Oleh: psikologi2009 | Agustus 27, 2013

PSIKOLOGI: Perilaku Orang Yang Kecanduan Agama Islam

FACEBOOK-PsikologiPerilakuOrangYangKecanduanAgamaIslam

AGAMA adalah pedoman perilaku. Bukan penentu perilaku. Bukan pengubah perilaku. Namun, agama juga  bisa menyebabkan manusia kecanduan. Bukan karena agama itu candu. Tetapi manusianya yang memperlakukan agama sebagai candu. Mungkin sengaja, mungkin juga tidak sengaja. Yang pasti, perilaku mempercandukan agama, terutama agama Islam bisa terjadi kapan saja, di mana saja dan bisa menimpa siapa saja.

Apakah agama itu?

Betul, agama adalah pedoman perilaku. Bukan penentu perilaku. Bukan pengubah perilaku. Sebab, yang bisa mengubah perilaku adalah manusia itu sendiri. Manusia tak akan berubah perilakunya kalau tidak ada kemauan, tidak ada motivasi maupun tidak ada nawaittu. Tetapi, agama bisa merupakan stimulusnya.

Perilaku yang berlebihan

Sebetulnya, belajar agama itu baik-baik saja, apalagi kalau punya cita-cita ingin menjadi guru agama atau ulama Islam yang mumpuni. Tapi kalau berlebihan, tentu membawa perubahan yang cukup radikal dari caranya bernalar yang kemudian berubah pula kebiasaan dan perilakunya. Bahkan, sesudah berubah, sulit kembali ke perilaku aslinya. Kalau berubah baik, tidak masalah. Tapi, bagaimana kalau berubah menjadi buruk?

Perilaku orang yang kecanduan agama Islam

Antara lain:

1.Fanatik sempit.

Merasa agamanya sendiri, kelompoknya sendiri yang paling benar, paling hak dan cenderung membenci atau memusuhi orang-orang yang ada di luar kelompoknya. Mereka lupa bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah mengajarkan kebencian kepada agama lain, melainkan membenci kepada perilaku yang buruk, baik orang lain maupun diri sendiri.

Contoh:
Tidak mau punya lurah nonmuslim, tidak mau punya camat nonmuslim dan tidak mau punya bupati nonmuslim, tidak mau punya gubernur nonmuslim. Padahal, tidak ada peraturan yang mengatakan dan mengharuskan lurah, camat , bupati atau gubernur harus muslim.

2.Waktu habis hanya untuk agama

Pagi, siang, sore,malam dan mungkin dini hari, setiap hari, sepanjang tahun, yang dipikirkan dan yang dilakukan agama melulu. Tidak ada waktu untuk belajar sains dan teknologi. Juga tak ada menambah pengetahuan, keterampilan, kreativitas dan inovasi. Sehingga perilakunya merupakan perilaku yang tidak produktif.

Contoh:

Banyak umat Islam yang tiap harinya berkutat pada ibadah, Al Qur’an, hadis sehingga tak memiliki keterampilan di bidang komputer, tak mempunyai kemampuan membuat artikel-artikel ilmiah, tak mempunyai karya-karya kreatif maupun inovatif.

3.Cara berpikirnya kurang kritis

Antara lain tidak mampu memikirkan mana yang lebih penting dan paling penting. Suka mempersoalkan hal-hal yang sebenarnya bersifat pribadi dan tidak produktif. Suka mengada-ada. Suka membuat peraturan-peraturan yang kurang begitu penting karena ada hal lain yang jauh lebih penting.

Contoh:

Adanya gagasan tes keperawanan. Aturan dilarang membonceng dengan cara duduk ngangkang. Wanita tidak boleh memakai lipstik berwarna merah. Tidak boleh mengucapkan selamat Hari Natal. Tidak boleh memilih capres wanita dan wanita tidak boleh menjadi capres. Mengatakan Facebook dan Twitter itu haram. Tidak boleh makan di resto milik nonmuslim dan pemikiran-pemikiran yang sifatnya kurang produktif. Bahkan tidak produktif karena terlalu mengekang dan mengada-ada.

4.Cara berpikirnya dogmatis-pasif

Ciri-cirinya yaitu enggan menerima pendapat orang lain yang benar atau lebih benar. Merasa pendapatnya sendirilah yang benar, lebih benar, paling benar dan selalu benar tanpa didukung oleh penalaran-penalaran yang objektif dan rasional. Cenderung suka ngeyel.

Contoh

Sudah diberitahu kalau parpol pilihannya adalah parpol korup an anti-Pancasila, namun tetap saja dipilihnya. Merasa bahwa parpol itulah yang terbaik. Soal sikap parpol yang anti-Pancasila tidak dipedulikan lagi. Yang penting suka dan tidak akan berubah pikiran untuk menyukai parpol lain yang jujur.

5.Tujuan menghalalkan segala cara

Walaupun tujuannya mungkin baik, tetaapi cara yang diilakukannya tidak baaik. Cara-cara yang tidak hanya melanggar kaidah-kaidah Islami, tetapi juga melanggar semua norma, termasuk norma etika, norma sosial, norma hukum dan bahkan norma agama.

Contoh:

Bir beralkohol memang tidak baik kalau diminum sampai mabuk. Oleh karena itu ada gerakan untuk mengobrak-abrik dan merusak toko-toko yang menjual bir ataupun minuman keras atau miras. Bahkan, kadang-kadang yang berjualanpun dipukul, disiram kepalanya memakai bir dan tentu dengan umpatan-umpatan yang tidak pantas.

6.Tidak berbudaya Indonesia

Cara berpakaiannya tidak sesuai dengan kebiasaan orang Islam pada umumnya. Melainkaan meniru cara berpakaian orang Islam dari negara-negara Arab. Cara berpakaian orang Indonesia tidak dihargai. Bahkan musik-musik dan tari-tarianpun lebih suka yang berasal dari padang pasir. Tidak tahu lagi apa bedanya budaya Arab dan budaaya Islam. Apalagi budaya Indonesia.

Contoh:

Ormas anarki yaang mengatasnamakan Islam, tetapi perilakunya benar-benar kasar dan di luar kelayakan maupun kepantasaan. Selalu bikin onar di mana-mana. Selalu brutal dan melawan hukum. Bahkan selalu membawa senjata baik senjaata tumpul maapun senjata tajam. Menghalalkan segala cara.

7.Menganggap Syariah Islam sebagai satu-satunya solusi

Mereka lupa bahwa mereka hidup di negara Pancasila. Bukan negara agama. Munculnya negara Pancasila sudah dipelajari dan diperhitungkan dengan cermat oleh para pendiri Republik Indonesia. Walaupun 80% penduduk Indonesia beragama Islam, namun sebagian besar mereka lebih memiliki jiwa nasionalis yang tinggi. Namun, sekelompok orang yang kecanduan agama Islam selalu punya anggapan bahwa Syariah Islam lebih baik daripada Pancasila, sehingga mereka lupa bahwa Indonesia bukanlah negara agama.

Contoh:

Cukup banyak umat Islam yang terkena brainwashing bahwa Syariat Islam layak menggantikan Pancasila karena Pancasila dinilai gagal menegakkan moral bangsa. Mereka lupa bahwa korupsi dan segala bentuk kemaksiatan bukanlah salahnya Pancasila, tetapi salahnya manusia itu sendiri. Aceh sudah lama menerapkan Syariah Islam, tetapi angka korupsinya tiap tahun justru meningkat. Bahkan persentase terbesar pelaku korupsi adalah mereka yang beragama Islam. Artinya, Syariah Islam itu baik, Pancasila itu baik, tetapi kalau manusianya brengsek, maka negarapun brengsek juga.

8.Rumahnya penuh huruf Arab

Orang yang kecanduan agama juga dimanifestasikan dalam bentuk banyaknya huruf Arab di rumahnya. Bisa berupa kaligrafi atau surat atay ayat. Tak ada lagi nilai-nilai artistik atau karya seni yang bersifat kontemporer ataupun pada umumnya. Tak ada lagi benda-benda yang berbudaya moderen. Orangnya juga cenderung gila gelar haji apabila dia sudah naik haji.

Contoh:

Bisa dilihat suasana di ruang tamunya, ruang makannya, kamar tidurnya yang selalu terpampang kaligrafi, gambar Kaabah dan foto-foto saat naik haji. Terkesan pemujaan dan narsis yang berlebihan. Kalau jumlahnya hanya satu dua itu wajar-wajar saaja. Tetapi kalau berlebihan, maka itu merupakan manifestaasi daripada raasa kecanduannya terhadap agama Islam.

9.Membenci negara nonmuslim dan sikap inkonsistensi

Sebenarnya Al Qur’an tak pernah mengajarkan kebencian terhadap nonmuslim, baik Amerika, Yahudi atau lainnya. Umat Islam hanya diwajibkan bersikap hati-hati dan waspada terhadap orang-orang asing terutama jika ada perilakunya yang buruk. Termasuk perilaku buruk dari golongan Islam sendiri.

Contoh:

Kebencian terhadap negara nonmuslim bisa dilihat dengan dirusaknya resto-resto asing, menyerukan boikot terhadap produk-produk makanan atau minuman yang berasal dari negara-negara nonmuslim. Tetapi mereka lupa, kalau naik kendaraan menggunaakan kendaraan  buatan negara nonmuslim, menggunakan ponsel buatan negara nonmuslim, kalaau ceramah menggunakan loudspeaker dan mike buatan negara asing atau nonmuslim.

10. Sikap toleransi beragamanya rendah

Orang yang kecanduan agama Islam cenderung mempunyai tabiat buruk, yaitu mengkafirkan golongan lain yang bukan golongannya sendiri. Mengatakaan sesat kepada agama lain yang dianggap salah dan tidak Islam. Toleransi beragamanya rendah. Bukan hanya sesama agama, tetapi juga dengan agama lain. Mereka tidak menghayati makna kalimat “lakum dinukum waliyadin”.

Contoh:

Adanya komunitas tertentu yang suka merusak tempat-tempat peribadatan. Bahkan membakarnya. Atau melarang umat beragama selain golongannya untuk beribadah. Bahkan dengan ancaman-ancaman. Kalau perlu dengan pengusiran atau penyiksaan. Tidak setuju akan didirikannya tempat peribadatan nonmuslim dengan alasan-alasan yang tidak rasional. Tidak ada lagi hati nurani. Tidak ada lagi perilaku rasional. Semuanya emosional. Tidak cerdas.

Kesimpulan

1.Kecanduan agama Isalm membuat dirinya menjadi umat Islam yang berwawasan sempit. Ibadahnya baik, tetapi cara berlogikanya dan perilakunya kacau balau.

2.Menciptakaan kebodohan bagi dirinya sendiri, keluarganya atau kelompoknya.

3.Tidak kreatif,tidak inovatif sehingga menjadi bangsa yang tertinggal dibandingkan komunitas lainnya.

4.Enggan terhadap perubahan maupun pendapat-pendapat yang benar atau lebih benar. Bahkan tidak mau menghargai pendapat orang lain.

5.Menjadi pribadi yang egois dan emosional.

Itulah ciri-ciri perilaku orang yang kecanduan agama Islam.

Hariyanto Imadha

Pengamat Perilaku

Sejak 1973


Kategori