Oleh: psikologi2009 | April 29, 2013

PSIKOLOGI: Suka-Suka Gue Cermin Pribadi Egoistis

Image

DI DALAM pergaulan offline maupun online, kadang-kadang kita mendengar atau membaca kalimat “Suka-suka gue,dong”. Kedengarannya biasa-biasa saja. Padahal, kalimat itu merupakan cermin dari seseorang yang mempunyai pribadi egoistis.

Ciri-ciri pribadi egoistis

1.Tidak peduli nasehat orang lain

2.Baginya benar atau salah ukurannya adalah dirinya sendiri dan bukan orang lain

3.Suka membantah

4.SNOB (sok tahu, sok mengerti dan sok pintar)

5.Kurang disukai dalam pergaulan

6.Sulit menerima kebenaran yang sejatinya

7.Suka melanggar norma sosial, hukum dan agama

8.Tidak bisa menghargai pendapat orang lain

9.Mudah tersinggung dan suka ngeyel

10.Mengidap psikopat

1.Tidak peduli nasehat orang lain

Baginya, nasehat orang lain tidak penting, walaupun orang yang menasehati adalah orang yang berwawasan luas. Baginya, berwawasan luas atau tidak, tidaklah penting. Baginya, menerima nasehat orang lain sama saja mengakui kebodohannya. Atau, menganggap nasehat sebagai pembodohan terhadap dirinya. Padahal, dia bukanlah orang yang cerdas. Bahkan, IQ-nya pun rata-rata saja.

Contoh di Facebook:

Status:” Sebaiknya kalau memakai nama atau username jangan memakai nama samaran, karena akan mempersulit orang lain yang akan mencari teman lamanya”

Komentar:” Suka-suka gue,dong! Ngapai lu ngurusin urusan orang lain”

2.Baginya benar atau salah ukurannya adalah dirinya sendiri dan bukan orang lain

Benar atau salah bukan menurut orang lain, tetapi menurut dirinya sendiri. Padahal, dia tak pernah belajar ilmu logika. Sehingga cara berlogikanya adalah logika awam atau logika spekulatif. Kebenarannya lebih bersifat subjetif daripada objektif.

Contoh di Facebook:

Status:” Memakai gelar S1 dan S2 sekaligus atau S1,S2 dan S3 sekaligus adalah cara memakai gelar yang salah. Yang benar, hanya gelar tertinggi yang boleh dipakai”

Komentar:” Itu urusan pribadi gue! Bukan urusan lu!”

3.Suka membantah

Kalau ada orang lain berpendapat berbeda, pasti dibantahnya. Pasti ngeyel tanpa didukung oleh penalaran yang logis dan benar. Argumentasinya tidak jelas. Comot sana comot sini. bahkan tak jarang argumentasinya berganti-ganti dan melompat-lompat sehingga sudut pandangnya tidak jelas.

Contoh di Facebook:

Status:” Istilah yang benar bukannya polwan, tetapi wanpol”

Komentar:” Istilah wanpol tidak lazim.Yang lazim polwan. Jadi, yang benar polwan”

4.SNOB (sok tahu, sok mengerti dan sok pintar)

Kalau diberitahu yang benar, justru balik menggurui orang yang memberitahui itu. bahkan, merasa lebih tahu, lebih mengerti dan lebih pintar daripada orang yang memberitahunya. Padahal, sesungguhnya dia tak faham apa-apa atau hanya memahami kulit-kulit dari hal yang dibicarakan, tetapi merasa tahu banyak.Biasanya, ilmunya sedikit.

Contoh di Facebook:

Status: “Jangan memilih capres berdasarkan pertimbangan suku, agama, ras/bangsa atau antar golongan. Tetapi, pilihlah berdasarkan kualitasnya”

Komentar: “Gue simpatisan Partai ABC. Siapapun yang dicalonkan Partai ABC, akan saya pilih”.

5.Kurang disukai dalam pergaulan

Pada umumnya pribadi egoistis tidak disukai dalam pergaulan, baik di masyarakat, Facebook, Twitter dan lain-lain. Sering dijauhi orang. bahkan kalau dia ada di Facebook atau Twitter, pasti banyak yang meremove, memblokir atau unfollowing. Pribadinya sangat tidak menyenangan.

Contoh di Facebook:

Status:” Sekitar 70% pemilih gampang dikibulin politisi, bodoh dan tidak faham politik”

Komentar:” Ngawur! Para pemilih kan memilih berdasarkan hati nurani. Tidak mungkin salah”.

6.Sulit menerima kebenaran yang sejatinya

Cara pikirnya yang dogmatis-pasif, enggan menerima pendapat orang lain yang lebih mengerti atau lebih kompeten, menyebabkan dia tak tahu dan tak akan menemukan kebenaran sejati. Tak jarang dia menerima hal-hal negatif yang menimpa dirinya akibat sikap yang merasa benar sendiri itu. Padahal, dia sebenarnya melakukan kesalahan.

Contoh di Facebook:

Status:” Gelar H/Hj itu bukan ajaran Islam. Jadi, sebaiknya jangan ikut-ikutan”

Komentar:” Terserah gue, dong. Itu kan urusan pribadi gue. Bukan urusan lu!”

7.Suka melanggar norma sosial, hukum dan agama

Kecenderungan pribadi egoistis cukup jelas. Yaitu, melanggar norma-norma sosial, hukum dan agama. Yang dipakai adalah norma-normanya sendiri. Benar atau salah, baik atau tidak baik, pantas atau tidak pantas, dialah yang menentukan secara subjetif. Bukan orang lain.

Contoh di Facebook:

Status:” Di tempat saya, kalau tidak kerja bakti akan didenda Rp 100.000″

Komentar:” Baru sama ketua RT saja nggak berani protes. Apalagi memprotes presiden”.

8.Tidak bisa menghargai pendapat orang lain

Baginya pendapat orang selalu salah. Tidak mungkin benar. Hanya pendapatnyalah yang benar dan selalu benar, tanpa didukung oleh penalaran-penalaran yang logis dan benar. Pokoknya, apapun yang dikatakan orang lain, jika berbeda dengan pendapatnya,dianggapnya sebagai pendapat yang salah.

Contoh di Facebook:

Status: “Saya baru saja membuat kanopi motor. Anti panas anti hujan. Ini fotonya”
Komentar:” kalau hujan ya pakai mantel hujan. Repot-repot amat pakai kanopi motor”

9.Mudah tersinggung dan suka menyakiti perasaan orang lain.

Pribadi egoistis pada dasarnya mudah tersinggung. Dan kalau sudah tersinggung, maka reaksinya negatif sekali. Antara lain mencela, menghina, memaki orang lain . Dalam pandangannya orang yang tidak menghargai pendapatnya adalah musuh yang harus dimusnahkan.

Contoh di Facebook:

Status: “Ini artikel saya yang baru. Judulnya Ciri-Ciri Faceboker Pengidap Psikopat”

Komentar:” Memangnya gue psikopat? Gue waras,tahu? Lu,tuh yang psikopat!”

10.Mengidap psikopat

Dari butir 1 hingga butir 9 sebetulnya hanya bisa dilakukan pribadi-pribadi yang tidak punya hati nurani (without conscience). Padahal, perilaku tanpa hati nurani merupakan pribadi pengidap psikopat, yaitu pribadi yang selalu berperilaku negatif. Negatif thinking dan negative action.

Contoh di Facebook:

Status:”Ciri-ciri Facebooker pengidap psikopat yaitu suka mencela pembuat status dan suka mencela statusnya”

Komentar: (Keluarlah, sejuta kata-kata kotor yang tidak pantas ditulis di sini).

Kesimpulan

1.Pada dasarnya, Pribadi Egoistis “merugikan” orang lain.

Pada dasarnya pengidap Pribadi Egoistis sulit “disembuhkan”. Sebab menyangkut format berlogika yang salah yang ada di otaknya. Perlu pendekatan-pendekatan psikologis yang mendalam, intensif dan kontinyu. Butuh waktu yang relatif lama. bahkan kadang-kadang sampai usia tua bahkan sampai ajal tiba, Pribadi Egoistis tidak bisa “disembuhkan”. Penyebabnya, cara berlogika yang salah dan tidak adanya kemauan untuk berubah menjadi lebih baik.

2.Perilaku privat yang tidak “merugikan” orang lain, adalah hal normal walaupun terkesan egoistis.

Hariyanto Imadha

Pengamat perilaku

Sejak 1973

Iklan

Kategori

%d blogger menyukai ini: