Oleh: psikologi2009 | Februari 3, 2013

PSIKOLOGI: Semakin Banyak Orang Indonesia yang Munafik

Image

BEBERAPA puluh tahun yang lalu, penulis artikel ini pernah membaca sebuah buku berjudul “Manusia Indonesia” karya Mochtar Lubis, seorang penulis yang sangat terkenal pada jaman itu. Sebenarnya buku itu merupakan hasil dari pidato kebudayaan dari Mochtar Lubis di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada 1977. Isi buku itu tentang beberapa perilaku buruk sebagian orang Indonesia. Antara lain ialah munafik, tidak mau bertanggungjawab, berperilaku feodal, percaya pada takhyul, dan lemah karakternya. Dalam artikel ini, hanya dibahas perilaku munafik yang akhir-akhir ini semakin merajalela.

Apakah munafik itu?

Secara umum, perilaku munafik adalah perilaku buruk di mana antara kata dan perbuatan tidaklah sama.

Apa ciri-ciri munafik?

Secara umum ciri-ciri munafik antara lain:

-Jika berjanji, ingkar

-Jika berkata, tidak benar dan

-Jika dipercaya, berkhianat

ad.Jika berjanji ingkar

Orang Indonesia yang sangat mudah mengucapkan janji, biasanya juga sangat mudah mengingkarinya. Boleh dikatakan seribu kali mengucapkan “Insya Allah”, seribu kali juga mengingkarinya. Dan jika ingkar janji, pada umumnya tidak memberikan alasan atau konfirmasi. Apalagi meminta maaf. Tenang-tenang saja. Seolah-olah merasa tidak bersalah.

Contoh:

Di kalangan politisi, menjelang pemilu atau pilkada, banyak politisi yang mengobral janji. Yang perbaikan infrastrukturlah, yang berjanji harga sembako murahlah, yang berjanji akan meningkatkan kesejahteraanlah, janji menciptakan sejuta lowongan kerjalah, janji mandiri panganlah dan sejuta janji-janji sorga lainnya. Nyatanya, ketika mereka menang atau terpilih, semua janjinya berlalu begitu saja bersama angin.

ad.Jika berkata tidak benar

Cukup banyak orang Indonesia pandai berkata atau berbicara. Begitu pandainya berbicara sehingga sebagian orang Indonesiapun mudah percaya. Belakangan baru tersadar bahwa mereka telah tertipu oleh ucapan-ucapan si pembohong tersebut.

Contoh:

Beberapa nasabah Bank Century disarankan agar pindah menjadi nasabah PT Antaboga Delta Sekuritas Indonesia, karena konon kabarnya bunganya lebih tinggi. Ternyata, uangnyapun lenyap akibat kasus Bank Century yang juga melibatkan kebijakan dari Bank Indonesia.

ad.Jika dipercaya berkhianat

Perilaku ini tidak hanya dilakukan oleh para politisi, tetapi juga oleh segenap lapisan masyarakat. Jika dipercaya, bukannya melaksanakan kepercayaan itu sebaik-baiknya, tetapi justru menyimpang. Memang, karena penampilannya yang meyakinkan, banyak orang terkecoh oleh penampilannya itu. Akhirnya, kepercayaanpun telah berubah menjadi pengkhianatan.

Contoh:

Di kalangan politisi, mereka dipilih sebagai wakil rakyat karena rakyat yang memilihnya percaya bahwa mereka akan menjadi wakil rakyat yang baik. Kenyataannya, setelah menjadi wakil rakyat, justru berkhianat. Antara lain tidak serius memperjuangkan aspirasi rakyat, tidak mau ditemui rakyat dan bahkan menghambur-hamburkan uang rakyat dengan dalih studi banding dan lain-lain.

Berbagai bentuk kemunafikan lainnya

Di dalam kehidupan yang nyata, banyak orang Indonesia yang berpenampilan sopan santun, ternyata kenyataannya tidak demikian.

Beberapa contoh:

-Kalau mau shalat atau mau ke mesjid, selalu bilang-bilang, kenyataannya di kantor suka memungut pungli

-Kalau mau naik haji, bilang-bilang ke orang-orang satu kampung. Kenyataannya, uang untuk naik haji hasil dari korupsi

-Mendirikan ormas berdalihkan membela kepentingan agama, nyatanya bertindak anarki. Bahkan tindakan anarkinya berdasarkan pesan sponsor yang sekaligus mendanainya

-Mendirikan parpol berazaskan Islam, kenyataannya ingin memenuhi hasrat politiknya untuk berkuasa dan korupsi dari berbagai proyek pemerintah

-Memakai jilbab, berpeci, berpakaian agamais, mengikuti berbagai kegiatan agama, nyatanya pinjam uang cukup banyak tetapi tidak pernah dilunasi

-Mendirikan lembaga pendidikan atau rumah sakit dengan kesan demi mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kesehatan masyarakat, tetapi ternyata kegiatannya bersifat bisnis. Biaya pendidikan atau biaya kesehatan sangat mahal.

-Walaupun sudah mengikuti sumpah jabatan di bawah kita suci, kenyataannya masih melakukan perbuatan tercela yang jelas-jelas melanggar etika maupun norma-norma susila.

-Tiap hari bicara soal ibadah, ayat-ayat dan bicara tentang agama melulu. Tetapi, membuang sampah sembarangan, tidak tertib berlalu lintas, tidak disiplin di kantor, suka melakukan mark up (penggelembungan biaya), korupsi waktu, bekerja tidak efektif karena suka menunda-nunda pekerjaan, suka mengurusi urusan orang lain seolah-olah dia sendiri yang merupakan manusia sempurna dan lain-lain.

-Suka pamer gelar sarjana supaya dianggap pandai dan hebat,  padahal lulusnya tidak cumlaude. Cukup banyak orang yang perilakunya memberi kesan pandai, padahal ilmu pengetahuan atau pengetahuannya sedikit. Antara kesan dan kenyataan tidak ada korelasinya yang signifikan.

-Suka mencela orang lain, terutama karya orang lain, padahal dia sendiri tidak punya karya apa-apa. Atau suka mencela orang lain karena dia mampu berbuat lebih baik daripada apa yang dilakukan orang lain (disebut sombong).

Ciri-ciri munafik  sejati selengkapnya

-Dusta, khianat, fujur dalam pertikaian, ingkar janji, malas beribadah, riya’, mempercepat shalat, sedikit berzikir, mencela orang-orang yang taat dan sholeh; mengolok-olok Al Qur’an, As-Sunnah dan Rasulullah SAW, bersumpah palsu, enggan berinfak, tidak menghiraukan nasib kaum muslimin, suka menyebarkan kabar dusta, mengingkari takdir,mencacimaki kehormatan orang-orang sholeh, sering meninggalkan shalat berjamaah, suka melakukan kerusakan di muka bumi dengan dalih mengadakan perbaikan, tidak ada kesesuaian antara zahir/lahir  dengan batin, takut terhadap kejadian apapun, beruzur dengan dalih dusta, menyuruh kemungkaran dan mencegah kemakrufan, bakhil, lupa kepada Allah SWT, mendustakan janji Allah SWT dan Rasul-Nya, lebih memperhatikan zahir dan mengabaikan batin, sombong dalam berbicara, tidak memahami Ad Din, bersembunyi dari manusia  dan menentang Allah dengan dosa, senang dengan musibah yang menimpa orang-orang beriman dan dengki terhadap  kebahagiaan mereka (Sumber:http://www.al-maarif.com).

Perlu bersikap hati-hati dan waspada

Sikap terbaik bagi kita adalah, jangan mudah terkecoh oleh penampilan seseorang. Orang yang kelihatannya fanatik dalam bidang agama, belum tentu dia orang baik-baik. Orang yang suka pamer gelar-gelar sarjana maupun gelar hajinya, belum tentu dia orang pandai atau benar-benar berperilaku yang baik. Orang yang penampilannya sopan, belum tentu dia bermaksud baik. Orang yang mudah berjanji, belum tentu dia bisa menepati janjinya. Jangan tergiur oleh janji-janji  produk berhadiah, jangan percaya jenis investasi modal kecil dengan hasil milyaran rupiah dan jangan tergiur bisnis yang keuntungannya sangat besar atau deposito yang bunganya sangat tinggi. Oleh karena itu, di dalam pergaulan kita harus berhati-hati dan waspada (bukan bersuudzon).

Saran

Jangan mudah percaya oleh penampilan seseorang.

 

Semoga bermanfaat

Sumber gambar: stapi.wordpress.com

Hariyanto Imadha

Pengamat Perilaku

Sejak 1973


Kategori

%d blogger menyukai ini: