
-Cenderung berperilaku memberontak atau melawan
-Mengabaikan norma-norma sosial maupun norma-norma hukum
-Norma-norma agama ditafsirkan seenaknya sendiri untuk pembenaran-pembenaran perilakunya

Bisa dialami kelompok ekstrim
Sikap kelompok megalomania bisa saja dimiliki kelompok atau komunitas apa saja yang berperilaku keras.

Contoh
-Kelompok preman
-Kelompok terorisme
-Kelompok pelaku narkoba
-Kelompok pemberontak
-Kelompok fanatisme
-Kelompok koruptor
-Kelompok politisi
-Kelompok agama radikal
-Kelompok kriminal
-Dll

Rata-rata berpendidikan rendah
Berdasarkan hasil pengamatan ataupun observasi, sebuah kelompok megalomania, ternyata sekitar 90% berpendidikan rendah (SD atau SMP) dan 9% berpendidikan sedang (SMA) dan hanya 1% berpendidikan tinggi (D3,S1,S2,S3). Rata-rata mereka berpengetahuan sedikit atau berwawasan berpikir yang sempit.

Machiavelli
Perilaku mereka sebagian besar untuk mewujudkan hal-hal yang memang baik, tetapi caranya salah. Yaitu, melanggar norma sosial dan norma hukum. Bahkan melanggar norma agama. Namun, sebgian juga karena memang tujuannya tidak baik atau salah, tetapi mereka beranggapan dan punya keyakinan tujuannya baik dan ditempuh dengan cara-cara anarki dan brutal.

Keras kepala
Komunitas megalomania adalah kelompok keras kepala. Tidak mau disalahkan, tidak mau disadarkan, tidak mau melakukan introspeksi, cara berlogikanya dogmatis-pasif (tak mau menerima adanya pendapat atau teori yang berbeda), cara berpikirnya sempit dan wawasan berpikirnya tidak luas. cara berlogikanya sering keliru, tetapi mereka tak mau dikatakan keliru.

Bagaimana menghadapi komunitas megalomania yang anarki?
Dimulai dengan prosesan, penyadaran dan jika gagal maka harus dilakukan dengan penegakan hukum yang tegas. Mulai dari tindakan hukum melalui proses hukum, hingga pembekuan dan pembekuan komunitas megalomania negatif tersebut.

Semoga bermanfaat.

Hariyanto Imadha
Facebooker/Blogger


Responses

  1. […] sosial yang berlaku. Mereka menggunakan norma-norma sendiri hasil dari tafsirnya sendiri.” (https://psikologi2009.wordpress.com/2012/02/15/psikologi-megalomania-dan-perilaku-anarki/, dibuka 26 Juli […]


Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: