Oleh: psikologi2009 | Desember 8, 2013

PSIKOLOGI: Strategi ABCDEF Untuk Mencegah Penyakit HIV/AIDS

FACEBOOK-PsikologiStrategiABCDEFUntukMencegahPenyakitHIVAIDS

TIAP tahun jumlah pengidap penyakit HIV/AIDS terus meningkat. Tahun 2014 diprediksi jumlah penderita baru HIV usia 15-49 tahun di Indonesia mencapai 79.200 jiwa. HIV/AIDS masih terus menjadi ancaman mematikan yang perlu mendapatkan perhatian besar dari berbagai pihak. (Sumber: news.liputan6.com/read/761608/video-penderita-hiv-aids-di-indonesia-diprediksi-meningkat?news.trkn).

Untuk mencegah penularan

” Untuk mencegah HIV cukup diingat cara ABCD,” jelas Dr Kemal Siregar, Sekretaris Komisi Pengendalian AIDS Nasional (KPAN) (Sumber: http://health.detik.com/read/2013/11/14/161038/2413225/763/mudah-diingat-jauhi-hiv-dan-aids-dengan-cara-abcd).

A.Strategi ABCD/ABCDE versi pemerintah

A = Abstain

Jangan melakukan seks, terutama hubungan seksual berisiko.

B = Be faithful

Jadilah pasangan yang setia. “Kalau Anda punya istri, suami atau pacar, ya sudah satu saja, nggak usah ganti-ganti,” tegas Dr Nafsiah.

C = Condom

Jika hubungan seks tersebut adalah seks yang berisiko kehamilan atau penularan penyakit, maka pakailah kondom.

D = Drug

“Jauhi drug (obat-obatan terlarang), baik drug telan yang dapat menyebabkan gairah seks meningkat seperti ekstasi, atau drug suntik yang menularkan langsung penyakit dari alat suntiknya itu,” jelas Dr Nafsiah.

E = Equipment

Jangan bergantian atau berbagi menggunakan alat seperti jarum suntik atau alat potong kuku, tato atau alat-alat lainnya yang dapat berhubungan dengan darah.

B. A.Strategi ABCDEF versi Hariyanto Imadha

HIV/AIDS: Menurut saya,pencegahan HIV/AIDS dengan cara ABCDEF:

(A)gama harus lebih diefektifkan

Agama adalah pedoman perilaku yang wajib diaamalkan. Oleh karena itu pendidikan agama harus lebih diefektifkan, baik di rumah maupun di sekolah. Ceramah-ceramah agama juga harus difokuskan pada hal-hal yang berhubungan dengan pencegahan menyebarnya penyakit HIV/AIDS.

(B)lokir situs porno

Pemblokiran situ porno perlu secara kontinyu diteruskan. Tidak hanya pada video porno, tetapi juga pada gambar porno ataupun cerita porno. Tidak hanya yang ditayangkan lewat internet, tetapi juga yang bias dilihat melalui ponsel.

(C)abut ijin warnet /hotel/vila/tempat kos mesum

Harus ada tindakan tegas terhadap sumber-sumber pornografi. Antara lain dari warnet porno (warnet dengan sistem bilik cenderung member keleluasaaan mengakses situs porno. Oleh karena itu warnet dengan sistem bilik harus dilarang). Hotel mesum, vila mesum, tempat kos mesum dan bahkan salon dan panti pijat yang disalahgunakan untuk perbuatan mesum juga banyak. Masyarakat tahu itu. Aparat harus terus melakukan razia dan jika perlu cabut ijinnya.

(D)idikan dari orang tua

Betapapun juga, peranan orang tua masih diperlukan. Memberikan pengawasan, pendidikan, pencerahan, nasehat dan bimbingan tentang pergaulan yang baik dan perlunya bersikap hati-hati dalam pergaulan.

(E)nyahkan lokalisasi PSK

Hampir di setiap kota, masih ada lokalisasi PSK. Memang sudah ada yang ditertibkan, tetapi muncul lagi di tempat lain. Mungkin perlu perda yang menjatuhkan sanksi kepada penyelenggara prostitusi, pelaku prostitusi dan pelanggan prostitusi. Perda yang lemah atau penegakan hokum yang lemah membuat lokalisasi PSK tetap menjamur. Perlu tindakan tegas.

(F)ormatisasi mindset

Hubungan seks bebas bias terjadi karena adanya mindset bahwa seks bebas itu “nikmat”. Meeka tidak punya mindset bahwa seks bebas itu “dosa”. Oleh karena itu pendidikan di rumah, di sekolah atau ceramah agama di manapun diadakan, harus bersifat mengubah mindset dari “nikmat” ke mindset “dosa”. Tentu, perlu keahlian memotivasi, mempersuasi dan mem-“brainwashing” bahwa seks bebas itu “dosa”. Bahkan “dosa besar”. Seks bebas tetap bercokol di benak para pelakunya selama mereka masih memiliki mindset bahwa seks bebas itu “nikmat”.

Kesimpulan

1.Strategi ABCD atau ABCDE mengabaikan peranan agama. Hanya merupakan anjuran. Sedangkan strategi ABCDEF merupakan konsep.

2.Perlunya peningkatan efektivitas pendidikan agama, terutama di sekolah dan kampus.

3.Jadi, mencegah penyakit HIV/AIDS bukan dengan cara kampanye kondom atau bagi-bagi kondom. Apalagi survei membuktikan bahwa ukuran virus HIV/AIDS jauh lebih kecil dibandingkan dengan pori-pori kondom sekalipun kondom itu terbuat daripada latex. Tidak ada kondom yang sama sekali tidak berpori-pori. Bahkan KB-pun gagal 20% walaupun pihak suami sudah memakai kondom.

4.Pada dasarnya kampanye kondom merupakan “pembenaran” terhadap adanya seks bebas.

5.Mencegah penyakit HIV/AIDS yang paling tepat yaitu mengubah mindset bahwa seks bebas itu “nikmat” menjadi bahwa seks bebas itu “dosa” atau “dosa besar”.

Semoga bemanfaat.

Hariyanto Imadha

Pengamat perilaku

Sejak 1973


Kategori