Oleh: psikologi2009 | Agustus 19, 2012

PSIKOLOGI: Orang Islam Banyak yang Kemproh

SEPERTI biasa, tiap shalat Ied penulis selalu membawa sajadah dan koran dan penulis masukkan dalam kantong plastik (kantong kresek). Koran buat alas sajadah supaya tidak kotor. Selesai shalat, sajadah dan koran penulis masukkan ke kantong plastik lagi. Sampai di rumah, koran penulis buang ke tempat sampah. Tidak sulit.

Masalahnya adalah, banyak orang Islam yang kemproh (tidak menghargai kebersihan) . Buang sampah sembarangan. Akibatnya, tiap kali selesai shalat Ied, sampah berserakan di berbagai kota. Sebuah pemandangan yang tidak sedap telah terjadi dan selalu berulang terjadi. Sebenarnya hampir semua orang Indonesia seperti itu, namun artikel ini penulis fokuskan ke orang-orang Islam sesuai konteksnya shalat Ied berjamaah.

Memperbaiki kebiasaan yg buruk ternyata belum bisa dilakukan orang Islam. Kebiasaan buruk yang berulang akan menjadi sebuah perilaku buruk . Perilaku buruk yang terus berulang akan menjadi tradisi buruk. Tradisi buruk yang terus berulang akan menjadi budaya buruk.

Cari-cari alasan

Kalau penulis mengatakan berperilaku buruk, maka mereka kebanyakan ngeyel dan mencari-cari alasan.

Alasan yang dicari-cari antara lain:

-Bersikap masa bodoh

-Toh nanti akan ada petugas yang membersihkan

-Sampah koran merupakan rezeki para pemulung dan akan dibersihkan para pemulung

-Daripada repot-repot membawa pulang

-Ah, itu kan hal yang sepele, buat apa dibesar-besarkan

-Itu sudah tradisi turun temurun

-Ah, tidak berdosa,kok

-Hukumnya tidak wajib aja kok repot-repot amat

-Memangnya kalau buang sampah sembarangan masuk neraka?

-Kan nanti ada petugas yang akan membersihkannya

-Dan alasan-alasan lain yang dicari-cari

Orang bersalah suka mencari alasan

Orang yang bersalah memang cenderung mencari-cari alasan tanpa pernah mau mengakui kesalahan atas kebiasaan buruknya. Orang yang salah, kalau diingatkan cenderung untuk membela diri. Kalau mengubah perilaku buruk yang kecil saya tidak mau atau tidak mampu, apalagi mengubah perilaku buruk yang lebih besar (pundli,kolusi,korupsi dan semacamnya).Itulah indikator kepribadian orang Islam yang sesungguhnya.

Pribadi “repulsif” sebagai penyebab pokoknya

Di dalam psikologi ada istilah “repulsion” (keengganan/kemalasan). Sesungguhnya banyak orang Indonesia (dalam hal ini orang Islam) yang bermental “pemalas”. Di dalam konteks psikologi disebut dengan istilah “berkepribadian repulsif”.

Kalau mau jujur, kepribadian repulsif sebenarnya merupakan pribadi manusia dari sisi yang buruk. Pribadi yang demikian karena cara berpikir yang dogmatis-pasif.

Penyebab lainnya

-Orang tuanya/guru di sekolahnya/guru di ponpesnya/ustadz atau guru agamanya tidak pernah mengajarkan tentang pentingnya kebersihan

Ciri-cirinya pribadi repulsif:

-Suka menyepelekan hal-hal yang sebenarnya tidak sepele.

-Tidak bisa menghargai lingkungan.

-Cara berpikirnya pendek

-Selalu menyiapkan alasan-alasan untuk membela diri

-Merasa tidak bersalah

-Menimpakan kesalahan kepada orang lain

-Bersikap masa bodoh

-Biasanya kurang cerdas

Pribadi repulsif, sangat sulit dihilangkan. Seolah-olah telah mendarah daging. Kecuali ada kesadaran yang sangat kuat akan pentingnya sebuah kebersihan dan menyadari nahwa kebersihan adalah merupakan cermin kualitas iman seseorang.

Pribadi yang tidak repulsif

Orang Islam yang berkepribadian nonrepulsif, tidak akan membuang sampah sembarangan. Sebab dia menyadari betapa pentingnya aspek kebersihan dan keindahan. Sekaligus menghargai sabda Nabi Muhammad SAW.

Lupa dengan ajaran Nabi Muhammad SAW

Bisa tidak tahu, bisa lupa, bisa sengaja melupakan, bisa juga tidak perlu menghargai sabda Nabi Muhammad SAW

Sabda Nabi Muhammad SAW

Rasulullah SAW, bersabda: “An-Nadlafatu min al-iman,” (Kebersihan itu adalah bagian dari iman). Dalam hadits riwayat Turmizi, Rasulullah juga menjelaskan: Sesungguhnya Allah itu baik (indah), menyukai kebaikan (keindahan), bersih cinta kepada kebersihan, pemurah cinta kepada kemurahan, dermawan menyukai kedermawanan, maka bersihkanlah halaman pekarangan rumahmu dan janganlah kamu meniru orang-orang Yahudi (yang suka menumpuk sampah dan kotoran).

Solusi

Seharusnya panitia penyelenggara shalat Ied berpikir kreatif. Antara lain menyediakan tempat sampah yang cukup besar, misalnya terbuat dari multiplek. Saat menjelang selesainya shalat Ied, panitia menghimbau (berulang-ulang) agar semua umat Islam yang hadir membuang koran/kertas ke tempat sampah yang telah disediakan sekalian membaca berulang-ulang sabda Nabi Muhammad SAW tersebut. Tidak sulit. Menjadi sulit manakala panitianya sendiri juga berkepribadian “repulsif” (enggan/malas).

Sumber foto: mediaindonesia.com

Hariyanto Imadha

Pengamat Perilaku
Sejak 1973

Responses

  1. Semoga diberi balasan oleh allah,dan semoga ia bisa intropeksikan dirinya.

  2. lebih tepatnya semua agama. di kristen kalo abis ada acara2 di ruang terbuka, bisa dilihat kayak apa kotornya. bungkus makanan, botol minuman dll. rasanya banyak org indonesia tanpa memandang sara, lebih tepatnya semua sara rata2 kemproh. yaa itu dengan catatan kalo mereka di negeri sendiri. yg saya heran di luar negeri mereka kok bisa sangat menjaga kebersihan yaa.. apa karena di mana2 ada cctv

  3. Analisa bagus ini …


Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori