Oleh: psikologi2009 | Desember 10, 2012

PSIKOLOGI : Bagaimana Cara Menyikapi Perbedaan Pendapat

FACEBOOK-BagaimanaCaraMenyikapiPerbedaanPendapat

SERING penulis membaca orang berpendapat “Pendapat orang kan berbeda-beda. Jadi, harap dimaklumi saja”. Nasehat yang tidak jelas. Apakah semua perbedaaan harus kita tolak ataukah semua perbedaan pendapat harus diterima?

Beda “berbeda  pendapat” dan “asal beda pendapat”

Harus dipahami dulu, apa yang dimaksud dengan “berbeda pendapat” dan “asal beda pendapat”

A.Berbeda pendapat

Syarat berbeda pendapat:

1.Punya kompetensi

Maksudnya, kalau Anda memahami ilmu komputer, bolehlah Anda berpendapat. Kalau Anda memahami psikologi, bolehlah Anda berpendapat. Kalau Anda memahami ilmu logika, bolehlah Anda berpendapat. Tentunya faham benar-benar. Bukan faham sedikit-sedikit saja.Artinya, Anda harus punya kompetensi.

2.Bukti kompetensi

Merasa punya kompetensi saja tidak cukup. Anda harus punya bukti kompetensi. Misalnya karya-karya berupa artikel-ertikel atau berupa buku-buku karya Anda.

3.Mampu memahami maksud pendapat orang lain

Walaupun Anda punya kompetensi, punya bukti kompetensi, maka Andapun harus mampu memahami apa maksud pendapat orang lain

4.Memahami ilmu logika formal dan material.

Kalau pendapat selalu menghasilkan kesimpulan benar atau tidak benar, maka Anda harus memahami secara sempurna ilmu logika formal dan imu logika material

5. Objektif

Mampu mengomentari pendapat orang lain tanpa mempersoalkan siapa yang berpendapat. Jadi, yang harus Anda komentari adalah pendapatnya, bukan orangnya.

6.Memahami sudut pandang orang lain

jangan menilai pendapat orang lain dari sudut pandang Anda, tetapi harus dari sudut pandang orang lain. Kalau sudut pandang orang lain adalah psikologi, maka Anda jangan melihatnya dari sudut agama, ekonomi, filsafat, sejarah dan lain-lainnya.

7. Pendapat bisa diterima atau ditolak

Beberapa pendapat memang harus diseleksi. Bisa diterima semuanya, diterima sebagian,ditolak semuanya atau ditolak sebagian. Kalau pendapatnya salah semuanya, ya harus ditolak semuanya. Kalau pendapatnya benar, ya harus diterima semuanya. Diterima atau tidak harus disertai penalaran yang logis dan benar.

B.Asal beda pendapat

Ciri-ciri asal beda pendapat

1.Sangat mudah mengetahui asal beda pendapat, yaitu orang yang tidak punya kompetensi, tidak punya bukti  kompetensi,tidak mampu memahami pendapat orang lain, tidak menguasai ilmu logika formal dan logika material,pendapatnya subjektif (tidak didukung ilmu pengetahuan tertentu), tidak memahami sudut pandang orang lain dan memaksakan pendapatnya seolah-olah pendapatnya sendiri yang benar.

2.SNOB (sok tahu, sok mengerti,sok pintar), sinisme, menyerang orangnya dan bukan pendapatnya, pendapatnya negatif tanpa didukung penalaran.

3.Tidak ada harus ada titik temu

Perbedaan pendapat tidak harus mencari titik temu, tetapi harus mencoba memahami sebuah kebenaran berdasarkan ilmu logika dan ilmu yang kompeten.

4.Biasanya, orang yang asal beda pendapat, tidak punya karya apa-apa. Tidak pernah menulis artikel, opini (di surat kabar),tidak pernah menerbitkan buku dan bukti-bukti kompetensi lainnya.

5.Suka ngeyel (memaksakan pendapat). Kalau pendapatnya ditolak, maka orangnya yang diserang.

C. Lebih baik bertanya

Bertanya itu lebih baik daripada SNOB. Karena dengan bertanya kita akan mendapatkan jawaban-jawaban yang memuat alasan-alasannya.

D.Lebih baik diam

Jika Anda berhadapan dengan orang SBOBm suka ngeyel dan semacamnya, lebih baik Anda diam. Tidak ada gunanya berdebat dengan Snobber yang tidak punya kompetensi apa-apa. Dan jika itu terjadi di Facebook, langsung diblokir saja tanpa memberikan komentar apa-apa. Sebab, ada tipe-0tipe orang yang cara berlogikanya dogmatis-pasif (tidak bisa menerima pendapat orang lain walaupun pendapat orang lain benar).

E.Penulis kritik

Harus dipahami, penulis kritik memang selalu mencari segi-segi negatifnya. Kalau mencari segi positif, maka dia bukanlah seorang pengritik. Mengritikpun harus berdasarkan kompetensi. Bukan asal mengritik. Mengritikpun tidak selalu harus ada saran atau solusi karena tiap kritik punya misi yang berbeda-beda.

Catatan

Berdasarkan hasil survei penulis, 75% orang merupakan orang yang “asal beda pendapat” dan hanya sekitar 25% yang mampu berbeda pendapat dalam arti yang sesungguhnya.

Kesimpulan

1.Berbeda pendapat itu harus berdasarkan kompetensi

2.Asal beda pendapat itu asal pendapatnya berbeda  (tidak berdasarkan kompetensi)

Semoga bermanfaat.

Hariyanto Imadha
Pengamat Perilaku Pemikiran
Sejak 1973


Kategori