Oleh: psikologi2009 | Juli 21, 2013

PSIKOLOGI: Capres Yang Mencapreskan Diri Bukanlah Capres Yang Baik

PSIKOLOGI-CapresYangMencapreskanDiri

KALAU mau jujur, 70% pemilih dalam pemilu atau pilkada, memilih calon pemimpin hanya berdasarkan “ilmu kira-kira” atau “ilmu duga-duga”.  Hal ini karena pemahaman rakyat terhadap politik masih samar-samar. Apalagi sekitar 55% pemilih berpendidikan SD tamat atau SD tidak tamat. Bahkan dikalangan sarjanapun masih banyak yang memilih capres hanya berdasarkan “ilmu kira-kira” tadi. Padahal, hampir semua capres adalah mencapreskan diri berdasarkan ambisi pribadi dan ini dari sudut agama maupun dari sudut psikologi tidak baik. Akibatnya adalah, 70% pemilih terjebak pada pilihan yang salah. Salah pilih.

A.Apa yang dimaksud mencalonkan diri?

Capres yang mencalonkan diri yaitu seseorang yang merasa mampu menjadi capres, tetapi meminta-minta dukungan parpol untuk mencalonkan diri. Bahkan capres ini dengan memakai uang pribadinya memasang iklan mengiklankan diri melalui TV, radio dan surat kabar atau media massa atau media sosial.

Apa alasan capres yang mencalonkan diri tidak baik?

Dari sudut psikologi, mencapreskan diri dengan cara meminta-minta dukungan parpol atau rakyat adalah merupakan manifestasi ambisi pribadi. Berarti berdasarkan keinginan pribadi. Tentu lebih mementingkan kepentingan pribadi daripada kepentingan rakyat.

Apa yang dimaksudkan dengan ambisi pribadi?

Ada beberapa ambisi pribadi dari capres yang mencalonkan diri, antara lain:

-Ingin menang,berkuasa,mendapatkan proyek besar,memperkaya diri dan mempertahankan kekuasaan

-Kalau jadi presiden, punya niat untuk memutihkan semua utang pajak perusahaan-perusahaan pribadinya

-Kalau jadi presiden, akan memberikan ganti rugi yang diakibatkan oleh perusahaan dengancara menggunakan uang APBN yang berasal dari rakyat

-Dan ambisi-ambisi pribadi lainnya.

B.Apa yang dimaksud dengan dicalonkan rakyat?

Yaitu seseorang yang menyatakan siap dicalonkan karena memang benar-benar meyakini mempunyai kemampuan untuk menjadi presiden. Tidak pernah mengemis dukungan dari parpol, tetapi justru dicalonkan atau diminta oleh parpol. Kalau kemudian parpol tersebut mengajak parpol lain untuk mendukung capres tersebut itu sah-sah saja. Kalau kemudian capres tersebut mencalonkan diri atas dana sebagian dari parpol dan sebagian dari capres, itu sah-sah saja. Kalau kemudian capres tersebut mengkampanyekan diri karena sudah diminta parpol, itu sah-sah saja.

Apa yang dimaksudkan dengan bukan ambisi pribadi?

Capres yang tidak berambisi mencapreskan diri mempunyai beberapa sikap:

-Bersikap bersedia dicalonkan tapi tidak minta dicalonkan

-Diusulkan oleh rakyat tanpa adanya rekayasa dari capres tersebut

-Diusulkan oleh parpol yang memintanya sebagai capres

-Mempunyai visi dan missi yang benar-benar pro rakyat

Pendekatan perilaku

Dari sudut psikologi, maka memilih capres haruslah berdasarkan perilaku capres yang bersangkutan. Perilaku capres yang baik antara lain:

-Taat beragama sejak masa kecilnya

-Jujur

-Bersih

-Amanah atau pro rakyat

-Cerdas

-Kreatif

-Tegas

-Berani

-Punya masa lalu yang bersih

-Punya prestasi

Sayang, 70% pemilih belum cerdas memilih

Sayang, 70% pemilih tergolong belum cerdas memilih. Mereka masih memilih berdasarkan kriteria nonkualitas. Misalnya, karena Si A simpatisan parpol A, maka siapapun yang dicapreskan parpol A, akan dipilih. Jadi, sejauh 70% pemilih belum cerdas, maka kualitas pemimpin yang akan dipilih, tergantung kualitas pemilihnya juga.

Kesimpulan

Pemilih yang cerdas akan menghasilkan pemimpin yang cerdas. Sebaliknya, pemilih yang tidak cerdas akan menghasilkan pemimpin yang tidak cerdas pula. (Catatan: Yang dimaksud pemilih cerdas adalah mereka yang memilih berdasarkan kriteria kualitas).

Semoga bermanfaat,

Hariyanto Imadha

Pengamat Perilaku

Sejak 1973

Iklan

Kategori