Oleh: psikologi2009 | Juli 12, 2012

PSIKOLOGI: Pemilih Jokowi-Basuki Cuma Coba-Coba?

ADA seorang pengamat politik mengatakan, faktor kemenangan Jokowi-Basuki dalam Pemilukada DKI Jakarta 2012 pada putaran pertama adalah karena masyarakat Jakarta melakukan “coba-coba”. Sebuah pendapat yang tidak ilmiah dan menyalahi cara berlogika yang benar.

Kelemahan berlogika

Kalau dikatakan pemilih Jokowo-Basuki adalah “coba-coba”, maka mereka yang memilih cagub-cawagub lainnya juga coba-coba. kalau dikatakan mereka yang memilih “bukan coba-coba” tentu juga salah, sebab mereka tahu Jakarta masih mengalami kemacetan, sampah, banjir dan masalah-masalah lain. Konsekuensinya, semua pemilih adalah pemilih coba-coba. Sebuah kesalahan berlogika yang salah karena mengambil kesimpulan terlalu gegabah.

Psikologi perilaku

masyarakat pemilih di Jakarta, paling tidak sekitar 40%-50% telah berkembang menjadi pemilih rasional. Mereka tahu benar bahwa hasil kerja Foke selama ini tidak signifikan. Masih ada banjir, kemacetan, sampah dan masalah-masalah lainnya. Slogan “Serahkan Jakarta pada ahlinya” dianggap slogan kosong. Itulah sebabnya, mereka yang dulu memilih Foke meras kecewa dan menganggap program yang ditawarkan Jokowi-Foke lebih realistis. Mereka juga tahu, pasangan Jokowi-Basuki tidak melakukan money politic.

Sedangkan mereka yang tetap memilih Foke disebabkan banyak faktor. Mungkin karena pemilih juga orang Betawi, karena faktor fanatisme, karena terpengaruh iklan-iklan kampanye dan pengaruh-pengaruh lainnya.

Fenomena Jokowi-Basuki

Iklan kampanye tidak banyak. Tidak banyak janji. Tapi “pendekatan psikologi sosial” yang dilakukan Jokowi-Basuki lebih merakyat. Apalagi didukung PDI-P dan Partai Gerindra yang solid bergerak meyakinkan rakyat DKI Jakarta.

Rakyat memilih Jokowi-Basuki karena faktor harapan

Rakyat DKI Jakarta, setidaknya sekitar 40%-50% melihat kenyataan bahwa Jakarta memang masih macet,sampah dan banjir. Mereka juga melihat bahwa Foke tidak melakukan perubahan yang signifikan. Maka, wajar saja kalau rakyat DKI Jakarta menaruh harapan pada Jokowi-Basuki.

Harapan yang realistis

Harapan rakyat DKI Jakarta terhadap Jokowi-Basuki bukanlah harapan kosong, melainkan ada dasarnya. Mereka melihat Jokowi sukses sebagai Walikota Solo. Apalagi terpilih sebagai salah satu walikota terbaik di dunia.

Harapan bukanlah coba-coba

harapan dan coba-coba itu berbeda. Harapan adalah sikap perilaku yang didukung fakta-fakta nyata. Sedangkan coba-coba tidak didukung fakta-fakta nyata. Analoginya: Seorang mahasiswa yang rajin belajar, tentu punya harapan untuk ujian semester. Sedangkan mahasiswa yang malas belajar, menghadapi ujian semester hanya coba-coba saja. hanya berspekulasi.

Perlu pendekatan multidisiplin

oleh karena itu, untuk menilai fenomena pemilih Jokowi-Basuki, terlalu sempit kalau hanya dari sudut politik. Harus mengikutsertakan psikologi, terutama psikologi sosial dan ilmu logika terutama logika sosial.

Kesimpulan

Jadi, mereka yang memilih Jokowi-Basuki sebagian besar bukan karena faktor coba-coba, melainkan karena faktor harapan. Mereka yang bersikap coba-coba mungkin hanya sekutar 1% saja. Mereka punya harapan karena mereka melihat fakta, Jokowi sukses menjadi Walikota Solo dan terpilih sebagai salah satu walikota tterbaik di dunia. Mereka juga melihat fakta bahwa Foke tak mampu menyelesaikan masalah kemacetan, sampah dan banjir.Pemilih Jokowi-Basuki adalah pemilih “faktual-rasional.” Sedangkan pemilih Foke adalah pemilih “tradisional-irrasional”. Soal kalah-menang, lain persoalan.

Semoga bermanfaat

Hariyanto Imadha
Pengamat Perilaku
Sejak 1973

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: