Oleh: psikologi2009 | September 5, 2013

PSIKOLOGI: 75% Komentar di Kompasiana Tergolong Tidak Berkualitas

FACEBOOK-Psikologi75PersemKomentarDiKompasianaTergolongTidakBerkualitas

SAYA, menjadi penulis dan pengamat perilaku (behaviour observer) sudah sejak 1973 dan mungkin sudah ribuan artikel yang saya buat. Sebagian saya muat di blog pribadi, sebagian di blog orang lain, sebagian dimuat di beberapa surat kabar, sebagian saya muat di Facebook dan sebagian tetap menjadi arsip pribadi. Menulis dan mengamati perilaku merupakan hobi serius yang menyenangkan. Salah satu hasil observasi saya yaitu, saya menilai 75% komentar yang ada di Kompasiana tergolong komentar yang tidak berkualitas.

Komentar yang tidak berkualitas itu yang bagaimana?
Ada beberapa ciri komentar yang berkualitas.

1.Tidak ada argumentasi yang berwawasan luas

2.Tidak sesuai dengan   format logika yang baku

3.Tidak fokus

4.Tidak faktual,

5.Tidak realistis

6.Tidak rasional

7.Tidak objektif

4.Tidak aposteriori

5.Tidak merupakan hasil sebuah analisa

6.Tidak memahami maksud artikel

7.Tidak to the point

8.Tidak  etis

9.Tidak akademis

10.Tidak solutif

Ad.1.Tidak ada argumentasi yang berwawasan luas

Yaitu komentar yang mencerminkan wawasan yang luas. Memandang  sebuah persoalan hanya dari sudut pandang yang sempit seolah-olah tidak terbuka adanya alternatif lain. Seolah-olah pendapatnya sendirilah yang paling benar.

Contoh:

Artikel tentang rencana mengadakan acara Miss World langsung ditanggapi secara negatif. Padahal pihak panitia sudah mengatakan tidak akan ada acara memakai bikini dan akan disesuaikan dengan  norma-etika bangsa Indonesia. Namun tetap saja di”vonis” acara tersebut haram, pornografi dan komentar-komentar negatif yang tidak membuka wawasan yang luas dalam arti bahwa hal-hal yang dianggap negatif sebenarnya bisa ditiadakan.

Ad2.Tidak sesuai dengan   format logika yang baku

Yaitu komentar yang tidak didukung format logika yang benar.

Contoh:

Artikel tentang bahayanya Pancasila kalau diganti dengan ideologi lain. Sebab, korupsi dan kemaksiatan bukanlah salahnya Pancasila, melainkan salahnya manusia sendiri. Letak kesalahan logikanya yaitu, menyalahkan Pancasilanya, tidak menyalahkan manusianya. Artinya, walaupun Pancasila diganti ideologi lain, kalau manusianya brengsek, hasilnya tetap saja brengsek.

Ad.3.Tidak fokus

Yaitu komentar yang menyimpang dari esensi daripada sebuah artikel

Contoh:

Artikel bicara tentang gelar haji/hajah bukanlah ajaran Tuhan, bukan ajaran agama, bukan ajaran Nabi Muhammad SAW, bukan ajaran Islam dan bukan ajaran Al Qur’an. Namun dikomentari bahwa gelar H/Hj sudah merupakan tradisi dan merupakan hak pribadi seseorang. Padahal, bukan itu maksud artikelnya. Artikel itu tidak mempersoalkan tradisi atau bukan dan tidak mempersoalkan itu hak pribadi atau bukan, melainkan semata-mata memberikan pencerahan.

Ad.4.Tidak faktual

Yaitu komentar yang tidak didukung fakta

Contoh:

Artikel tentang rencana pencapresan Jokowi karena elektabilitasnya semakin lama semakin tinggi. Domentari bahwa, di Indonesia mungkin banyak gubernur atau walikota yang jauh berkualitas daripada Jokowi. Ttentu, komentar itu tidak faktual karena faktanya gubernur/walikota lain tidak ada yang mencapreskan diri, tetapi dimasukkan dalam kategori capres. Padahal, faktanya tidak demikian.

Ad.5.Tidak realistis

Yaitu komentar yang tidak mungkin atau sangat sulit direalisasikan

Contoh:

Artikel tentang prediksi terpilihnya Pak De Karwo untuk kedua kalinya, ternyata terbukti. Namun dikomentari bahwa kemenangan Pak De Karwo bukanlah kemenangan para nahdliyin sebab Pak De Karwwo adalah kader Partai Demokrat. Andaikan semua nahdliyin memilih Khofifah dan menang, maka itulah kemenangan para nahdliyin. Tentu saja tidak realistis kalau 100% nahdliyin memilih Khofifah sebab di era demokrasi, para nahdliyin bebas menentukan pilihannya.

Ad.6.Tidak rasional

Yaitu komentar yang tidak didukung argumentasi atau penalaran yang rasional

Contoh

Artikel tentang pencapresan Jokowi dikomentari bahwa Megawati tidak mungkin mencapreskan Jokowi, baik pada Pemilu 2014 maupun pada Pemilu 2019. Komentar yang tidak rasional karena tidak disertai alasan alasan yang rasional. Atau berpendapat bahwa Prabowo Subiantolah yang akan memenangkan Pemilu 2014, itupun tanpa didukung argumentasi, apalagi argumentasi yang rasional

Ad.7.Tidak objektif

Yaitu komentar yang sifatnya subjektif menurut perspektif pribadi dan bukan perspektif objek

Contoh:

Artikel apa saja, cenderung ditanggapi secara negatif.Komentarnya selalu memposisikan di pihak yang berseberangan, tidak setuju atau menolak isi artikel. Pokoknya pendapatnya sendirilah yang benar,lebih benar dan selalu benar. Tidak mungkin salah dan jika salahpun tidak mau mengakui itu salah. Ukuran kebenaran adalah diri sendiri. Tak mampu membuuat komentar beerdasarkan kebenaran objektif.

Ad.4.Tidak aposteriori

Yaitu komentar yang tidak berdasarkan pengalaman, baik diri sendiri maupun orang lain.

Contoh:

Artikel tertentu tetap ditanggapi orang yang tidak memahami biidang artikel tersebut.  Miisalnya, artiikel filsafat, ditanggapi seolah-olah fahamilmu filsafat. Artikel psikologi, ditanggapi seolah-olah faham psikologi. Srtikel ilmu logika, ditanggapi seolah-olah mengerti ilmu logika. Padahal dari komentarnya saja sudah mencerminkan ketidakfahamannya tentang bidang ilmu dari artikel tersebut.

Ad.5.Tidak merupakan hasil sebuah analisa

Yaitu komentar yang bersifat asal komen, asal bunyi dan asal dibaca.

Contoh:

Yaitu artikel apa saja dikomentari dalam bentuk asal komen. Asal tidak setuju. Asal tidak suka. Asal kontra. Asal tulis tanpa berpikir panjang. Salah atau benar urusan belakang. Yang penting komentarnya dibaca banyak orang. Tidak berdasarkan hasil sebah analisa yang mendalam.

Ad.6.Tidak memahami maksud artikel

Yaitu komentar yang menyimpang dari artikel padahal di dalam artikel sudah tertulis dengan jelas. Komentarnya bersifat SNOB (sok tahu, sok mengerti ddan sok pintar)

Contoh:

Artikel psikologi berjudul “Agama Tidak Mampu Mengubah Perilaku Manusia”, ditanggapi secara ekstrim. Menganggap bahwa agama mampu mengubah perilaku manusia.Padahal dari sudut psikologi, yang bisa mengubah peilaku manusia adalah manusia itu sendiri. Agama sebagai stimulus.

Ad.7.Tidak to the point

Yaitu komentar yang bertele-tele dan hanya mengulang pendapat-pendapat sebelumnya.

Contoh:

Artikel apa saja, ditanggapi atau dikomentari panjang lebar. Bahkan copy-paste dari pendapat atau artikel karya orang lain. Beberapa komentar orang lain dikumpukan. Tujuannya memberi kesan komentarnya berbobot. Padahal, kalau dihubungkan dengan maksud artikel, komentar yang panjang lebar itu sebnarnya bisa diringkas dalam satu dua paragra saja.

Ad.8.Tidak  etis

Yaitu komentar yang bersifat mencela baik isi artikel maupun penulis artikelnya.

Contoh:

Artikel apapun, selalu dicela dan dicaci maki. Lebih parah lagi, bukan artikelnya yang dicela dan dicaci-maki. Penulisnyapun diserang dengan kata-kata yang menyakitkan hati atau tergolong menyinggung perasan. Dari sudut psiikologi, komentator yang demikian biasanya tergolong pengidap psikopat ringan. Memperoleh kepuasan psikologi (semu) apabila bisa menyakiti perasan penulis artikel. Hampir tiap artikel ada komentar yang bersifat psikopatis tersebut.

Ad.9.Tidak akademis

Yaitu komentar yang tidak ada bobot akademisnya dan merupakan komentar yang hambar.

Contoh:

Artikel yang berkualitas sekalipun, akan dikomentari dengan komentar—komentar yang tidak akademis. Komentarnya mencerminkan betapa dangkalnya pemikirannya. Tidak ada unsur-unsur akademisnya. Antara lain tidak rasional dan tidak argumentatif-objektif.

Ad.10.Tidak solutif

Yaitu komentar yang bersifat memaksakan pendapat tetapi tidak memberikan alternatif solusi.

Contoh:

Artikel apapun selalu dikomentari sevara negatif. Salu bersifat menyalahkan, ttetapi tidak memberikan alternatif solusi yang rasional dan objektif.

Solusi

Untuk membuat komentar yang baik memang harus mempunyai wawasan berpikir yang luas, banyak membaca buku-buku pengetahuan yang bermanfat, belajar menerima pendapat orang lain yang berbeda dan belajar untuk tidak asal berkomentar. Tak kalah pentinya, belajar epistemologi (ilmu tetang kebaaran material).

Kesimpulan

-Sangat tekesat kuat bahwa 75% komentar merupakan “asal komentar”, tidak memenuhi syarat-syarat komentar yang berkualitas, terkesan memaksakan pendapat dan ngeyel. Biasanya mereka hanya bisa mencela, tetapi tidak mampu membuat sebuah artikel. Apalagi artikel yang berkualitas.

Saran

Komentar-komentar yang tidak berkualitas tidak perlu ditanggapi.

Catatan

Contoh-contoh diambil dari artikel-artikel yang ada di Kompasiana dan artikel-artikel yang ada dii blog pribadi saya.

Semoga bermanfaat

Hariyanto Imadha

Pengamat perilaku

Sejak 1973

Iklan

Kategori