Oleh: psikologi2009 | Juli 29, 2013

PSIKOLOGI: Mudik Lebaran Dan Perilaku Ikut-Ikutan

FACEBOOK-PsikologiMudikLebaranDanPerilakuIkutIkutan

AKIBAT sistem pendidikan nasional yang tidak berbasiskan logic, maka banyak orang Indonesia yang logikanya lemah. Banyak yang berperilaku emosional. Terpengaruh oleh factor-faktor ekstern, antara lain terpengaruh iklan-iklan di televisi, hasil lembaga survey politik, kampanye-kampanye global say menjelang pemilu/pilkada, janji-janji politisi busuk dan pengaruh-pengaruh eksternal lainnya.

Mudik dan pengaruh lingkungan

Banyak orang mudik Lebaran karena pengaruh lingkungan. Karena teman-teman sekantornya, sekampus, sesekolah atau tetangganya banyak yang mudik, maka seseorang bias terpengaruh dan akhirnya ikut mudik. Seolah-olah ada logika : kalau orang lain mudik, maka sayapun harus mudik.

Hati merasa tidak enak

Banyak orang merasa tidak enak kalau tidak ikut-ikutan mudik. Hatinya merasa bingung, bimbang, ragu, galau dan seribu macam perasaan akan mengganggu perasaannya.

Mudik secara emosional

Akhirnya banyak orang yang mudik secara emosional dalam arti mudik tidak berdasarkan pertimbangan yang rasional. Mudik secara emosional bias dilihat dari perilaku mereka yang tidak rasional pula.

Antara lain:

-Menggadaikan barang-barang

-Menjual barang-barang

-Utang ke sana ke mari

Efek negatif dari mudik yang tidak rasional

-Selesai pulang dari mudik, tidak mampu menebus barang-barang yang digadaikan. Akhirnya barang-barang tersebut dilelang oleh pihak pegadaian

-Barang-barang yang sudah dijual,tentunya dengan harga murah,tidak mungkin akan terbeli lagi. Artinya, harta kekayaannyapun berkurang

-Tidak mampu membayar utang. Atau membayar utang dengan cara utang lagi ke orang yang lain. Akhirnya hidupnya sepanjang waktu terlilit utang.

Resiko mudik

Mudik pun banyak resikonya. Antara lain kecelakaan di darat, laut maupun udara. Kecelakaan sangat dimungkinkan karena kapal terlalu penuh penumpang. Bus berjalan ugal-ugalan. Pesawat udara dalam kondisi tidak layak terbang. Resiko dibius orang tidak dikenal. Resiko dihipnotis dan dirampok. Resiko ditipu. Dan berbagai resiko lainnya yang seringkali di luar dugaan dan tidak mampu diantisipasi.

Munculnya rasa rendah diri atau minder

Ada anggapan yang keliru, seolah-olah tiap lebaran harus memakai baju baru. Anggapan yang salah inilah yang juga menimbulkan perilaku ikut-ikutan. Sebab, kalau tidak ikut memakai baju baru akan merasa malu atau takut diledek orang lain. Oleh karena itu diapun ikut-ikutan beli baju baru. Bahkan sekeluarga memakai baju baru. Padahal, kalau mau berpikir secara rasional, tidak ada kewajiban dalam lebaran untuk memakai baju baru. Yang penting baju atau pakaiannya bersih dan sopan.

Lebih baik tidak usah mudik

Kalau memang merasa tidak mampu mudik, baik secara ekonomi, secara fisik maupun secara psikologis, maka jalan terbaik tidak perlu mudik. Cukup berlebaran di kotanya masing-masing. Harus belajar menerima kenyataan bahwa memang pilihan yang tepat adalah berlebaran di kotanya sendiri. Kalau ingin mengucapkan Selamat Lebaran bisa melalui telepon, handphone, Twitter, Facebook dan sarana komunikasi lainnya.

Mudik di lain hari

Mudik di lain hari juga tidak masalah. Misalnya satu bulan sesudah lebaran. Banyak keuntungannya, transportasi umum tentunya tidak sepadat saat moment mudik. Tiketpun harganya lebih murah dan mudah di dapat. Toh di kampung halaman tettap bias bertemu dengan kedua orang tua atau sanak saudaranya.

Mudiklah secara rasional

Jadi, mudik atau tidak mudik harus berdasarkan pertimbangan yang rasional. Harus mempertimbangkan kemampuan eknomi, fisifik maupun psikologis. Juga harus mempertimbangkan keselamatan, keamanan dan kenyamanan. Semua harus dipersiapkan, diperhitungkan dan diantisipasi secara cermat. Yang penting, kanganlah kita mudik hanya karena perilaku ikut-ikutan karena bisanya peilaku ikut-ikutran sifatnya emosional  dan mengabaikan berbagai resiko.

Hariyanto Imadha

Pengamat perilaku

Sejak 1973


Kategori