Oleh: psikologi2009 | Juni 4, 2012

PSIKOLOGI: Cara Salah dalam Menilai Orang Lain

CUKUP banyak orang Indonesia yang salah dalam berlogika. Terutama dalam menilai orang lain. Kesalahannya adalah, mereka menilai orang dari kekayaannya, gelar sarjananya, gelar hajinya, pangkatnya, jabatannya, janji-janjinya, ceramah-ceramahnya, kotbah-kotbahnya, status sosialnya, kepandaiannya,  orasinya, caranya berbicara, sopan-santunnya , ketampanannya/kecdantikannya, prestasisnya dan lain-lain. Tak heran, semua itu bisa berakitbat mereka tertipu atau menyesal di kemudian hari.

A. Cara salah dalam menilai orang lain

Kekayaannya

Orang bisa saja terkecoh oleh kekayaan seseorang. Orang yang kaya dianggap sebagai orang yang sukses. Punya rumah mewah, mobil mewah, uang banyak dan hidup serba kecukupan. Jarang orang meneliti, daripada asal kekayaannya itu. Sebab, cukup banyak orang kaya karena korupsi, suap, sogok, nepotisme, kolusi dan usaha-usaha lain yang tidak perlu dihargai.

Gelar sarjananya

Banyak orang beranggapan, orang yang punya gelar sarjana adalah orang pintar. Orang sukses. Oleh karena itu orang-orang di sekitar rumahnya sangat menghormatinya. Menganggap dia bisa mengatasi berbagai masalah. Padahal, jaman sekarang mencari gelar sarjana tidak sulit. Banyak perguruan tinggi asal bayar. Asal bayar SPP, asal ikut kuliah, asal ikut seminar, asal bikin skripsi dan asal bayar wisuda. Dijamin dapat gelar.

Gelar hajinya

Sangat banyak orang Indonesia menghargai orang bergelar haji secara berlebihan. Bahkan orang yang punya gelar hajipun tidak mau dipanggil berdasarkan namanya. Di kartu nama dan di mana-mana gelar hajinya ditulis. Bahkan sampai matipun gelar hajinya ditulis di batu nisan. Padahal, cukup banyak haji yang korupsi, menipu dan melakukan tindakan kriminal lainnya.

Pangkatnya

Orang berpangkat dianggap sebagai orang yang layak dihormati dan disegani. bahkan kalau perlu menunduknunduk akalau bertemu dengannya. Seolah-olah orang berpangkat juga orang yang harus ditakuti dan tidak boleh dilawan. Padahal, tak jarang orang berpangkat melakukan pungli dan menjadi backing-nya pengusaha.

Jabatannya

Orang yang punya jabatan dianggap orang hebat. Dianggap orang berprestasi. Dianggap orang yang memiliki kemampuan luar biasa. Padahal, sebagai seorang pejabat, selalu meminta fee proyek-proyek dengan tarif yang tinggi. Atau, memanipuasi anggaran. Atau, melakukan mark up atas pos-pos pengeluaran keuangan negara.

Janji-janjinya

Banyak orang terbuai oleh janji-janji. Janji investasi dengan bunga tinggi. Janji biaya pendidikan dan kesehatan gratis jika dia terpilih sebagai bupati/gubernur/wakil rakyat dan jabatan lainnya. Terbuai oleh janji-janji sorga dari para politisi yang akan menjadikan harga sembako murah dan janji-janji gom,bal lainnya. Padahal, setelah menang dan terpilih, maka sebagian besar janjinya merupakan pepesan kosong saja.

Ceramah/kotbahnya

Yang namanya ceramah agama atau kotbah dianggap sebagai kata-kata mutiara yang hebat. Apalagi kalau menyebut ayat-ayat suci. Orangpun menilai pemberi kotbah adalah orang suci yang sama sekali tidak punya dosa. Padahal, berita-berita menyebutkan, ada penceramah/pengkotbah yang melakukan pelecehan seks, melakukan perbuatan anarki, memukul orang, merusak barang-barang milik orang lain dengan dalih membela agama.

Status sosialnya

Walaupun status sosialnya cuma Ketua RT, tetapi warga luar biasa menghargainya. Seolah-olah dia orang yang luar biasa penting. Apapun yang dikatakan ketua RT-nya harus dilaksanakan. Padahal, ketika menjadi ketua RT, langsung menaikkan iuran RT, menarik uang dengan alasan untuk perbaikan jalan/lampu peneranagn/perbaikan saung,dll. Bahkan yang tidak datang kerja baktipun di denda. warga mungkin tidak sadar,kalau sebagian uang itu dikorupsi ketua RT.

