Oleh: psikologi2009 | Agustus 14, 2012

PSIKOLOGI : Tradisi Baju Baru dan Tradisi Rendah Diri

LEBARAN tentu identik dengan ,mudik. Celakanya, lebaran atau mudik dianggap identik dengan baju baru. Banyak orang merasa tidak enak kalau tidak memakai baju baru. Sedangkan orang-orang lain memakai baju baru. Itulah rasa rendah diri yang seringkali muncul setiap lebaran ataupun mudik. Tidak hanya melanda di kalangan anak-anak, di kalangan orang yang punya duit sekalipun rasa rendah diri itu juga ada.

Celakanya lagi, ada anggapan bahwa mudik dan berlebaran di kampung itu merupakan kewajiban. Bahkan ada rasa, kalau tidak mudik rasa-rasanya kok tidak enak. Itulah rasa “ingin ikut-ikutan” yang melanda sebagian masyarakat kita. Akibatnya banyak orang memaksakan diri untuk lebaran,mudik dan memaksakan diri untk membeli baju baru padahal secara ekonomi tidak mempunyai kemampuan seperti itu.

Apalagi, kesenjangan sosial di negara kita sangat mencolok. Di jalan raya meluncur ribuan mobil mewah, sementara di pinggir-pinggir jalan itu ada ratusan ribu rumah-rumah kumuh dari golongan masyarakat kelas bawah. Sebagai manusia biasa, masyarakat miskin juga ingin seperti orang-orang kaya. Bisa pulang mudik, naik mobil atau pesawat, pakaian baru dan bagus, bawa uang banyak dan hal-hal lain yang tidak mungkin dilakukan masyarakat miskin.

Kenapa sih memakai baju baru saja harus menunggu lebaran? Kenapa sih mau bersilaturahim saja menunggu lebaran? Kenapa sih meminta maaf hanya satu tahun sekali? Sebenarnya memakai baju baru, bersilaturahim atau meminta maaf bisa kapan-kapan saja.

Tradisi ikut-ikutan

Sebenarnya tradisi mudik berlebaran adalah tradisi ikut-ikutan saja. Sebab, tidak mudik juga tidak apa-apa. Memang, suasana lebaran membuat orang diperbudak oleh suasana dan perasaannya sendiri. Banyak orang mudik berlebaran hanya faktor ikut-ikutan saja. Tidak ada logika yang sunggug-sungguh sahih untuk membenarkan sikap ikut-ikutannya itu.

Diperbudak oleh suasana

Sangat banyak orang yang tanpa disadari telah diperbudak oleh suasana. Saat orang-orang mudik, kalau dia tidak mudik, rasanya atau batinnya terasa tersiksa sekali. Fenomena psikologis semacam ini pasti terjadi di setiap kali musim lebaran atau mudik. Atas dasar itu, dengan segala cara diusahakan untuk bisa mudik.

Keinginan berkumpul

Memang, biasanya saat lebaran itulah semua saudara pulang kampung. Berkumpul dengan sanak saudara,keabat dan teman-teman lama. Lantas saling melepas rindu dan menggelar sejuta cerita tentang pengalamannya masing-masing. Namun kadangkala juga mengundang kecemburuan sosial, sebab di antara saudara-saudaranya kok bisa punya mobil mewah, sedangkan dia cuma punya motor. Kok, saudaranya pakai perhiasan yang mahal, kok dia pakaiannya murah-murah saja.

Basa-basi meminta maaf

Lantas biasanya berkunjung ke orang-orang lain yang lama tidak dijumpainya. Saling meminta maaf (dan mengharap dapat kue-kue). Sebuah tradisi basa-basi saja. Sebab walaupun sudah meminta maaf, seusai lebaran kelakuan aslinya kambuh lagi. Puasa,lebaran dan mudik tak mampu menambah akhlak yang baik.

Menganggap mudik itu wajib

Inilah kesalahan yang fatal dari cara berlogika bangsa kita. Menganggap mudik itu wajib hukumnya. Padahal, mudik sebetulnya hanya untuk mereka yang mampu saja, terutama mampu secara ekonomi. Yang parah adalah mereka yang tidak mampu. Supaya bisa pulang mudik, jual ini jual itu, gadai ini gadai itu,ngutang ke sana ngutang ke mari. Sebuah cara berlogika yang merugikan diri sendiri.

Kesimpulan

Diakui atau tidak, tradisi mudik lebaran di samping ada segi positifnya juga ada segi negatifnya. Segi negatifnya yaitu adanya anggapan yang salah bahwa mudik itu wajib dan bahkan adanya anggapan memakai baju baru itu wajib. Semua ini menyebabkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang tidak rasional dan diperbudak oleh suasana .Tradisi harus memakai baju baru di saat lebaran, disadari atau tidak sebenarnya merupakan cermin pribadi-pribadi redah diri minder) betapapun kayanya seseorang itu.

Hariyanto Imadha
Pengamat Perilaku
Sejak 1973

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori