Oleh: psikologi2009 | November 18, 2013

PSIKOLOGI: Jangan Mudah Menganggap Orang Lain Pandai Atau Bodoh

FACEBOOK-PsikologiJanganMudahMenganggapOrangLainPandaiAtauBodoh

WALAUPUN pernah sekolah atau kuliah, teryata masih banyak orang yang cara bicaranya apriori. Yaitu, menganggap orang lain pandai atau bodoh. Biasanya dilakukan oleh orang-orang yang belum mengenal atau baru mengenal orang lain. Belum mengenal orang lain secara utuh. Cara bicara yang apriori tersebut tentu saja bisa menimbulkan rasa tidak senang.

Apakah apriori itu?

Apriori yaitu sebuah cara pandang atau cara pikir yang langsung mengambil kesimpulan tanpa tahu lebih dulu fakta yang dihadapinya. Dengan kata lain, belum tahu tapi langsung menilai.

Apa yang dimaksud pandai?

Yang dimaksud pandai dalam artikel ini adalah seseorang yang mengerti atau memahami sesuatu.

Apa yang dimaksud bodoh?

Yang dimaksud bodoh dalam artikel ini adalah seseorang yang tidak mengerti atau tidak memahami sesuatu.

Menganggap orang lain pandai

Menganggap orang lain pandai secara apriori merupakan sikap yang tidak cerdas. Sebab orang yang kita anggap pandai seringkali tidak pandai.

Contoh

Si A baru saja berkenalan dengan Si B. Si B memberikan kartu nama lengkap dengan gelar S1,S2 dan S3-nya. Lantas Si A mengambil kesimpulan bahwa Si B itu pandai. Jika sikap ini yang diambil Si A, maka efek psikologisnya Si A cara bicaranya agak merendah atau agak minder. Hal ini tentu saja tidak boleh terjadi.

Menganggap orang lain bodoh

Menganggap orang lain bodoh secara priori merupakan sika[ yang tidak cerdas. Sebab orang yang kita hadapi belum tentu orang bodoh.

Contoh

Si A baru saja kenal dengan Si C. Melihat penampilannya Si C yang kurang meyakinkan, maka Si A mengambil kesimpulan bahwa Si C yang baru dikenalnya adalah orang bodoh. Efek psikologisnya adalah cara bicara Si A bernada “menggurui” atau “mengajari” Si C. Hal ini tentu saja tidak boleh terjadi.

Harus mengetahui kemampuan lawan bicara kita

Sikap yang baik dalam bicara yaitu mengetahui lawan bicara kita. Sedikit demi sedikit kita mengukur tingkat kemampuan orang tersebut, apakah orang tersebut benar-benar mengerti atau tidak mengerti. Barulah kita bisa mengambil kesimpulan apakah orang yang kita hadapi orang pandai atau tidak pandai.

Bagaimana sikap kita menghadapi orang yang pandai?

Rata-rata orang pandai tidak suka orang yang nada bicaranya selalu mengajari atau menggurui. Sikap yang baik yaitu mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebanyak mungkin karena dengan demikian kita akan menambah pengetahuan dari jawaban-jawaban dari orang yang pandai tersebut. Sesekali perlu bersikap diam untuk mencermati pendapat-pendapatnya.

Bagaimana sikap kita menghadapi orang yang bodoh?

Sesudah kita mengukur tingkat kemampuan orang yang kita hadapi dan ternyata seseorang itu kurang pandai, maka sikap kita yang baik yaitu memberikan pencerahan secara pelan-pelan dengan bahasa yang mudah dimengerti olehnya.

Bicara harus berdasarkan fakta

Cara bicara yang baik yaitu berdasarkan fakta orang yang kita hadapi. Kalau orang yang kita hadapi pandai, maka kita harus mampu mengikuti alur pembicaraannya. Kalau berdasarkan fakta orang yang kita hadapi bodoh, maka kita harus bersikap low profile tetapi memberikan informasi-informasi yang bermanfaat. Artinya, cara bicara kita harus kita sesuai dengan orang yang kita hadapi.

Bagaimana sikap kita menghadapi orang yang sok pandai?

Untuk mengukur apakah seseorang pandai atau benar-benar pandai, bisa dengan cara mengajukan banyak pertanyaan tentang materi yang dia bicarakan. Kalau jawabannya banyak yang meleset berarti seseorang tersebut tergolong sok pandai. Maka cara menghadapinya yaitu, mengajukan peranyaan-pertanyaan yang bersifat mengritik atau memojokkan dia dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulit sehingga dia dalam posisi sangat sulit untuk menjawab.

Bagaimana sikap kita menghadapi orang yang sok bodoh?

Dalam kehidupan sehari-hari kita juga bisa menemukan orang yang sok bodoh. Suka merendahkan diri. Lebih banyak bersikap diam. Pura-pura tidak tahu. Biasanya justru banyak pertanyaan yang bernuansa pura-pura tidak tahu. Menghadapi orang seperti ini maka kita justru hati-hati dan sebaiknya justru kita harus memancing pertanyaan-pertanyaan yang tujuannya untuk mengukur tingkat kemampuan orang tersebut.

Bagaimana sikap kita menghadapi orang yang menganggap Anda pandai?

Andai tidak pandai agama dan Anda mengakui itu. Tapi ada orang lain yang menganggap Andai pandai dalam hal agama hanya karena orang itu melihat Anda rajin ke masjid. Maka, sikap kita yang baik yaitu bicara jujur bahwa Anda memang benar-benar tidak pandai dalam hal agama. Bukan berarti tidak mengerti, tetapi bukan ahli agama.

Bagaimana sikap kita menghadapi orang yang menganggap Anda bodoh?

Anda tidak bodoh. Anda tahu bahwa Anda benar-benar faham jual beli rumah. Bahkan sudah berpengalaman 20 kali jual beli rumah. Tetapi Anda dianggap bodoh. Dianggap belum mengerti prosedur jual beli rumah. Dianggap belum mengerti soal surat kuasa jual. Dianggap belum mengerti segala hal yang berhubungan dengan jual beli rumah. Maka yang harus kita lakukan yaitu, bicara jujur bahwa Anda sudah 20 kali punya pengalaman jual beli rumah. Tiap kali dia bicara dan menganggap Anda tidak mengerti, katakan bahwa Anda sudah lama mengerti. Jika keterlaluan, katakan kepadanya supaya dia tidak menganggap Anda tidak mengerti. Jika tidak, Anda akan dianggap bodoh selamanya.

Kesimpulan

-Janganlah kita mudah menganggap orang lain pandai atau bodoh sebelum ada buktinya

-Sebelum kita menilai orang lain, sebaiknya kita mengukur dulu level orang yang kita hadapi dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan

Saran

-Sebaiknya kita bicara sesuai dengan level dari orang yang kita hadapi.

_jika kita menghadapi orang yang lebih pandai, sebaiknya kita merendahkan diri.

-Jika kita menghadapi orang yang bodoh sebainya kita memberikan pencerahan.

-Jangan over estimate atau under estimate terhadap orang lain.

-Jangan bersikap apriori

Semoga bermanfaat

Hariyanto Imadha

Pengamat perilaku

Sejak 1973


Kategori