Oleh: psikologi2009 | September 6, 2012

PSIKOLOGI: Membenci Agama Lain Merupakan Penyakit Hati

AGAMA adalah pedoman hidup yang baik bagi pemeluknya. Masalahnya adalah, tidak semua pemeluk agama berperilaku baik. Bahkan banyak yang berkepribadian tidak baik. Hal ini bisa kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Antara lain banyaknya umat beragama yang membenci agama lain atau pemeluk agama lain seolah-olah agamanya sendiri yang paling benar.

Mindset yang keliru

Mindset atau cara pandang yang keliru bisa saja terjadi karena pemeluk agama menganggap semua yang dikatakan guru agamanya sebagai suatu hal yang benar, lebih benar, paling benar dan selalu benar. Seolah-olah guru agamanya merupakan malaikat. Midset yang keliru tersebut berakibat mematikan kreativitas bernalar para pemeluk agama.

Membenci agama lain

Cukup banyak pemeluk agama yang membenci agama lain dan atau pemeluk agama lain. Sepanjang hari hatinya dan cara pandangnya selalu diwarnai kebencian. Bisa terlihat dari raut mukanya, ucapannya, tulisannya atau perilaku nyatanya.

Perilaku negatif

Mindset yang keliru dan yang berakibat perilaku membenci agama lain juga bisa berakibat tindakan anarki. Tindakan merusak. Bahkan tak jarang menimbulkan korban luka ataupun tewas. Emosi negatifnya telah mengalahkan rasio positifnya. Apa yang dilakukan akibat midset yang keliru.

Tidak merasa bersalah

Sikap dan perilaku yang merasa benar,lebih benar,paling benar dan selalu benar akan mengakibatkan sebagian umat beragama tersebut sulit menerima pendapat yang berbeda. Pendapat yang berbeda akan dianggap salah. Pendapatnya sendirilah yang benar.

Terjemah dan tafsir agama dianggap 100% benar

Sumber hadirnya mindsetyang keliru adalah tidak disadarinya bahwa ada terjemah dan tafsir agama yang keliru. Ciri-cirinya yaitu terjemah dan tafsir itu tidak sesuai dengan ciri-ciri atau sifat-sifat Tuhan. Tuhan adalah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, tetapi dijabarkan dengan rasa kebencian terhadap agama lain.

Matinya kreativitas penalaran

Metode pengajaran agama yang demikian mengakibatkan cara berpikir pemeluk agama bersifat “dogmatis-pasif”. Enggan menerima pendapat yang berbeda. Tidak mau atau bahkan tidak mampu menganalisa tentang mana yang benar dan mana yang salah. Tidak punya pegangan tentang “kebenaran” dan “ketidakdakbenaran”.

Mudah menyalahkan

Sikap merasa benar sendiri yang tidak objektif -rasional menyebabkan sebagian umat beragama sangat mudah menyalahkan pihak lain. Mudah mengkafirkan orang lain. Sangat mudah mengatakan agama lain sebagai agama sesat tanpa dasar pemikiran yang objektif-rasional.

Agama hanya formalitas

Cukup banyak orang yang ibadahnya bagus, tetapi logikanya kacau balau. Logika yang kacau balau juga bisa berakibat perilaku yang kacau balau juga. Hasinya adalah banyaknya umat beragama yang mengalami “penyakit hati”. Hatinya selalu diwarnai kebencian.

Penyakit hati

Dari sudut psikologi, perilaku membenci suku lain, agama lain, ras/bangsa lain dan golongan lain yang berlangsung dan berproses dalam jangka waktu lama bisa mengakibatkan penyakit hari yang sangat sulit disembuhkan.

Semoga menambah wawasan Anda.

Hariyanto Imadha
Pengamat Perilaku
Sejak 1973

Kategori