Kepandaiannya

Orang juga bisa tertipu oleh kepandaian seseorang. Mampu mendirikan PT,CV dan pernah jadi direktur ini ditrektur itu. Lantas mengajak orang lain bekerja sama mendirikan PT dengan modal milyaran rupiah. Namun, baru tiga bulan perusahaannya berjalan, langsung bangkrut. Penipuan berkedok bisnis. Atau, melakukan tindakan kriminal kerah putih. Penipuan kelas tinggi.

Orasinya

Orang bisa kagum mendengarkan  pidato seseorang. Apalagi bicaranya menyangkut UUD 1945, Pancasila dan semacamnya. Padahal, semua itu merupakan taktik untuk mencari simpati rakyat agar dalam pemilu nanti rakyat akan memilihnya. Padahal, sebetulnya, setelah terpilih, dia tidak mlaksanakan Pancasila dan semua janjinya.

Predikatnya

Orang sering menghargai berlebihan orang yang punya predikat ulama, ustadz/ustadzah, pendeta dan semacamnya. Mereka dianggap orang yang sangat suci. Semua kata-katanya dianggap benar. Padahal, tidak semua ucapannya benar. Bahkan banyak yang sengaja salah mengartikan atau menafsirkan ayat-ayat suci demi tujuan politiknya. Memutarbalikkan pengertian-pengertian agama.ang sok suci dan sok moralis. Bahkan, karena menganggap tokoh-tokoh agama itu orang baik, ketika mereka mengajak orang lain menyimpan uangnya di koperasi dengan bunga besar, maka masyarakatpun percaya. Padahal, buntut-buntutnya uang masyarakat yang bernilai triliunan rupiah dibawa kabur oleh tokoh agama yang menipu itu.

Sopan-santunnya

Banyak orang Indonesia mudah jatuh hati dan jatuh simpati melihat sopan santun orang lain. Oleh karena itu langsung memberikan penghormatan dan rasa percaya yang berlebihan. Tanpa diduga, orang yang dianggapnya sopan-santu, ternyata seorang psikopat.

Ketampanannya/kecantikannya

Kejadian orang tertarik ketampanan/kecantikan merupakan kejadian yang wajar. Siapa yang tidak tertarik orang tampan dan orang cantik? Semua orang pasti suka. Begitu mudah langsung akrab. Begitu mudah mempercayai semua ucapannya. namun, dalam perjalanannya salah satu dari mereka baru sadar, bahwa, sahabatnya yang tampan/cantik ternyata suka “morotin”.

Prestasisnya

Orang juga bisa berdcak kagum melihat orang lain punya prestasi hebat. Mampu membuat robot yang canggih. mampu membuat rudal nuklir yang tidak bisa dilacak radar. mampu membuat ini itu. Menjadi juara olimpiadi matematika dan segudang prestasi lainnya. Namun di luar itu, ternyata mereka adalah seorang yang licik, suka mencuri dan menjiplak karya orang lain dan perbuatan negatif lainnya.

Hasil surveinya

Orang yang berpendidikan tinggipun sering percaya hasil survei sebaga- sebuah kegiatan yang hasilnya pasti benar. Tidak mungkin salah. Apalagi menggunakan metode atau metodologi yang sangat ilmiah. Didukung jumlah data responden yang banyak. Padahal, ada juga hasil survei yang direkayasa demi kepentingan politik, uang atau kepentingan lain. Orang terlanjur percaya kepada pembuat surbei, padahal dia suka memanipulasi ilmu surveinya.

B. Cara benar dalam menilai orang lain

Cara yang benar dalam menilai orang lain bukanlah pada kekayaannya, gelar sarjananya, gelar hajinya, pangkatnya, jabatannya, janji-janjinya, ceramah-ceramahnya, kotbah-kotbahnya, status sosialnya, kepandaiannya,  orasinya, caranya berbicara, sopan-santunnya , ketampanannya/kecdantikannya, prestasisnya dan lain-lain, tetapi…pada perilakunya.

Oleh karena itu, betapa pentingnya mempelajari psikologi supaya kita bisa memahami perilaku diri sendiri maupun perilaku orang lain.

Kata-kata bijak

Kata-kata baik yang perlu kita hargai adalah apabila kata-kata baik itu diucapkan oleh orang yang berperilaku baik. Sebab, kata-kata baik yang diucapkan oleh orang yang berperilaku tidak baik sesungguhnya tidak ada maknanya. Hanya sebuah kepura-puraan untuk menutupi kekurangannya.

Hariyanto Imadha
Pengamat Perilaku
Sejak 1973
Iklan

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: