Oleh: psikologi2009 | Oktober 21, 2012

PSIKOLOGI: Agama Bukan Pengubah Perilaku Moral Manusia

PENGANTAR:

Untuk memahami maksud artikel ini, Anda harus memahami psikologi, ilmu bahasa, ilmu logika dan ilmu filsafat.

ADA persepsi yang keliru yang mengatakan bahwa agama bisa mengubah perilaku moral manusia. Kekeliruan ini sudah berlangung puluhan, ratusan, ribuan dan mungkin jutaan tahuun lamanya. Keke;iruan itu terjadi karena kurangnya pemahaman tentang imu bahasa, ilmu logika dan psikologi. Sehingga, terjadilah kesimpulan-kesimpulan yang keliru.

Apakah agama itu?

Tiap agama mungkin punya definisi yang berbeda-beda. Namun dari rangkuman berbagai definisi, pada hakekatnya agama adalah pedoman perilaku manusia, agar berbuat baik dan menjauhi perbuatan yang buruk.

Agama bukan pengubah perilaku moral manusia

Konsekuensi daripada definisi tersebut adalah, bahwa agama bukanlah pengubah perilaku moral manusia. Buktinya adalah, banyak korupsi di Indonesia justru dilakukan oleh orang-orang beragama. bahkan rajin beribadah atau bahkan ada yang sudah naik haji. Ini fakta yang tidak tidak bisa dibantah.

Agama bukan penentu perilaku moral manusia

Dengan demikian agamapun tidak bisa menentukan manusia pasti akan berubah dari perilaku moral buruk menjadi perilaku moral yang baik. Agama tidak mempunyai kekuatan sedikitpun untukmenentukan perilaku moral.

Agama adalah pemengaruh perilaku moral manusia

Karena agama adalah pedoman perilaku moral, maka agama adalah pemengaruh perilaku moral manusia. Sejauh mana efektivitas pengaruhnya tentu tergantung dari kuat mana antara penyampai pengaruh dengan penerima pengaruh.

Teori psikologi terhadap perilaku moral manusia

Teori yang sudah lama mengatakan bahwa, sewaktu manusia lahir, dia bagaikan tabularasa. Bagaikan selembar kertas putih yang belum ditulisi. Masih merupakan manusia suci.

Pengaruh lingkungan terhadap perilaku moral manusia

Dalam perkembangannya, manusia akan dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Bahkan ada teori yang mengatakan “environtment has more effects on individual than heredity” (faktor lingkungan lebih berpengaruh terhadap perilaku moral manusia daripada faktor keturunan).

Pengaruh kepribadian terhadap perilaku moral manusia

Namun teori lain mengatakan bahwa manusialah yang menentukan dia bisa dipengaruhi atau tidak dipengaruhi lingkungan. Misalnya, walaupun teman-teman sekantornya korupsi semua, namun kalau dia punya kepribadian yang kuat, maka dia tak akan terpengaruh melakukan korupsi, walaupun agama dia lemah. Kekuatan kepribadian lebih ditentukan oleh kekuatan pemikiran-pemikiran yang rasionalitas.

Kuat mana pengaruh lingkungan atau pengaruh kepribadian yang kuat?

Jawabannya, terganttung mana yang lebih kuat. Apabila pengaruh lingkuungan lebih kuat, maka lingkungan akan menentukan perilaku moral. Sebaliknya, apabila kepribadian yang kuat, maka kepribadianlah yang akan menentukan perilaku moral.

Dengan kata lain, kepribadian yang kuat akan menentukan perilaku moral diri sendiri.

Kalau begitu, agama tidak perlu?

Perlu, bagi manusia-manusia yang berkepribadian lemah maupun manusia-manusia yang berkepribadian yang kuat. Agama sebagai pedoman perilaku harus dipahami dan dihayati setiap orang yang beragama. Sebab, agama sebagai pemengaruh, sangat penting untuk mempengaruhi manusia-manusia yang berkepribadian lemah dan memperkuat perilaku moral manusia-manusia yang berkepribadian kuat.

Tergantung kekuatan antara pemengaruh dan yang dipengaruhi

Karena agama adalah pemengaruh, maka tergantung dari kekuatan pihak yang mempengaruhi dan yang dipengaruhi. Sebuah pendidikan agama yang tidak efektif, tidak akan bisa mempengaruhi pribadi-pribadi yang lemah, apalagi mengubah atau menentukan perilaku moral buruk menjadi baik, sebab kepribadian yang lemah lebih kuat daripada pengaruh agama. Akibatnya, banyak umat beragama tetapi tetap korupsi.

Tergantung kepandaian sang pemengaruh

Dengan demikian, apakah perilaku moral buruk bisa berubah atau tidak, tergantung efektivitas dan kepandaian sang pemengaruh (misalnya penceramah agama) di dalam mempersuasi, transfer pengetahuan dan kemampuan dalam mengubah mindset yang keliru yang dimiliki pribadi-pribadi yang lemah.

Kesimpulan:

1.Agama adalah pedoman perilaku moral dan pemengaruh perilaku. Bukan pengubah ataupun penentu perilaku moral.

2.Penentu atau pengubah perilaku moral adalah manusia itu sendiri, yaitu memperkuat kemampuan rasionalitas di dalam memotivasi diri sendiri untuk berubah menjadi lebih baik.

3.Agama tetap diperlukan dalam proses mempengaruhi mindset seseorang.

4.Efektif atau tidaknya pengaruh agama, tentu ditentukan oleh penyampai pengaruh atau penceramah agama atau guru agama. Kalau penyampai pengaruh tidak mempunyai kemampuan persuasi, komunikasi dan memotivasi dalam mengubah midset yang keliru menjadi mindset yang benar, maka perilaku moral buruk tidak akan berubah. Sebaliknya, jika penyampai pengaruh  mempunyai kemampuan persuasi, komunikasi dan memotivasi dalam mengubah midset yang keliru menjadi mindset yang benar, maka efektiflah peranan agama di dalam mengubah perilaku moral buruk menjadi baik.

5.Selama ini peranan guru agama hanya sebagai pengajar. Unsur mendidiknya sangat kurang.

6.Pada akhirnya, “myself” (pribadi yang kuat)-lah yang menentukan untuk mengubah perilaku moralnya.

Catatan khusus:

Negara New Zealand terpilih sebagai negara bebas korupsi nomor satu di dunia. Bukan karena faktor perilaku moral, bukan karena faktor agama dan lain-lain, tetapi karena faktor manajemen birokrasi yang profesional. Denagn demikian, banyaknya korupsi di Indonesia karena faktor manajemen birokrasi yang tidak profesional. Buktinya, Kota Solo di era Walikota Jokowi, angka korupsinya turun drastis. Begitu juga Basuki TP, saat menjadi Bupati Kabupaten Belitung Timur, angka korupsinya turun sangat signifikan. Kenapa? Karena Jokowi dan Basuki TTP menerapkan manajemen birokrasi yang profesional.

Hariyanto Imadha
Pengamat perilaku
Sejak 1973


Kategori