Oleh: psikologi2009 | Februari 3, 2013

PSIKOLOGI: Banyak Politisi Mengalami Halusinasi Politik

Image

SESUDAH beberapa bulan penulis mengamati perilaku para politisi, terutama yang tampil di televisi, akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa banyak politisi yang mengalami “halusinasi politik”. Bukan mengada-ada, tetapi faktanya memang benar-benar ada. Bukan karena dibuat-buat, tetapi muncul secara alamiah. Merupakan “real behaviour”.

Apakah halusinasi itu?

Banyak definisi “halusinasi”, mulai dari definisi yang sederhana hingga definisi yang sulit dipahami. Secara awam, halusinasi yaitu sebuah persepsi seseorang yang merasakan adanya sesuatu, merasa melihat, merasa mendengar ada sesuatu, tetapi sebenarnya sesuatu itu samasekali tidak ada.

Ada beberapa macam halusinasi

Halusinasi dapat dibagi berdasarkan indera yang bereaksi saat persepsi ini terbentuk, yaitu

 1.Halusinasi visual

 2.Halusinasi auditori

 3.Halusinasi olfaktori

 4.Halusinasi gustatori

 5.Halusinasi taktil

ad.1.Halusinasi visual

Yaitu halusinasi penglihatan (mata)

Merasa melihat sesuatu, padahal sesuatu itu tidak ada.

Contoh:

Merasa melihat seekor kucing berlari cepat, padahal tidak ada kucing.

ad.2.Halusinasi auditori

Yaitu halusinasi pendengaran (telinga)

Merasa mendengar  sesuatu, padahal sesuatu itu tidak ada.

Contoh:

Merasa ada orang bicara sendiri  di kamar sebelah, padahal tidak ada orang

ad.3.Halusinasi olfaktori

Yaitu halusinasi penciuman (hidung)

Merasa mencium sesuatu, padahal sesuatu itu tidak ada benda yang berbau.

Contoh:

Merasa bau kemenyan, padahal tidak ada kemenyan

ad.4.Halusinasi gustatori

Yaitu halusinasi pengecapan (lidah)

Merasa merasakan sesuatu, padahal sesuatu itu tidak ada.

Contoh:

Merasa makananya asin, padahal tidak memakai garam

ad.5.Halusinasi taktil

Yaitu halusinasi perabaan (tangan)

Merasa meraba sesuatu, padahal sesuatu itu tidak ada.

Contoh:

Merasa tertusuk jarum, padahal tidak ada jarum

Apakah halusinasi politik?

Menurut penulis, ada beberapa macam halusinasi politik.

1.Halusinasi konspirasi

Yaitu merasa adanya konspirasi yang akan menghancurkan partai politiknya, padahal konspirasi itu tidak ada

Contoh:
Ketika seorang pimpinan parpol tersangka korupsi, langsung penggantinya mengatakan ada konspirasi. Padahal, penggantinya tersebut tidak bisa membuktikan secara nyata adanya konspirasi tersebut.

2.Halusinasi ancaman

Yaitu merasa adanya ancaman dari pihak lain, padahal ancaman itu tidak ada

Contoh:
Ketika ada kader parpolnya diciduk KPK, maka pimpinan parpol yang baru mengatakan ada ancaman dari Zionis, Israel dan Amerika, padahal ucapannya itu hanya mengada-ada saja karena tidak didukung fakta-fakta kongkrit.

3.Halusinasi kekuasaan

Yaitu merasa berkuasa mutlak, padahal kekuasaan yang mutlak itu tidak ada

Contoh:

Merasa mampu melawan semua lawan-lawan politiknya padahal realitanya kader-kadernya tidak pernah menjadi mayoritas di parlemen.

4.Halusinasi religius

Yaitu merasa partainya paling religius, padahal beberapa pengurus partainya tidak bersih

Contoh:

Merasa parpolnya sebagai parpol suci, parpol, agama, parpol dakwah, parpol milik Tuhan, parpol pembela agama dan slogan-slogan lain, padahal semua pengurus maupun kader-kadernya bukanlah malaikat. Justru selalu mencari proyek-proyek pemerintah.

5.Halusinasi kemenangan

Yaitu merasa sebagai pemenang pemilu peringkat atas, padahal itu tidak terealisasi

Contoh:

Yaitu merasa memenangkan pemilu dan bahkan akan mencapreskan salah satu kadernya dan merasa yakin akan terpilih, padahal popularitasnya,elektabilitasnya dan akseptabilitasnya rendah.

Saatnya kita menjadi bangsa yang cerdas, yaitu berpikir, berbicara dan bertindak secara nyata berdasarkan fakta yang realistis. Bukan berdasarkan dugaan-dugaan yang bersifat halusinasi subjektif belaka.

Hariyanto Imadha

Pengamat Perilaku

Sejak 1973


Kategori

%d blogger menyukai ini: