Oleh: psikologi2009 | Februari 9, 2014

PSIKOLOGI: Apakah Saya Seorang Indigo ?

FACEBOOK-PsikologiApakahSayaSeorangIndigo

MANUSIA dilahirkan di muka bumi ini dengan memiliki beberapa  kelemahan dan kelebihan. Setiap orangpun memiliki gen baik dan gen buruk yang kualitasnya tergantung rasio. Tiap manusiapun mempunyai tingkat kecerdasan yang berbeda-beda. Tiap orang juga punya bakat dan minat yang tidak sama. Bahkan, ada beberapa orang yang memiliki anugerah dari Tuhan sehingga disebut sebagai manusia indigo. Bukan hanya anak-anak saja yang memiliki indigo. Sampai dewasa dan tuapun tetap memiliki kemampuan indigo. Tiap orang juga punya aura positif maupun negatif yang tingkatannya berbeda-beda. Orang indigo juga bisa “membaca” mana capres yang baik dan mana yang tidak baik.

Apakah anak indigo itu?

Anak indigo atau anak nila (bahasa Inggris: Indigo children) adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan anak yang diyakini memiliki kemampuan atau sifat yang spesial, tidak biasa, dan bahkan supranatural. Konsep ini merupakan ilmu semu yang didasarkan pada gagasan Zaman Baru pada tahun 1970-an. Konsep ini mulai terkenal setelah diterbitkannya beberapa buku pada akhir tahun 1990-an dan dirilisnya beberapa film satu dasawarsa kemudian. Interpretasi mengenai indigo ada bermacam-macam: dari yang meyakini bahwa mereka adalah tahap evolusi manusia selanjutnya (yang bahkan mempunyai kemampuan paranormal seperti telepati) hingga yang menyebut anak indigo sebagai orang yang lebih empatik dan kreatif. (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Anak_Indigo)

Tidak hanya anak-anak yang indigo. Sewaktu dia menjadi remaja, dewasa dan tua, juga tetap sebagai manusia indigo.

Salah faham soal indigo

-Ada anggapan manusia indigo orang aneh. Pemikiran-pemikirannya dianggap aneh dan dianggap salah. Padahal yang benar, pemikiran-pemikirannya hanya bisa dipahami orang yang cerdas atau mempunyai IQ tinggi.

-Manusia indigo dianggap paranormal,dukun, padahal istilah yang tepat yaitu parapsikologi

-Ada yang mengira anak indigo itu manusia yang ditempel setan atau malaikat. Padahal, manusia indigo adalah manusia yang memiliki ESP (Extra Sensory Perception), anugerah dari Tuhan.

-Beberapa orang mengira manusia indigo adalah manusia yang sakit jiwa. Padahal, perilakunya yang aneh punya maksud tujuan yang sangat rasional yang sulit dipahami orang biasa.

Ciri-ciri anak indigo

Ciri-ciri ini juga berlaku untuk manusia indigo yang sudah dewasa maupun usia lanjut.
Sementara itu dalam buku How To Raise An Indigo Child karangan Barbara Condron, ada beberapa hal yang menjadi ciri-ciri anak indigo yaitu:

1. Memiliki daya ingat yang sangat baik dan memiliki kemampuan tajam untuk mengamati.

Pengalaman saya (Hariyanto Imadha)

Saya masih ingat apa yang saya alami saat masa kanak-kanak saya (sejak di Taman Kanak-Kanak). Walaupun tidak 100%, tetapi paling tidak 90%.

2. Mampu mengorganisasi dan  mendata informasi dengan sangat cepat.

Pengalaman saya (Hariyanto Imadha)

Sejak SD saya suka berorganisasi, merapikan segala sesuatu, membuat kategori,mengelompokkan, membedakan secara “clara et distincta”.

3. Bersifat cerdas dan kreatif.

Pengalaman saya (Hariyanto Imadha)

Sewaktu saya duduk di kelas 4 SD, saya ditawari guru dan kepala sekolah sepaya langsung ke kelas 6 tanpa duduk di kelas 5. Sayang, saya tidak mau. Kreativitas sudah saya miliki sejak SD, antara lain membuat lukisan-lukisan pahlawan nasional (bahan lukisan dari pasir dan cat). Hingga usia tuapun saya tetap aktif membuat artikel, cerpen, novel, buku, surat pembaca, motor amfibi, kanopi motor dan lain-lain. Tahun 1980 pernah mengikuti tes IQ dan hasilnya nilai 165 (Albert Einstein 170). Saya mampu belajar sendiri tanpa guru (otodidak) di bidang ilmu komputer, psikologi, ilmu filsafat, ilmu logika , ilmu agama dan lain-lain.

4. Lebih menyukai cara sendiri dalam mempelajari sesuatu,menggabungkan berbagai jenis informasi dengan cara yang inovatif serta kreatif.

Pengalaman saya (Hariyanto Imadha)

Tidak mudah percaya ucapan orang lain termasuk guru, dosen, ustadz, ulama dan lain-lain. Saya punya cara sendiri untuk mempelajari sesuatu. Punya cara menganalisa sendiri. Semua artikel saya sebenarnya merupakan gabungan pendapat dari berbagai orang plus hasil analisa saya sendiri. Apa yang saya tulis seringkali merupakan sesuatu “yang baru”. Merupakan pencerahan bagi orang lain.

5. Ingin mengalami langsung suatu kejadian atau hal dan bukan sekadar membicarakan.

Pengalaman saya (Hariyanto Imadha)

Selalu ingin melihat bukti dan fakta daripada pendapat orang lain. Misalnya, orang yang rajin beribadah belum tentu perilakunya baik, dan saya mencari buktinya. Kalau ada teor mengatakan buah semangka bisa membersihkan ginjal, maka saya cenderung ingin membuktikannya. Selama belum ada bukti, saya belum percaya, termasuk hasil survei, polling dan bahwa saya belum percaya prediksi-prediksi saya sebelum ada buktinya. Bahkan saya tidak suka dengan orang yang SNOB (sok tahu, sok mengerti dan sok pintar) dan saya ingin melihat buktinya bahwa seseorang benar-benar tahu, mengerti dan pintar.

6. Harus tertarik pada sesuatu untuk memusatkan perhatiannya, dan bila sudah tertarik maka ia akan memiliki energi yang tiada batas.

Pengalaman saya (Hariyanto Imadha)

Saya tertarik pada berbagai hal yang barangkali tidak menarik bagi orang lain. Saya suka memperhatikan perilaku manusia di sekitar saya dan selalu mencari jawab kenapa seseorang berperilaku seperti itu. Saya cenderung selalu ingin tahu. Dan untuk mencari tahu kadang-kadang tak kenal waktu. Saya selalu mencoba ingin bisa dari cara saya sendiri. Saya tidak suka digurui atau didikte orang lain dan saya akan buktikan bahwa saya mampu melakukannya melalui cara saya sendiri.

7. Memiliki rasa harga diri dan integritas yang kuat serta sangat peka.

Pengalaman saya (Hariyanto Imadha)

Saya percaya pada diri sendiri. Konsekuen dalam pendapat. Misalnya, kalau golput ya golput, kalau hitam ya hitam, kalau tidak mau ya tidak mau, kalau tidak suka ya tidak suka. Semuanya punya alasan atau argumentasi yang rasional. Punya harga diri tinggi jika itu menyangkut martabat, rasa kemanusiaan dan apabila ada hal-hal yang tidak benar terhadap diri saya.

8. Energi yang berlebihan menyebabkan perhatiannya cepat teralih.

Pengalaman saya (Hariyanto Imadha)

Energi bukan dalam hal fisik saja, tetapi lebih dari energi berpikir, berfilsafat, berlogika ataupun bernalar. Selalu menganalisa segala sesuatu yang saya lihat dan yang saya rasakan. Bahkan juga memiliki energi spiritual yang tinggi, antara lain mampu memprediksikan, punya ESP atau punya indera keenam yang tajam. Pernah memprediksikan Megawati menjadi presiden 15 tahun sebelumnya, memprediksikan akan terjadinya bencana lumpur Lapindo, tsunami Aceh, pernah memprediksikan tanggal dan bulan meninggalnya ibu saya  dan lain-lain. Beberapa prediksi saya pernah dimuat di Harian Surya (Surabaya), Harian Jawa Pos, Harian Banjarmasin Pos dan lain-lain.

9. Mudah merasa bosan.

Pengalaman saya (Hariyanto Imadha)

Sewaktu SMP mempunyai perpustakaan pribadi terdiri dari buku apa saja : psikoogi, agama, filsafat, ekonomi, hukum, komik, novel, buku silat dan lain-lain. Berkali-kali ganti pacar. Berkali-kali ganti motor. Pernah kuliah di enam perguruan tinggi sekaligus di dua kota sekaligus. Pernah pindah rumah sebanyak 21 kali. Dan lain-lain.

(Sumber: http://frackasyster.blogspot.com/2013/04/ciri-ciri-anak-indigo-itu-bagaimana-sih.html).

Apakah saya seorang Indigo?

Saya tidak berani meng-klaim. Tetapi, semua ciri-ciri indigo memang saya miliki sejak lahir.

Baca juga artikel saya yang lain (tentang saya)
“Pengalaman Saya Dengan Indra Keenam “ di:
https://psikologi2009.wordpress.com/2013/10/08/psikologi-pengalaman-saya-dengan-indera-keenam/

Hariyanto Imadha
Pecinta psikologi
Sejak 1973


Kategori

%d blogger menyukai ini: