Oleh: psikologi2009 | April 2, 2013

PSIKOLOGI: Punya Mobil Tapi Nggak Punya Otak

Image

KEMACETAN lalu lintas memang bisa membuat orang menjadi stres dan stres bisa membuat orang emosional. Sedangkan emosional bisa membuat rasio atau otak tidak bisa berproses secara optimal. Akibatnya adalah perilaku yang tidak rasional. Tidak peduli kepentingan orang lain. Dan otak yang tidak berfungsi dengan baik cenderung menimbulkan perilaku bodoh. Artikel ini merupakan pengalaman saya mengendarai motor di Jabodetabek. Seringkali berhadapan dengan pengemudi mobil yang “nggak punya otak”.

Beberapa pengalaman tersebut antara lain:

1.Menyalip dan mendadak belok kiri

Lokasi di Pondok Indah. Ketika saya mengendarai motor tiga roda berkanopi (saya bukan orang cacat) di Pondok Indah dengan kecepatan sedang, tiba-tiba ada mobil meyalip saya dan mendadak belok kiri. Walaupun sudah memberi sign, tapi karna mendadak itu menyebabkan sayapun menginjak rem secara mendadak juga. Hampir menabrak mobil itu. Jelas, pengemudi tidak memiliki kesabaran. Seharusnya: biarkan motor saya lewat, kemudian bolehlah belok kiri. Dasar nggak punya otak!

2.Mendadak memotong jalan

Lokasi: Bintaro. Seperti biasa, motor sya berjalan dengan kecepatan sedang, sekitar 30 km/jam. Mendadak dari kiri, jalan kecil, meluncur dengan cepat sebuah mobil. Tepat di depan motor saya. Tentu saya terkejut. Dan me-rem mendadak.Hampir saya menabrak mobil itu. Seharusnya:,pengemudi mobil tahu bahwa kendaraan di jalan utama harus diutamakan. Biarkan motor saya lewat, kemudian setelah aman boleh memotong jalan. Dasar nggak punya otak!

3.Parkir menghalangi

Lokasi: Pamulang. Ketika mampir di IndoMaret, motor saya parkir di tempat parkir. Namun ketika saya keluar dari IndoMaret, motor tidak bisa keluar karena terhalan sebuah mobil yang diparkir. Terpaksa, saya menunggu sekitar 20 menit, baru pemilik mobilnya keluar. Seharusnya, pengemudi mobil tahu kalau mobilnya menghalang-halangi motor saya. Toh masih ada tempat lain untuk parkir mobil. Hanya memikirkan diri sendiri saja. Dasar nggak punya otak!

4.Melewati polisi tidur diklakson

Lokasi: BSD City, Tangerang Selatan. Seperti biasa, tiap melewati polisi tidur, motor dan bahkan semua kendaraan harus berjalan pelan. Namun, ketika saya melewati polisi tidur, mobil di belakang saya membunyikan klakson berkali-ali secara emosional. Seharusnya pengemudi mobil tahu kalau melewati polisi tidur harus berjalan pelan, apalagi polisi tidurnya agak tinggi. Dasar nggak punya otak!

5.Menunggu kendaraan lewat, diklakson juga

Lokasi: Kebayoran Baru. Ketika saya keluar dari sebuah jalan pertigaan, maka untuk belok kanan saya harus menunggu adanya mobil dari kanan yang akan lewat. Tentu, saya harus berhenti mengalah karena mobil yang akan lewat berada di jalan utama. Namun, mobi di belakang saya membunyikan klakson berkali-kali. Seharusnya, pengemudi tahu aturan lalu lintas bahwa mobil di jalan utama yang akan lewat harus diutamakan. Dasar nggak punya otak!

6. Disuruh minggir

Lokasi: Senayan. Saat itu memang macet. Jalan penuh dengan kendaraan. Dalam situasi seperti itu, motor tiga roda sayapun memilih berada di belakang mobil, sebab lewat jalan paling kiri tidak memungkinkan untuk motor tiga roda. Kalau motor dua roda bisa. Mobil di belakang saya membunyikan klakson berkali-kali dan melambaikan tangannya yang bermaksud menyuruh saya lewat jalan pinggir saja. Karena tidak memungkinkan, saya tetap cuk dan tetap berada di belakang mobil. Mobil itu terus berkali-kali membunyikan klaksonnya berkali-kali. Seharusnya pengemudi mobil itu bisa membedakan karakter motor tiga roda dengan motor dua roda. Dasar nggak punya otak!

7.Parkir di depan pintu pagar rumah

Lokasi: Di rumah. Pagi-pagi, ketika saya akan keluar menggunakan motor, terpaksa tidak bisa karena ada mobil diparkir di depan pintu pagar rumah saya. Pengemudinya tidakada, mungkin sedang bertamu. Sesudah saya membunyikan klakson berkali-kali, pengemudinyapun datang dan memindahkan mobilnya ke tempat lain. Seharusnya pengemudi mobil tahu bahwa parkir di dpan pintu pagar tidak diperbolehkan karena akan menganggu keluar masuknya orang maupun kendaraan. dasar nggak punya otak!

8.Disuruh mencari jalan lain

Lokasi: Cinere. Sewaktu saya melewati sebuah jalan, ternyata ada sebuah mobil yang baru saja diparkir. Bukan parkir di kiri jalan, melainkan di kanan jalan. Karena di kiri jalan ada mobil parkir dan di kanan jalan kanan ada mobil parkir, maka motor sayapun tidak bisa lewat. Ketika saya bunyikan klakson, dengan kasarnya pengemudi mobil menyuruh saya cari jalan alternatif saja. Seharusnya, mobil itu bisa diparkir di sebelah kiri agak jauh sedikit karena ada tempat kosong. dasar nggak punya otak!

9.Sudah memberi sign belok kanan akan ditabrak

Lokasi: Dekat bundaran Alam Sutera, Tangerang Selatan. Dari kiri jalan, untu bisa putar balik di bundaran Alam Sutera, tentu motor saya harus ambil lajur kanan. Ancang-ancang dari jauh sudah menyalakan sign belok kanan dan sedikit demi sedikit bergeser ke kanan. Dari kaca spion saya lihat mobil di kanan saya bukannya memperlambat jalan melainkan justru mempercepat. Hasilnya, mobil itu hampir menabrak motor saya. Seharusnya, kalau pengemudi mobil itu tidak buta, tentu tahu kalau saya sudah menyalakan sign belok kanan sejak dari jauh. Dasar nggak punya otak!

10.Tidak mau mengalah

Lokasi: Pondok Gede. Jalan Raya Pondok Gede yang menuju ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pasti macet. Saat itu motor sayapun tercebak macet. Tiap jalan 10 meter, berhenti. Ketika ada kesempatan untuk maju lagi, mobil di sebelah kanan saya serong ke kiri merampas jalan saya. Sudah saya klason, tetap tidak perduli. Akhirnya, posisi saya di belakang mobil itu. Seharusnya pengemudi itu menghargai hak saya sebagai sama-sama pemakai jalan. Apalagi itu lajur saya. Tetapi dia menyerobot. Dasar nggak punya otak!

Kesimpulan

Itulah pengalaman saya mengendarai motor tiga roda berkanopi di Jabodetabek. Kemacetan memang bisa membuat orang stres. Stres bisa membuat orang emosional. Dan emosional membuat otak tak berfungsi optimal. Ota yang tidak berfungsi optimal bisa mengakibatkan perilaku yang merugikan orang lain, tidak peduli orang lain, masa bodoh dan memang menjadikan orang menjadi benar-nenar bodoh alias nggak punya otak.

Solusi

Untunglah, penulis sejak 1973 punua hobi baca-baca buku psikologi. Untuk menghadapi kemacetan lalu lintas dan menghadapi orang-orang yang nggak punya otak hanya ada satu cara: bersabar. karena, bersabar itu indah.

 

Semoga bermanfaat.

 

Hariyanto Imadha

Pengamat Perilaku

Sejak 1973


Kategori

%d blogger menyukai ini: