Oleh: psikologi2009 | Maret 8, 2013

PSIKOLOGI: Kalau Anda Merasa Pandai Buatlah Artikel

Image

PENGALAMAN penulis sebagai penulis artikel sejak 1973, baik di surat kabar, majalah, blog, website, Facebook dan lain-lain menunjukkan betapa banyak orang yang bisanya cuma membuat komen/komentar, terutama komentar yang snob (sok tahu, sok mengerti dan sok pintar) bahkan komen sinis, mencela dan menyerang pribadi pembuat artikel. Tetapi kalau penulis cermati, mereka sebagian besar tidak mempunyai satu karya tulispun. Artinya, orang yang suka mencela, biasanya bukan orang yang pandai karena mereka tidak memiliki keberanian menuliskan pendapat-pendapatnya dalam bentuk artikel.

Artikel sebagai manifestasi kepandaian

Menulis karya ilmiah atau nonilmiah berbentuk artikel adalah merupakan kewajiban bagi setiap siswa atau mahasiswa. Sebab, artikel merupakan manifestasi daripada kepandaian seseorang. Di dalam artikel bisa dianalisa kualitas analisa, kualitas penalaran dan kualitas materi yang ditulis oleh seorang penulis. Bahkan sebuah artikel juga bisa mencerminkan sempit atau luasnya wawasan berpikir  si penulis.  Dari sudut psikologi, memang ada hubungannya antara artikel dengan tingkat kecerdasan/kepintaran/kepandaian seseorang.

Artikel juga bisa juga merupakan manifestasi adanya kecerdasan-inovatif dari penulisnya.

Itulah sebabnya, orang yang merasa pandai, pintar atau cerdas wajib membuat artikel. Alasan bahwa seseorang yang merasa tetapi tidak membuat artikel dengan alasan tidak ada waktu, tidak sempat, tidak ada gunanya, belum berpengalaman, tidak punya bakat, tidak berminat, tidak hobi, tidak perlu, tidak wajib  dan alasan-alasan lain adalah alasan yang bersifat kompensasi. Hanya menutupi jati dirinya yang sebenarnya tidak pandai.

Orang tidak pandai bisanya cuma membuat komen negatif

Salah satu ciri khas orang yang tidak pandai adalah bisanya cuma bisa membuat komen-komen negatif tanpa mampu membuat artikel yang berkualitas, bermanfaat dan bersifat alternatif-solusif. Apalagi di Facebook, jumlah orang  snob (sok tahu, sok mengerti dan sok pintar) seringkali muncul. Ciri-cirinya yaitu cuma bisa membuat komen-komen negatif tetapi tidak pernah membuat artikel yang berkualitas.

Takut mendapat kritik dari para pembaca

Orang yang tidak pandai juga takut membuat artikel karena takut artikelnya dikritik banyak orang. Itulah sebabnya, orang yang tidak pandai merasa lebih aman dalam posisi “merasa pandai”, bersikap narsis (memuji diri sendiri) tetapi hasil karyanya nol besar.

Suka ngeyel

Orang yang tidak pandai lebih suka ngeyel daripada menerima pendapat orang lain yang benar. Dengan cara ngeyel itu orang yang tidak pandai merasa aman dan merasa harga dirinya terlindungi. Sebab, kalau dia menerima pendapat orang lain yang benar, dia merasa harga diri dan gengsinya jatuh. Cara berlogikanya yaitu dogmatis-pasif, yaitu cara berlogika yang enggan menerima pendapat-pendapat yang berbeda walaupun pendapat itu benar.

Sulit disembuhkan

Orang yang merasa pandai (tetapi tidak pandai) bukanlah orang yang sakit jiwa, tetapi merupakan sikap mental yang buruk yang sulit disembuhkan, kecuali ada kemauan yang keras dari orang itu sendiri. Banyak orang yang merasa pandai (tetapi tidak pandai) mempertahankan sikapnya demikian seumur hidup. Sampai akhir hidupnya, orang yang demikian tidak pernah membuat satu artikelpun. Menurut hasil sutvei, 1 dari 8 orang memiliki pribadi yang demikian, yaitu pribadi snob (sok tahu, sok mengerti dan sok pintar). Seumur hidup hanya “merasa pandai” (padahal tidak pandai). Seumur hidup, tidak satu artikelpun yang pernah dibuat.

Kesimpulan

Kalau cuma membuat komen-komen negatif di surat kabar, blog, website, Twitter, Facebook dan media massa lainnya tanpa mampu membuat artikel yang berkualitas, siswa SD juga bisa melakukannya.

 

Hariyanto Imadha

Pengamat Perilaku

Sejak 1973


Kategori

%d blogger menyukai ini: