Oleh: psikologi2009 | Mei 6, 2013

PSIKOLOGI: Haruskah Transportasi Umum Berlantai Tinggi/Rendah?

BusTransJakarta-cicicaradotcom

TRANPORTASI umum yang dimaksud di dalam artikel ini yaitu, bus TransJakarta, bus kota, MetroMini, Kopaja,Mikrolet ataupun angkot pada umumnya. Perlukah lantainya berlantai tinggi? Apa alasannya? Apakah kalau lantainya tinggi otomatis para penumpang akan naik pada halte yang lantainya juga tinggi? Apakah ada jaminan kalau lantainya rendah pasti penumpang akan naik/turun di sembarang tempat walaupun itu bukan halte?

Ada dua macam lantai transportasi umum

1.Bisa ditinggikan.

Khusus kendaraan besar, seperti minibus atau bus kota.

Contoh minibus : Bus TransJogja.

Contoh bus besar : Bus TransJakarta

2.Tidak bisa ditinggikan.

Khusus kendaraan kecil, seperti angkot pada umumnya.

Contoh: Mikrolet, Angkot dan semacamnya.

Perlukah lantai transportasi umum ditinggikan?

Ada dua kemungkinan:

1.Perlu jika menganut sistem setoran (halte juga harus ditinggikan).

Hanya berlaku untuk minibus dan bus besar.

2.Tidak perlu apabila bukan sistem setoran di mana ada kewajiban membuka/menutup pintu hanya di halte.

Ada dua macam sistem keuangan

1.Sistem setoran

2.Tidak sistem setoran (sistem gaji).

Pertimbangan psikologis akibat sistem setoran

1.Sistem setoran mengakibatkan pengemudi berhenti/menaikkan penumpang di mana saja. Di manapun ada calon penumpang, transportasi umum akan berhenti untuk mengambil penumpang. Dan menurunkan penumpang di mana saja sesuai permintaan sebab jika penumpang turun berarti ada kursi kosong untuk calon penumpang berikutnya.

Hal tersebut dilakukan oleh bus besar, minibus (Mikrolet,Kopaja), juga transportasi umum yang kecil (Mikrolet,Angkat dan semacamnya). Akibatnya, turut punya andil terjadinya kemacetan lalu lintas.

2.Sistem buka/tutup pintu hanya pada halte saja.

Sistem ini memaksa penumpang harus naik/turun pada halte, tidak mungkin di jalanan. Hal ini bisa dilakukan kalau:

-Lantai transportasi umumnya tinggi dan atau

-Sistem buka/tutup berlaku secara kendali otomatis dari pengemudi

Bagaimana jika transportasi umum TransJakarta berlantai rendah?

Sebenarnya, walaupun lantai bus Transjakarta rendah dan lantai haltenya rendah tidaklah masalah, asal memenuhi dua hal berikut:

1.Sistem buka/tutup pintu bisa dikendalikan secara otomatis oleh pengemudi

2.membutuhkan tingkat kedisiplinan yang tinggi dari pengemudi dan crew

3.Pintu hanya menghadap ke halte yang menganut “closed system” (prabayar)

4.Tidak menganut sistem setoran.

Bagaimana seharusnya manajemen yang tepat buat Metromini dan Kopaja

-Idealnya semua Metromini dan Kopaja harus diganti baru.

-Wajib lewat di lajur busway jika kebetulan ada lajur buswaynya

-Penumpang meneruskan perjalanan menggunakan bus TransJakarta tidak perlu membayar lagi, tapi sebaliknya penumpang bus TransJakarta yang pindah ke Metromini atau Kopaja harus membayar sesuai tarif.

-Idealnya lantai minibus dan lantai haltenya tinggi untuk menghindari penumpang naik/turun di sembarang tempat yang bisa mengganggu lalu lintas.

-Idealnya dikelola seperti bus TransJogja.

E-Tiket

Idealnya, semua transportasi umum menggunakan sistem e-tiket. Namun ini butuh manajemen yang profesional dan butuh persiapan yang cukup lama (sekitar 10 tahun).

Tingkat kedisiplinan

Jangan disamakan tingkat kedisiplinan orang Indonesia dengan orang-orang di negara maju. Di neagara maju, pengemudi bus akan berhenti hanya di halte dan penumpang akan naik/turun hanya di halte. Walaupun lantai transportasi umumnya rendah. Jangan Anda samakan dengan tingkat kerdisiplinan pengemudi dan penumpang Indonesia yang masih rendah.

Secara teori

1.Untuk mendisiplinkan pengemudi maupun penumpang, maka diperlukan pendekatan sistem (system approach) dan pendekatan psikologi (psychological approach)  yang profesional, efektif dan efisien. Tentu, untuk merealisasikannya butuh waktu.

2. Lantai transportasi umum, tinggi atau tidak tinggi? Tergantung situasi dan kondisinya. Tidak bisa ditarik kesimpulan harus tinggi semua atau harus rendah semua.

3.Transportasi umum yang pintunya bisa dibuka/ditutup secara otomatis oleh pengemudi dan tidak menganut sistem setoran, lantai bus/minibus dan halte tidak harus tinggi.

4.Transportasi umum yang pintunya tidak bisa dibuka/ditutup secara otomatis oleh pengemudi dan menganut sistem setoran, lantai bus dan halte harus tinggi.

Secara praktek

Bus TransBSD dan bus Patas AC, rata-rata pintunya bisa dibuka/ditutup secara otomatis dan pengemudinya digaji karena tidak sistem setoran. Tapi karena lantai busnya rendah, maka faktor psikologi (ketidaksiplinan) dan faktor sistem yang tidak mendukung (lantai bus rendah), maka pengemudi menaikkan/menurunkan penumpang di mana saja.  Antara lain dengan pertimbangan mencari penghasilan tambahan.

Kesimpulan

1.Dari sudut sistem maupun psikologi, lantai tinggi bagi transportasi umum dan lantai tinggi bagi halten memang ada pengaruhnya terhadap tingkat kedisiplinan pengemudi/penumpang, tidak tergantung kepada ada tidaknya sistem  membuka/menutup pintu secara otomatis dan tidak tergantung kepada ada tidaknya sistem setoran.

2.Dengan demikian, dari sudut sistem maupun psikologi, lantai tinggi transportasi umum dan lantai tinggi bagi halte tetap penting diberlakukan selama mayoritas masyarakat Indonesia (pengemudi dan penumpang) yang tingkat kedisiplinannya masih rendah

Sumber foto: ciricara.com

Hariyanto Imadha

Pengamat Perilaku

Sejak 1973


Kategori

%d blogger menyukai ini: