Oleh: psikologi2009 | September 13, 2012

PSIKOLOGI: Jangan Memberi Nasehat atau Saran Kalau Tidak Diminta

ANEH? Tidak. Sebab kenyataannya banyak orang memberi nasehat atau saran kepada orang lain yang bercerita tentang masalah yang dihadapi. Padahal, dia tidak bermaksud meminta nasehat atau saran. Hal ini semata-mata banyak orang Indonesia yang kurang memahami aspek kejiwaan orang lain. Sehingga muncullah kebiasaan buruk yang seharusnya tidak perlu terjadi. Logikanya: “Tidak meminta kok diberi”.

Kenapa orang menceritakan masalahnya tetapi tidak meminta nasehat atau saran kepada Anda?

Antara lain:

-Sekadar bercerita agar orang lain tahu kalau dia punya masalah
-Hanya sekadar bercerita untuk mengurangi beban psikologisnya
-Hanya ingin bercerita saja daripada tidak ada yang diceritakan
-Hanya ingin mengetahui respon atau tanggapan Anda
-Ingin memancing reaksi Anda
-Ingin mengumpulkan pendapat untuk bahan artikel atau buku yang akan diterbitkan
-Untuk mengetahui kadar berlogika Anda
-Ingin mengetahui pola pikir Anda
-Ingin memancing bahwa Andapun punya masalah dan seseorang itu ingin mengetahui masalah Anda
-Sebenarnya sudah tahu solusinya tetapi belum dilakukan
-Apa yang akan Anda katakan sebenarnya sudah dia pikirkan dan sudah dia lakukan
-Ada orang yang tersinggung kalau diberi nasehat atau saran, sebab dia sesungguhnya lebih tahu masalahnya dan tahu solusinya dibandingkan orang lain
-Jika Anda memberi nasehat atau saran padahal tidak diminta, bisa menimbulkan kesalahpahaman
-Dan motivasi lainnya yang pada dasarnya tidak ingin meminta nasehat atau saran Anda

Lantas, bagaimana sikap Anda sebaiknya?

-Sebaiknya sebagai pendengar yang baik
-Biarkan dia bicara sepuas-puasnya
-Jika perlu bertanyalah sebanyak-banyaknya
-Berikan rasa simpati dan empati Anda kepadanya
-Jangan sesekali menyalahkan apalagi menggurui
-Jangan sesekali memberi nasehat atau saran

Memberi nasehat atau saran kalau diminta

Nah, saatnya dia meminta nasehat dan saran, berilah nasehat dan saran dengan syarat Anda benar-benar memahami masalahnya dan memahami “teori solusi” atau “decision making” atau “flowchart thinking” atau “pohon keputusan” atau nasehat yang benar-benar  realistis sesuai kemampuan, situasi dan kondisi yang bersangkutan.

Nasehat dan saran yang baik

Antara lain:

-Sebelum memberi nasehat atau saran, tanyakan dulu apa yang telah dilakukannya
-Fokus anya pada masalahnya
-Jangan membandingkan dengan masalah Anda atau masalah orang lain
-Jangan terkesan menggurui, sok mengerti atau sok tahu
-Nasehat atau saran harus realistis sesuai dengan situasi dan kondisi yang bersangkutan
-Menggunakan metode bertanya
-Sesuai kemampuan yang dimiliki seseorang ang memnta nasehat atau saran
-Berikan alasan (satu nasehat/satu saran satu alasannya)
-Berikan kebaikan dan keburukan nasehat/saran Anda
-Berikan motivasi

Memberi nasehat dan saran tidaklah mudah

Asal memberi nasehat/saran memang mudah. Bahkan sangat mudah. Tetapi memberikan nasehat/saran yang benar-benar sesuai dengan masalah yang dihadapi seseorang tidaklah mudah. Karena, banyak hal yang harus dipahami. Antara lain:

-Harus memahami masalah
-Harus memahami situasi dan kondisi d mana masalah itu terjadi
-Harus memahami kepribadian ataupun watak si peminta nasehat

Kekecualian (berlaku secara umum, tidak kepada per pribadi atau per kasus)

-Memberi nasehat kepada anak-anak, murid-murid,mahasiswa-mahasiswa atau warga-warga
-Memberi nasehat kepada para narapidana
-Memberi nasehat kepada sahabat-sahabat dekat Anda atau orang-orang dekat Anda
-Memberi nasehat kepada para pengemudi kendaraan terutama saat mudik
-Memberi nasehat (semangat) kepada orang yang sakit atau dirawat di rumah sakit
-Memberi nasehat terhadap orang-orang yang cara bernalarnya keliru (apalagi di bidang agama)
-Memberi saran pada akhir sebuah skripsi
-Memberikan saran kepada pemerintah agar meningkatkan pelayanan publik
-Memberi saran buanglah sampah pada tempatnya
-Memberi saran agar tidak merokok di angkutan umum atau di tempat umum
-Dan lain-lain.

Kekecualian

-Anda menulisnya dalam bentuk artikel ataupun buku
-Artikel atau buku bersifat umum dan hanya berlaku untuk yang membutuhkan

Misalnya:

Artikel atau buku berjudul “Mari Belajar Ber-“Positive Thinking”

Buku yang berisi nasehat atau saran ini hanya ditujukan untuk yang membutuhkan. Bagi yang tidak membutuhkan tidak perlu membeli dan tidak perlu membacanya.

Salah memberi nasehat/saran, bisa fatal akibatnya

Kadang-kadang bisa terjadi, ketika seseorang melaksanakan nasehat/saran Anda, justru akibatnya sangat fatal.

Misalnya:

Anda menyarankan kepada seorang isteri untuk meminta cerai secara baik-baik, karena hampir tiap hari dianiaya suaminya. Ketika nasehat Anda dilaksanakan, justru suaminya marah luar biasa. Dan malam harinya, isterinya dibunuh.

Nah, bagaimana?

Hariyanto Imadha
Pngamat Perilaku
Sejak 1973


Kategori