Oleh: psikologi2009 | Juni 30, 2013

PSIKOLOGI: Ada Lima Macam Orang Baik

FACEBOOK-PsikologiAdaLimaMacamOrangBaik

DI DALAM konteks psikologi, yang disebut orang baik adalah orang yang berperilaku baik (good behaviour, good charackter dan good performance). Jadi, menilai orang bukan dari sukunya, agamanya, rasnya, bangsanya, antargolongannya, ibadahnya, gelar sarjananya, gelar hajinya, pangkatnya, jabatannya, kekayaannya dan lain-lain. Tetapi, dilihat dari perilakunya. Artinya, orang yang rajin ibadah, sudah haji/hajah, belum tentu orang baik.

Ada lima macam orang baik

Secara umum, ada lima macam orang baik.

1.Baik stabil

2.Baik sesudah insyaf

3.Baik pura-pura

4.Baik karena ada pamrih

5.Baik imitasi

ad.1.Baik stabil

Yaitu, seseorang yang berperilaku baik sejak kecil hingga dewasa atau sejak TK, SD, SMP, SMA, Universitas hingga saat memasuki usia tua. Orang yang seperti ini termasuk orang yang langka.

Rumus perilakunya: Baik — Baik.

Contoh:

Si A lahir dari keluarga baik-baik. Sejak kecil berperilaku baik. Tidak pernah berbohong, mencuri,menipu dan lain-lainnya. Bahkan ketika Si A dewasa atau menjadi tua, perilaku baiknya tidak berubah. Nilai-nilai baik benar-benar tertanam di hatinya. Hingga tua, Si A tetap dinilai masyarakat sebagai orang yang berperilaku baik.

2.Baik sesudah insyaf

Yaitu orang yang berperilaku baik sesudah dia sadar, insyaf atau bertaubat atas perbuatan tidak baik yang selama ini dilakukannya. Selanjutnya dia berjanji atas nama Tuhan akan berperilaku baik selama-lamanya.

Rumus perilakunya: Buruk — Baik

Contoh:

Si B dulunya adalah pemakai narkoba. Suatu saat dia insyaf. Rajin ikut pengajian. Rajin beribadah. Rajin membaca Al Qur’an. Karena tekun, Si C pun ditunjuk teman-temannya untuk menjadi ustadz. Hingga menjadi ustadz, Si C tetap berbuat baik. bahkan sampai saat sebelum meninggalpun, perilaku Si C tetap baik.

3.Baik pura-pura

Yaitu orang yang sebenarnya perilakunya kelihatannya suci dan agamais, tetapi memaksakan diri tampil dengan perilaku seolah-olah baik. Rajin ikut pengajian, rajin beribadah dan aktif dalam organisasi agama maupun parpol berbasiskan agama. Tapi begitu ada kesempatan korupsi, ya korupsi juga.

Rumus perilakunya : “Baik” — Buruk

Contoh:

Si C kebetulan sejak kecil aktif dalam pengajian hingga dewasapun tetap rajin beribadah. Namun saat dewasa, Si C punya ide mendirikan parpol dengan tujuan seolah-olah pro rakyat. Padahal, tujuan sesungguhnya adalah ingin memperkaya dirinya sendiri sekaya-kayanya. Nah, melalui parpolnya, Si C pun melakukan korupsi besar-besaran. Sok agamais.

4.Baik karena ada pamrih

Yaitu orang yang berperilaku baik, tetapi hanya kalau ada pamrihnya. kalau tidak ada pamrih, maka perilakunyapun tidak baik.

Rumus perilakunya: Buruk—Baik—Buruk—Baik

5.Baik imitasi

Yaitu orang yang memang berperilaku seolah-olah baik. Bahkan cara berpakaiannyapun mengesankan dia seorang manajer, atau seorang pengusaha dan semacamnya. Mobil mewah hasil pinjam atau sewa, rumah mewah juga hasil sewa atau kontrak.Hal ini sebagai usaha untuk memberi kesan yang baik bagi orang-orang yang baru mengenalnya. Di balik semuanya dia punya grand design atau rencana besar untuk melakukan penipuan atau korupsi besar-besaran.

Rumus perilakunya: Baik—Baik—Baik—Buruk

Contoh:

Si E mendirikan koperasi simpan pinjam dengan bunga simpanan lebih besar daripada kalau disimpan di bank. Penampilannya meyakinkan. Setelah mengantongi uang ratusan juta atau ratusan milyar rupiah, diapun kabur entah ke mana. Sok jujur.

Nah, menghadapi siapa saja kita harus waspada. Soalnya ada orang yang benar-benar baik, pura-pura baik atau baik hanya kalau ada pamrihnya.

Semoga bermanfaat

Hariyanto Imadha

Behaviour Observer

Sejak 1973


Kategori