Oleh: psikologi2009 | Juli 19, 2012

PSIKOLOGI : Beda Real Behaviour dan Artificial Behaviour

SEMUA orang pasti punya perilaku. Secara umum mereka berperilaku yang nyata sesuai kepribaseseorangn aslinya. Namun, tak jarang ada yang berperilaku yang dibuat-buat. Tentu, perilaku yang dibuat punya maksud dan pamrih tertentu. Sebenarnya, perilaku yang nyata (real behaviour) dan perilaku yang dibuat-buat (artificial behaviour) bisa dibedakan, asal kita mau mencermatinya dengan teliti.

Real Behaviour

Perilaku yang nyata pasti sesuai dengan kepribaseseorangn asli seseorang. Kalau seseorang suka marah-marah, maka seseorang akan marah-marah apa adanya. Tidak ada usah untuk menahan supaya seseorang tidak marah. Kalau seseorang suka curhat, maka seseorang suka curhat apa adanya. Kalau seseorang suka mengritik, maka seseorang suka mengritik sesuai dengan keyakinannya. Kalau seseorang suk a ilmu, maka seseorang akan rajin membaca buku-buku. kalau memang seseorang suka ingkar janji, maka seseorangpun ingkar janji. Kalau seseorang ingin menipu, maka seseorangpun akan pelakukan penipuan. Jadi, antara pikiran, ucapan dan perilaku ada korelasi yang signifikan. Antara masa lalu dan masa kini ada hubungan yang konsisten. Perilakunya tetap konsisten dan tidak berubah.

Contoh:
Si A, sejak SMP hingga sarjana dikenal sebagai orang yang suka menolong. Semua temannya tahu itu. Bahkan ketika Si A meninggal, tak meninggalkan perilaku yang berbeda. maka, bisa ditarik kesimpulan, perilaku Si A merupakan perilaku yang nyata. Real behaviour.

Artificial Behaviour

Perilaku yang dibuat-buat karena punya maksud atau pamrih tertentu. Misalnya, pura-pura sopan, supaya dianggap sopan. Pura-pura jujur, supaya dianggap jujur. Pura-pura anti korupsi, supaya dianggap anti korupsi. Pura-pura suci, supaya dianggap suci. Dan sikap-sikap kepura-puraan lainnya. Jadi, antara pikiran, ucapan dan perilakunya tidak ada korelasi yang signifikan. Ada perbedaan antara masa lalu dan masa kini. Tidak ada hubungan yang konsisten. Sikap kepura-puraan tidak akan bertahan lama, karena suatu saat masyarakat akan melihat perilaku aslinya. Sama dengan perilaku sebelumnya.

Contoh:

Si B sejak dulu memang tidak suka bergaul dengan masyarakat. Tiba-tiba ketika dia menjadi calon bupati, perilakunya berubah. Tiba-tiba suka keluar masuk kampung, keluar masuk ponpes, berbincang-bincang dengan masyarakat, bahkan mengobral janji kalau dia terpilih sebagai bupati, maka semua masalah yang dihadapi masyarakat akan dibereskan. Tapi, setelah menjadi bupati, apa yang dijanjikan, banyak yang diingkari. Bahkan, tidak rajin mengunjungi masyarakat lagi. Perilakunya kembali ke perilakunya semula.

Memperhatikan secara cermat

Jadi,  sebenarnya untuk menilai seseorang, jangan hanya perilakunya masa sekarang, tetapi juga perilakunya di masa lalu. Juga, perlu diperhatikan perilakunya selanjutnya.

Misalnya:

Johnny Indo, dulu perilakunya buruk. Suka merampok toko emas. Namun, suatu saat dia insyaf. Selama di LP, rajin membaca kitab suci. Begitu keluar dari LP, dia menjadi penceramah agama yang baik. Dan perubahan dari yang buruk ke perilaku yang baik, tetap berlangsung terus. Perubahan perilaku dari buruk menjadi baik, berlangsung lama.

Beda dengan calon anggota DPR. Sebelum terpilih, calon anggota DPR tersebut memang berperilaku baik. Namun, setelah terpilih sebagai anggota DPR, perilakunya berubah. Antara lain korupsi. Dan perubahan dari baik ke buruk berlangsung sangat lama.

Kesimpulan

Jadi, real behaviour merupakan perilaku yang berlangsung lama tanpa perubahan. Kalau perilakunya buruk, maka tetap saja buruk. Kalau perilakunya baik, maka perilakunya terus baik. Sebaliknya, kalau sebelumnya berperilaku buruk, kemudian berperilaku baik seterusnya, maka itu juga real behaviour. Begitu pula sebaliknya, kalau sebelumnya berperilaku baik, kemudian berperilaku buruk dan berlangsung lama, itulah real behaviour.

Sedangkan artificial behaviour adalah perilaku yang mudah berubah sesuai situasi dan kondisi. Sesuai maksud dan tujuan atau pamrih.

 

Semoga bermanfaat.

 

Hariyanto Imadha
Pengamat Perilaku
Sejak 1973

Responses

  1. Hakekatnya semua manusia dilahirkan suci, tapi kemudian menjadi jahat dikarenakan faktor external, lingkungan, budaya keluarga yg dianut, jikat tiba-tiba orang tersebut dari jahat ke baik artinya ada kemauan seseorang untuk merubah cara hidup dan pandang dan biasanya memiliki pribadi yang kepekaannya tinggi, dan ingin keluar dari segala masalah atau kesulitan yg menghadang dengan cara berusaha selalu melakukan kebaikan karena dirasakan berbeda kehidupannya dibandingkan pada saat melakukan kejahatan yg penuh dengan permasalahan.


Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: