Oleh: psikologi2009 | Oktober 14, 2013

PSIKOLOGI: Efek Psikologis Matapelajaran Menggambar di SD

GambarPemandangan

MUNGKIN, matapelajaran menggambar di SD se-Indonesia sama. Yaitu menggambar pemandangan dengan komposisi, dua gunung, satu matahari yang bersinar, satu jalan yang biasanya lurus, sawah-sawah yang biasanya berbentuk kotak-kotak, sebuah rumah di kiri yang berbentuk seperti kubus dan beberapa tiang listrik atau pohon di kanan kiri jalan yang besarnya sama semua. Ternyata, sejak Indonesia merdeka hingga sekarang (tahun 2013) masih seperti itu.

Maksud sebenarnya

Sebenarnya, matapelajaran menggambar pemandangan ada tujuannya, yaitu:

-Memperkenalkan cara menggambar berbasiskan perspektif

Yaitu, gambar jalan semakin jauh harus semakin kecil, sawah-sawah semakin jauh kotaknya semakin kecil dan tipis, pohon dan tiang listrik harus tegak lurus dan semakin jauh semakin pendek dan seterusnya.

-Memperkenalkan perlunya perbandingan

Yaitu, matahari harus lebih kecil dari gunung, jendela dan pintu rumah harus sebanding dengan besarnya rumah dan seterusnya.

Apa yang terjadi?

-Guru hanya memberi contoh di papan tulis dan para siswa harus mencontohnya. Kalau sudah selesai supaya dikumpulkan kemudian dinilai. Tidak ada koreksi sehingga para siswa tidak tahu salah tidaknya gambar yang dibuatnya.

-Guru tidak memberikan kebebasan menggambar sehingga tanpa disadari para siswa memori otaknya tertanam format “Harus begitu” atau “Harus seperti itu”. Format berpikir seperti itu bersifat mematikan kreativitas para siswa yang sebenarnya sedang berkembang. Para siswa merasa takut menggambar dengan satu gunung atau tiga gunung. Takut menggambar jalan lebih dari satu. Takut membuat gambar jalan yang berbelok-belok. Semuanya akibat format berlogika “Harus seperti itu”.

-Format berpikir seperti itupun terus mengendap sehingga ketika menerima ajaran agamapun cara berlogikanya seperti itu. Apa yang dikatakan guru agamanya harus dianggap benar, lebih benar, paling benar dan selalu benar. Guru agamanya tidak mungkin salah. Pokoknya guru agamanya harus dianggap sebagai malaikat.

-Akibat lain yaitu, para siswa tidak berani berbeda pendapat dengan gurunya.

Melemahkan logika

Sistem pendidikan yang tidak berbasiskan logika dan kreativitas membuat para siswa mengikuti apa saja yang dikatakan gurunya tanpa mampu berpikir kritis. Tidak ada pemikiran-pemikiran “Kenapa harus begitu? Kenapa tidak boleh selain itu? Kenapa harus begini? Kenapa tidak boleh selain yang begini?

Terbawa hingga tingkat sarjana

Cara mendidik sejak SD seperti itu akan terbawa hingga tingkat sarjana. Banyak sarjana teknik yang tetap ngeyel memakai gelar “Ir” dan tidak menggantinya dengan “ST”. Karena cara berpikirnya telah terformat sejak SD “Harus begitu”, “Harus Ir”. Begitu juga dengan sarjana yang mempertahankan gelar Drs, Dra yang sudah dinyatakan tidak berlaku oleh kemendikbud. Begitu juga pemakaian salah gelar S1 dan S2 sekaligus juga akibat dari cara berfikir sejak di SD.

Cara berlogika dogmatis-pasif

Cara mendidik di SD itu mengakibatkan pola pikir atau pola berlogika para siswa bersifat “dogmatis-pasif” yang berakibat:

-Enggan menerima teori/pendapat baru atau pendapat lain yang sebenarnya lebih benar

-Tidak mampu berpikir secara mandiri dan benar menurut kaidah-kaidah berlogika yang benar

-Wawasan berpikirnya sempit dan dangkal

Cara berlogika dogmatis-pasif akan terbawa terus hingga bangku perguruan tinggi. Hasilnya adalah sarjana-sarjana yang cara berlogikanya dangkal dan wawasan berpikirnya sempit.

Bagaimana matapelajaran menggambar yang benar?

Sudah ada beberapa sekolah (SD) yang mengajarkan cara menggambar yang benar, bisa di dalam maupun di luar kelas.

Contoh:

-Para siswa dipersilahkan keluar kelas sambil membawa alat-alat gambarnya masing-masing

-Boleh menggambar bebas yan dilihatnya : gedung sekolah, sepeda/motor/mobil yang sedang diparkir,jembatan di depan sekolah, pohon, dan lain-lain yang dilihatnya

-Guru matapelajaran menggambar harus melihat satu persatu karya para siswanya, memberi petunjuk atau mengoreksinya

Cara berlogika dogmatis-aktif

Cara menggambar bebas di luar kelas akan menciptakan format berpikir dogmatis-aktif

Yaitu:

-Para siswa memiliki kebebasan memilih dan berkreativitas

-Cara berlogikanya tidak terformat “Harus seperti itu” tetapi akan berubah menjadi “Boleh begini” ,“Boleh begitu”, “Boleh yang bagaimana saja”.

-Para siswa mempunyai kebebasan berekspresi, memperluas cakrawala pemikiran dan memperluas juga wawasan berpikirnya

-Para siswa memiliki keberanian untuk “berbeda” dengan teman-temannya maupun dengan gurunya dan belajar mempertahankan karyanya dengan argumentasi atau logikanya sendiri yang semakin berkembang.

Kesimpulan

1.Matapelajaran menggambar di SD yang monoton, kelihatannya sepele, tetapi akibatnya cukup fatal hingga tingkat perguruan tinggi.

2.Cara mengajar yang benar dalam matapelajaran menggambar adalah di luar kelas di mana para siswa bebas menggambar apa saja terlepas gambarnya baik ataupun tidak baik. Sudah ada beberapa SD yang menerapkan matapelajaran menggambar di luar kelas. Misalnya sambil rekreasi.

Semoga bermanfaat

Sumber gambar: yudiworld.com

Hariyanto Imadha

Pengamat perilaku

Sejak 1973


Kategori