Oleh: psikologi2009 | Oktober 30, 2012

PSIKOLOGI : Berbeda Pendapat Itu Ada Caranya

WALAUPUN sudah punya gelar S1, S2, S3 atau bahkan punya predikat Profesor, ternyata banyak juga yang tidak tahu caranya berbeda pendapat. Asal buka mulut, asal ngomong, asal ngeyel dan asal bunyi. Kalau sudah begini, untuk apa punya gelar sarjana? Gelarnya intelek tetapi cara bicaranya tidak intelek. Hal ini berdasarkan hasil pengamatan penulis di berbagai komentar di Facebook, blog maupun acara-acara diskusi atau debat di televisi.

Lantas, bagaimana cara berbeda pendapat yang baik?

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

1.Memahami esensi pembicaraan

2.Memahami titik tolak pembicaraan

3.Memahami maksud pembicaraan

4.Menggunakan metode “Yes But”

5.Menghargai pendapat orang lain

6.Menegaskan bahwa kita punya pendapat berbeda

7.Memberikan argumentasi yang sangat masuk akal

8.Sedapat mungkin disertai bukti-bukti atau contoh-contoh

Contoh:

Si A mengatakan bahwa idealnya sema TKI di luar negeri dibekali HP sehingga memudahkan pemantauan. Sebab, kalau dipantau satu persatu secara langsung tentu tidak mungkin karena melibatkan terlalu banyak orang dan memerlukan biaya yang sangat besar. Dengan adanya HP maka tiap HP bisa dipantau setiap saat. Atau, tiap saat tiap TKI bisa melaporkan kondisinya secara berkala.

Si B tidak setuju. Sebab HP TKI bisa saja disita majikannya. Lebih baik pemerintah Indonesia membuat perjanjian antarnegara yang sifatnya melindungi semua TKI sehingga jika ada kasus-kasus TKI bisa diselesaiakan secara hukum.

Kelihatannya perbedaan pendapat itu biasa. padahal, sebenarnya Si B tidak memahami maksud daripada gagasan Si A. Si B tidak tahu titik tolak pemikiran Si A. Si B juga tidak tahu apa maksud daripada Si A. Sebenarnya, gagasan Si A bersifat “preventif”, sedangkan gagasan Si B bersifat “kuratif”. Tentu, Logika Preventif dan Logika Kuratif adalah dua hal yang berbeda. Dengan kata lain Si B dalam posisi OOT (Out Of Topic).

Berdasarkan contoh di atas, maka ada beberapa hal yangg perlu diperhatikan:
1.Memahami esensi pembicaraan

Apa sih esensi pembicaraan Si A? Esensi pembicaraan Si A adalah tindakan preventif. Yaitu bisa memantau atau menerima laporan TKI setiap saat. Untuk itu perlu dibentuk Call Center TKI. Jika ada HP TKI yang tidak bisa dihubungi, mungkin ada masalah dan untuk itu perlu adanya pemantauan secara langsung. Itulah esensi  gagasan Si A. Jadi, Si A harus fokus pada gagasan HP iti beserta masalah-masalah yang mungkin timbul dan mencari solusinya. Dan bukannya mengalihkan fokus ke hal-hal yang bersifat kuratif.

2.Memahami titik tolak pembicaraan

Apa sih titik tolak pembicaraan Si A? Titik tolak pembicaraan adalah perlunya pemantauan yang efektif. Sebab, kalau dilakukan secara langsung tentu membutuhkan tenaga dan biaya yang sangat banyak. Jadi, dasar pemikirannya adalah efisiensi dan efektivitas.

3.Memahami maksud pembicaraan

Apa sih maksud pembicaraan Si A? Maksudnya adalah, jika ada HP TKI yang tidak bisa dihubungi atau dalam waktu satu bulan (misalnya) TKI tidak melaporkan kondisinya ke Call Center TKI, maka perlu pemantauan langsung. Mungki HP-nya rusak, mungkin HP-nya hilang, mungkin HP kehabisan pulsa,mungkin HP-nya disita majikan. Dan bisa diketahui masalah-masalah lain secara dini (jika ada).

4.Menggunakan metode “Yes But”

Bagaimana cara berbeda pendapat? Berbeda pendapat tetap pada fokus HP untuk TKI. Jangan dialihkan pada yang bukan HP TKI. Katakan gagasan Si A baik. Hargai pendapat Si A. Tetapi, katakan kekurangan-kekurangan atau kelemahan-kelemahannya (jika ada) dan berikan solusi-solusinya yang terbaik (yang realistis). Boleh tidak tentanh HP TKI asal masih di dalam fokus “preventif”.

5.Menghargai pendapat orang lain

Bagaimana menghargai pendapat orang lain? Harus menggunakan kata-kata yang sopan. Jangan menggunakan kata-kata “Ah, kamu teoritis”. “Kamu bisanya cuma mencela”, “Nggak tahu kondisi lapangan sih,kamu”. Dan jangan menggunakan kata-kata yang sifatnya menyerang pribadi Si A.

6.Menegaskan bahwa kita punya pendapat berbeda

Bagaimana cara kita mengatakan bahwa pendapat kita berbeda? Tentu, tidak perlu mengatakan pendapat Si A salah. Tetapi kalau ada salah istilah atau salah pemahaman, bolehlah dikoreksi. Selalu mengatakan “Ya, ini pendapat saya, sih. Mungkin benar,mungkin salah”. “Pendapat Anda benar, cuma sepertinya kita berbeda sudut pandang”.

7.Memberikan argumentasi yang sangat masuk akal

Bagaimana membuat argumentasi yang sangat masuk akal? Tentu, argumentasi yang masuk akal adalah argumentasi yang realistis. Realistis karena kemungkinan besar SDM-nya ada, dananya ada, situasinya memungkinkan dan besar kemungkinan bisa dilaksanakan.

8.Sedapat mungkin disertai bukti-bukti atau contoh-contoh

Bagaimana cara memberikan contoh-contoh? jangan asal membantah kalau kiita tidak bisa memberikan contoh-contoh, baik contoh-contoh non-fakta (tetapi realistis) atau contoh-contoh yang memang pernah terjadi. Denggan adanya contoh-contoh, maka itu merupakan bobot untuk meyakinkan bahwa pendapat Anda yang berbeda memang bisa dipertanggungjawabkan.

Kesimpulan:

1.Hargai pendapat lawan bicara

2.Jangan menerang pribadi lawan biicara

3.Katakan perbedaan pendapat tanpa menyalahkan pendapat lawan bicara

4.Beri argumentasi yang masuk akal beserta contoh.

5.Jangan mengalihkan fokus pembicaraan.

Semoga bermanfaat.

Hariyanto Imadha
Pengamat perilaku
Sejak 1973


Kategori