Oleh: psikologi2009 | Januari 31, 2014

PSIKOLOGI: Setiap Orang Merasa Pendapatnyalah Yang Benar

FACEBOOK-PsikologiSetiapOrangMerasaPendapatnyalahYangBenar

TIAP orang, bahkan hampir semua orang, dari sudut psikologi mempunyai kecenderungan merasa bahwa pendapatnya sendirilah yang benar. Konsekuensinya yaitu, sulit menerima pendapat orang lain yang berbeda. Pribadi “egosentris” ini hampir kita temui di mana saja. Di sekolah, di kantor, di perusahaan dan di mana saja. Bahkan ada yang kadar egosentrisnya tinggi sehingga sama sekali tidak mau menerima pendapat orang lain. Mengakui pendapat orang lain yang berbeda akan dianggapnya bisa menjatuhkan wibawa, martabat atau gengsinya.

Pribadi superior dan inferior

Dalam hal ini, pribadi manusia bisa dibagi menjadi dua.

1.Pribadi superior

2.Pribadi inferior

Ad.1.Pribadi superior

Terbagi menjadi tiga golongan

a.Top superior

b.Middle superior

c.Lower superior

ad.a.Top superior

Yaitu orang yang merasa pendapatnya sendirilah yang paling benar. Pendapat semua orang lain dianggapnya salah. Sama sekali tidak bisa menghargai pendapat orang lain.

Logikanya:

Saya benar. Kamu salah

Contoh:

Seorang ulama dari komunitas agama A merasa agamanyalah yang paling benar. Semua agama selain agama A adalah agama yang salah. Padahal, soal agama hanya Tuhan Yang Maha Tahu.

Ad.b.Middle superior

Yaitu orang yang merasa pendapatnya benar, tetapi juga mampu mengakui bahwa pendapat orang lain juga benar. Bisa menghargai pendapat orang lain walaupun berbeda.

Logikanya:

Saya benar. Kamu juga benar.

Contoh:

Ada dua orang yang sama-sama psikolognya punya pendapat yang berbeda. Psikolog A berpendapat bahwa Ryan Si Kanibal adalah pengidap psikopat. Tetapi psikolog B berpendapat bahwa Ryan Si Kanibal bukan psikopat. Ternyata, mereka berdua berpendapat dari teori yang berbeda. Mereka berduapun salng memahami dan menghargai pendapat lawan bicaranya

Ad.c.Lower superior

Yaitu orang yang merasa pendapatnya sendiri yang benar. Namun, ketika berhadapan dengan orang yang ilmunya lebih tinggi, maka diapun mengakui bahwa pendapatnya memang tidak 100% benar dan menganggap pendapat orang lain yang benar atau lebih benar.

Logikanya:

Saya benar. Anda lebih benar.

Contoh:

Si A adalah lulusan pondok pesantren. Baru lulus. Suatu saat bertemu dengan kenalan baru . Namanya Si B. Si A bicaranya tentang agama melulu, sedangkan Si B menjawabnya dari sudut ilmu logika dan mengatakan bahwa pendapat Si A benar, tapi mengandung kelemahan. Belakangan Si A baru tahu kalau Si B di samping memahami ilmu agama juga memahami imu logika.

Ad.2.Pribadi inferior

Terbagi menjadi tiga golongan

a.Top inferior

b.Middle inferior

c.Lower inferior

ad.a.Top inferior

Yaitu orang yang merasa tahu sedikit, tetapi selalu berusaha untuk tahu dengan cara bertanya kepada orang yang mengerti atau ahli di bidangnya.

Logikanya:  

Saya tahu sedikit.. Saya banyak bertanya

Contoh:

Si A kurang faham psikologi. Dia sarjana ekonomi. Namun tanpa merasa gengsi, sering bertanya kepada temannya yang sarjana psikologi. Dengan demikian, semakin banyak bertanya, pengetahuannya tentang psikologi bertambah.

ad.b.Middle inferior

Yaitu orang yang merasa tahu sedikit, tapi sedikit bertanya kepada orang lain yang mengerti atau ahli dibidangnya. Tidak mau bertanya banyak karena kawatir diangap bodoh.

Logikanya:

Saya tahu sedikit. Saya sedikit bertanya

Contoh:

Si A tidak kurang faham  tentang politik. Bahkan kurang  faham tentang pemilu. Tetapi Si A hanya bertanya sedikit saja kepada Si B yang faham politik dan pemilu. Akibatnya adalah, dalam pemilu Si A salah memilih sebab pengetahuannya tentang politik dan pemilu tidak sempurna.

ad.c.Lower inferior

Yaitu orang yang tahu sedikit, tetapi sama sekali tidak mau bertanya kepada orang yang mengerti atau ahli di bidangnya. Sebab dia tidak mau orang lain tahu bahwa dia tahunya sedikit.

Logikanya:  

Saya tahu sedikit. Saya tidak bertanya.

Contoh:

Si A bukanlah pakar ilmu logika. Tahu ilmu logika juga sedikit. Hanya kulit-kulitnya saja. Hanya dasar-dasarnya saja. Ketika bertemu dengan Si B yang pakar ilmu logika dan bahkan telah menerbitkan buku tentang logika, Si A tidak mau bertanya. Justru merasa tahu, padahal tahunya Cuma sedikit. Tentu saja pendapatnya banyak salahnya dan Si B tahu kesalahan-kesalahan logika Si A. Pribadi lower inferior biasanya suka ngeyel.

Bagaimana sikap sebaiknya?

Sikap sebaiknya yaitu:

1.Jika kita tahu dan yakin tahu, maka sebaiknya ilmu pengetahuan yang kita miliki kita amalkan terutama lewat artikel di surat kabar dan sebagainya. Soal ada yang pro atau kontra harus dianggap biasa.

2.Kalau kita yakin tidak tahu, sebaiknya kita tidak perlu malu untuk mengakui ketidaktahuan kita dan bertanya kepada orang yang benar-benar tahu atau ahli di bidangnya.

3.Kalau kita tahu sedikit, jangan sesekali merasa sudah tahu banyak. Karena kita akan terjebak pada pribadi SNOB (sok tahu, sok mengerti sok pintar) dan terjebak pada kesalahan berlogika yang fatal, suka ngeyel dan cenderung menjadi pribadi yang sombong.

Semoga bermanfaat.

Hariyanto Imadha
Pengamat perilaku
Sejak 1973

Iklan

Kategori

%d blogger menyukai ini: