Oleh: psikologi2009 | Januari 7, 2014

PSIKOLOGI: Kenapa Ahok Sering Mengeluarkan Komen-Komen Yang Kontroversial?

FACEBOOK-PsikologiKenapaAhokSeringMengeluarkanKomenKomenYangKontroversial

NAMA AHOK atau Basuki Tjahaja Purnama mulai terkenal saat menjadi cawagub DKI Jakarta. Beberapa media massapun memberitakan kesuksesaan Ahok menjadi Bupati di Kabupaten Belitung Timur. Antara lain berhasil menekan angka korupsi secara signifikan. Bahkan Ahok yang nonmuslim tetapi berhasil terpilih sebagai bupati di sebuah kabupaten yang mayoritas muslim, juga merupakan prestasi tersendiri. Namun ketika Ahok benar-benar terpilih sebagai wagub, masyarakat mulai tahu bahwa Ahok sering mengeluarkan komen-komen yang kontroversial. Bahkan terkesan emosional. Apa yang sesungguhnya terjadi pada Ahok?

Apa yang dimaksud komen kontroversial?

Komen kontroversial artinya komen yang bertentangan dengan logika umum, seolah-olah benar padahal belum tentu benar, tidak sesuai harapan masyarakat, dianggap aneh, berseberangan dengan undang-undang, menyalahi kaidah logika yang benar, tak selayaknya, dianggap emosional, dinilau kurang rasional dan semacamnya. Dengan kata lain, komen kontrobersial adalah komen yang sulit bisa diterima masyarakat pada umumnya.

Kenapa ada orang memberikan komen kontroversial?

Secara umum seseorang memberikan komen melalui proses “thinking” then “speaking”. Namun dalam perkembangannya bisa bermacam-macam variasi.

1.Thinking before speaking
2.Thinking then speaking
3.Thinking without speaking
4.Thinking and speaking
5.Thinking after speaking
6.Speaking before thinking
7.Speaking then thinking
8.Speaking without thinking
9.Speaking and thinking
10.Speaking after thinking

Ad.1.Thinking before speaking

Yaitu seseorang yang berpikir serius sebelum mengeluarkan komen.

Ad.2.Thinking then speaking

Yaitu seseorang yang berpikir kurang serius dan langsung komen

Ad.3.Thinking without speaking

Yaitu seseorang yang hanya berpikir tanpa memberikan komen

Ad.4.Thinking and speaking

Yaitu seseorang yang berpikir sambil mengeluarkan komen

Ad.5.Thinking after speaking

Yaitu seseotang berpikir sesudah mengeluarkan komen

Ad.6.Speaking before thinking

Yaitu seseorang yang komen sebelum berpikir

Ad.7.Speaking then thinking

Yaitu seseorang yang komen kemudian berpikir

Ad.8.Speaking without thinking

Yaitu seseorang yang komen tanpa berpikir serius

Ad.9.Speaking and thinking

Yaitu seseorang yang komen dan berpikir

 

Ad.10.Speaking after thinking

Yaitu seseorang yang komen sesudah berpikir

Apa saja komen-komen Ahok yang kontroversial?

Antara lain:

1.Operasi pasar hanya diborong yang punya modal

2.DPRD bikin pansus biar dapat honor

3.Penjarakan PKL Tanah Abang

4.Kalau gubernur harus orang Betawi, presiden juga dong

5.Mau cepat benahi Jakarta, bakar setengah kota

6.Selama ini PRJ dikuasai satu keluarga

7.Tak perlu DPRD pergi ke luar negeri, lihat Youtube saja

8.DPRD mau makzulkan Jokowi? Belagu banget

9.Yang jual beli lahan pemerintah bajingan

10.Lurah Warakas marah karena 3 Rusunnya di Marunda dicabut

Alasan Ahok terhadap 10 komen tersebut selengkapnya bisa Anda baca di:

http://metro.news.viva.co.id/news/read/430474-ini-10-pernyataan-kontroversial-ahok)

Tambahan:

11.Gagasan supaya Jakarta bebas Premium bersubsidi

12.Masalah perlunya menghapus kolom agama di KTP

13. Gagasan lokalisasi PSK

14.Tidak mau naik transportasi umum seperti yang diatur dalam Peraturan Gubernur DKI Jakarta.

15.Usul supaya gas Elpiji 12 kg disubsidi

Walaupun ke 15 komen tersebut memasuki wilayah “logis”, namun kenyataannya  banyak yang tidak pernah menjadi kenyataan. Salah satu contoh saja: “Jakarta bebas Premium”, sebuah komen yang luar biasa sulit untuk menjadi sebuah fakta yang realistis.

Lantas, kenapa Ahok memberikan komen-komen yang kontroversial seperti itu?

Sesudah penulis  membaca dan menganalisa semua argumentasi Ahok, maka bisa ditarik beberapa kesan sebagai berikut:

-Ahok cukup peka terhadap kejadian-kejadian di sekitarnya terutama yang sedang menjadi topik pembicaraan masyarakat.

-Ahok terlalu cepat bereaksi (memberikan komen)

-Ahok terlalu cepat mengambil kesimpulan

-Ahok tergolong melakukan “speaking and thinking”

Lebih jauh tentang “speaking and thinking”

Memang ada tipe-tipe orang yang tidak mempersiapkan argumentasi jauh-jauh sebelumnya, melainkan langsung bereaksi dan saat yang bersamaan dicari alasannya, penalarannya maupun argumentasinya. Cara bereaksi spontanitas seperti itu ada baiknya dan ada tidak baiknya, tetapi banyak tidak baiknya. Kenapa banyak tidak baiknya? Karena banyak hal yang belum dipelajari secara mendalam dan banyak hal yang belum diketahui  dan banyak hal yang kurang dipertimbangkan sehingga komen-komennya bisa mengandung nuansa kontroversial. Kurang bisa diterima logika masyarakat pada umumnya, walaupun mungkin komennya ada benarnya. Namun cara bereaksi “speaking and thinking” lebih banyak memasuki wilayah “logis” daripada “benar”. Lebih banyak “unrealistic” daripada “realistic”

Bagaimana dengan komen-komen Gus Dur?

Siapa yang tak kenal Gus Dur? Komen-komennya juga penuh kontroversial.

1. Gus Dur pernah menggagas mengganti salam “Assalamualaikum” dengan “Selamat Pagi”.

2. Gus Dur juga menjadi sorotan ketika berkunjung ke Israel pada 1994.

3. Beberapa kali Gus Dur menyambangi Soeharto setelah penguasa Orde Baru itu lengser. Padahal Soeharto dan Keluarga Cendana sedang menjadi sorotan publik.

4. Sebulan setelah menjadi presiden, Gus Dur membubarkan Departemen Sosial dan Departemen Penerangan

5. Pada April 2000, Gus Dur memecat Menteri Negara Perindustrian dan Perdagangan Jusuf Kalla serta Menteri Negara BUMN Laksamana Sukardi. Alasan dia, keduanya terlibat dalam kasus korupsi, meskipun Gus Dur tidak pernah memberikan bukti yang kuat.

6. Gus Dur mengubah keangkeran Istana dengan cara menerima kiai NU yang hanya memakai sarung dan sandal

7. Ancaman dekrit pembubaran parlemen merupakan kontroversi Gus Dur menjelang akhir masa jabatannya sebagai presiden (Info selengkapnya di: http://tempointeraktif.com/khusus/selusur/gus.dur/page04.php)

Kalau penulis analisa, komen-komen Gus Dur juga tergolong kontroversial, tetapi ada bedanya dengan kontroversial Gus Dur.  Warna komen Gus Dur yaitu “thinking before speaking”. Berpikir dulu, disiapkan dulu analisanya, penalarannya dan argumentasinya, kemudian mengeluarkan komen. Reaktif emosionalitas hampir tak ada, justru mengesankan komen-komennya penuh humor, tegas dan rasional dan benar-benar menjadi kenyataan atau fakta.

Kesimpulan

Bisa ditarik kesimpulan bahwa:

1.Ahok:

a.Komen-komen Ahok sebenarnya merupakan tanggapan reaktif-spontanitas terhadap sesuatu hal, tapi terbatas sebagai “unek-unek” saja. Seringkali tidak menjadi kenyataan ataupun fakta. Memang, merupakan manifestasi kecerdasan, tetapi berhenti pada tahap wacana saja.

b.Komen-komen Ahok lebih bersifat “speaking and thinking” c.Mengesankan lebih emosional daripada rasional dan bisa mengundang antipati.

2.Gus Dur

a.Komen-komen Gus Dur memang kontroversi, tetapi kontroversi dalam arti kata unik dan kebanyakan direalisasikan, kecuali komen-komen yang bersifat humor. Komen Gus Dur juga manifestasi kecerdasan, tetapi tidak bersifat reaktif-spontanitas.

b.Komen-komen Gus Dur lebih bersifat “thinking before speaking” dan

c.Mengesankan lebih rasional daripada emosional  dan bisa mengundang simpati.

Catatan:
Berkomen adalah bagian daripada demokrasi. Biarkan Ahok bicara apa saja. Biarlah masyarakat, rakyat atau warga DKI Jakarta yg menilai.

Semoga bermanfaat

Hariyanto Imadha
Pengamat Perilaku
Sejak 1973


Kategori

%d blogger menyukai ini: