Oleh: psikologi2009 | September 7, 2013

PSIKOLOGI: Miss World Dan Perilaku Paranoid

FACEBOOK-MissWorldDanPerilakuParanoid

BICARA tentang Miss World, persepsi orang lantas ke pelaksanaan Miss World di negara lain yang konon memakai bikini dan dipersepsikan sebagai eksploitasi tubuh wanita, merendahkan derajat wanita, pornoaksi atau pornografi, bisa merusak moral bangsa, tidak sesuai budaya Indonesia, merupakan gempuran budaya bugil, budaya Barat yang tidak sesuai syariah Islam dan persepsi negatif lainnya. Sebagian mungkin benar dan sebagian lagi mungkin tidak benar kalau itu diadakan di negara lain.

Sejarah singkat Miss World

Terbagi dalam tiga tahap.

1.Miss World dimulai sebagai Festival kontes bikini, untuk menghormati pakaian renang yang baru diperkenalkan pada saat itu, tetapi disebut “Miss World” oleh media. Pada awalnya direncanakan sebagai acara one-off. Setelah mempelajari kontes Miss Universe yang hadir di kemudian hari, Morley memutuskan untuk membuat kontes menjadi acara tahunan (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Miss_World).

2.Pertentangan terhadap penggunaan bikini mengakibatkan pergantian bikini dengan baju renang yang lebih sopan setelah kontes pertama. Miss World pertama pada tahun 1951 adalah Miss yang pertama dan yang terakhir yang dinobatkan sebagai pemenang dalam busana bikini (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Miss_World).

3.Pada Miss World 2013 di Indonesia semua peserta akan menggunakan satu potong baju renang ditambah sarung tradisional dari perut hingga bawah untuk menghormati budaya lokal. (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Miss_World).

Miss World Indonesia

Pertanyaannya adalah, apakah Miss World d Indonesia nantinya akan sama dengan pelaksanaan Miss World di negara lain? Jawabannya: mungkin “ya”,mungkin “tidak” dan mungkin sebagian “ya” dan sebagian “tidak”. Jadi sifatnya masih “mungkin”. Masih dalam perkiraan. Belum terjadi. Belum terbukti. Belum bisa dipastikan. Jadi, cara berpikirnya masih antisipasif-apriori.

Apakah tujuan Miss World?
Program Miss World yaitu “Beauty With a Purpose” (Kecantikan dengan Tujuan). Tidak hanya kecantikan saja yang dinilai, tetapi juga kecerdasan, pengetahuan umum dan tentunya  punya tujuan. Antara lain mengumpulkan dana amal, memperkenalkan objek wisata dengan harapan meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan dan tujuan-tujuan positif lainnya.

Darimana sumber dananya?

Ada anggaapan bahwa penyelenggaraan Miss World Indonesia didanai pemerintah dan dianggap menghambur-hamburkan uang negara yang berasal dari rakyat. Bukti, betapa tidak fahamnya sebagian masyarakat terhadap penyelenggaraan Miss World yang didanai dari para sponsor yang berasal dari perusahaan-perusahaan swasta nasional maupun internasional.

Wanita dieksploitasi untuk kepentingan iklan produk?
Pemenang Miss World biasaanya juga akan dijadikan bintang iklan produk nasional maupun internasional. Apakah ada yang aneh? Tidak. Bukankah Mama Dedeh juga jadi bintang iklan? Bukankah artis-artis wanita Indonesia juga banyak yang dijadikan bintang iklan? Apakah aneh?

Akan merusak moral bangsa?
Beberapa bilang begitu, tetapi tidak disertai bukti-bukti yang bersifat universal, terutama yang ada di Indonesia. Kalau ada yang terlibat kasus, sifatnya pastilah individual-kasuistis. Tidak bisa digeneralisasi semuanya bermoral tidak baik.

Paranoid

Anggapan bahwa Miss World akan merusak moral bangsa terutama di kalangan generasi muda, hanya pamer tubuh bugil, hanya menampilkan “sex appeal”, akan menimbulkan perang saudara di Indonesia, cenderung tak menghargai Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI,bertentangan dengan budaya lokal (Indonesia). Takut dimusuhi negara-negara Islam. Takut dikeluarkan dari OKI (Organisasi Konferensi Islam) dan anggapan—anggapan dan dugaan-dugaan negatif lainnya masih merupakan antisipasi-apriori. Masih merupakan rasa kekhawatiraan dan ketakutan yang berlebihan. Saking takutnya, ada yang mengusulkan supaya diadakan semacam sidang Isbat atau usul agar MUI mengeluarkan fatwa haram Miss World. Sampai ada penolakan dengan argumentasi yang aneh:” Kalau Miss World Indonesia tidak bisa mendongkrak nilai rupiah, lebih baik dibatalkan saja”. Bahkan ada ulama yang mengancam umatnya yang akan memberikan dukungan terhaadap Miss World. Sampai kapan pemikiran-pemikiran fanatik-sempit begini akan dipelihaara? Semuanya itu berlebihan.

Sikap yang baik

Tidak setuju itu hak setiap warganegara. Namun untuk melaarang tentu merupakan wewenang instansi yang berwajib dan pelarangan tentunya harus berdasarkan hukum, ketertiban dan keamaanan. Tidak berdasarkan paksaan dari sekelompok orang saja.

Terlalu reaktif

Sebagian bangsa Indonesia memang seringkaali bertindak reaktif-negatif. Itupun secara apriori. Kalau pola pikir yang demikian tetap diterima, mau dibawa ke mana bangsa ini? Indonesia adalah bangsa yang berada di dalam pergaulan internasional, bukan bangsa kuper (kurang pergaulan), bukan bangsa introvert, bukan bangsa soliter, bukan bangsa seperti katak daalam tempurung, bukan bangsa kerdil dan bukan bangsa yang bodoh.  Harus menjad bangsa yang tetap ramah pada semua bangsa. Jika tidak, bangsa Indonesia akan dianggapsebagai bangsa yang berpkiran dan berperilaku aneh.

Kumpulkan bukti-bukti dan silahkan menggugat

Tidak setuju boleh-boleh saja. Jika memang dugaan-dugaan negatif itu benar, sebaiknya jangan berhenti pada dugaan-dugaan saja. Kumpulkan bukti-bukti baik berupa foto atau bukti-bukti lainnya. Jika bukti-bukti cukup kuat, silahkan menggugat secara hukum penanggung jawab penyelenggaraan Miss World Indonesia tersebut.

Sumber: Dari berbagai sumber.

Catatan:

Maaf, saya jarang sekali membaca komen-komen.

Hariyanto Imadha

Pengamat perilaku

Sejak 1973

Iklan

Kategori