Oleh: psikologi2009 | Februari 18, 2014

PSIKOLOGI: Jangan Menilai Orang Dari Agama Atau Ibadahnya Tetapi Nilailah Dari Perilakunya

FACEBOOK-PsikologiJanganMenilaiOrangHanyaDariAgamanya

BANYAK orang Indonesia yang mudah terkecoh atau tertipu penampilan. Misalnya, orang yang pakai gelar sarjana dianggap orang pandai, orang yang pakai gelar H/Hj atau Haji/Hajah dikira orang yang suci, orang yang punya rumah mewah dan mobil mewah dianggap orang suci. Koperasi simpan pinjam yang dikelola oleh seorang ustadz dikira orang jujur. Pengobatan yang dilakukan seorang ustadz dipercaya walaupun bayarnya mahal.  Pilih capres karena wajahnya ganteng. Pilih caleg karena janjinya indah sekali. Orang yang rajin beribadah atau rajin ke masjid dianggap orang baik-baik.  Mereka yang berpeci, berjilbab, bersurban, memakai jubah putih dianggap orang yang semua ucapannya layak dipercaya. Buntut-buntutnya mereka pembohong, penipu atau pelaku kriminal. Tak jarang juga mereka pengidap psikopat atau penderita sakit jiwa terselubung.

Apakah agama itu?

Agama adalah “pedoman perilaku”. Tidak lebih dari itu. Agama bukan pengubah perilaku. Agama bukan penentu perilaku. Baik tidaknya perilaku manusia tergantung manusia itu sendiri. Tidak ditentukan agamanya, ibadahnya, gelar sarjananya, gelar haji/hajahnya,pecinya atau jilbabnya. Perilaku manusia ditentukan oleh manusia itu sendiri.

Banyak penipuan mengatasnamakan agama

Cukup banyak penipuan dengan kedok agama. Banyak yang berpenampilan sok suci, sok jujur dan sok bersih ataupun sok sopan. Mulai dari meminta sumbangan dengan dalih untuk pembangunan masjid, dari RT ke RT. Akan mengadakan acara ini acara itu atas nama agama. Pengobatan alternatif yang bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Menjual stiker-stiker agama, buku-buku agama. Mengadakan kegiyatan rukiyah atas nama agama.  Dan semua kegiatan agama dan atas nama agama tetapi punya-punya maksud menipu.

Kenapa masyarakat kita mudah ditipu?

Sebab, semua kegiatan yang mengatasnamakan agama dianggap benar-benar bertujuan baik. Apalagi ada “ajaran” umat beragama tidak boleh “suudzon”. Tidak boleh berprasangka buruk. Bahkan juga ada sikap “sami’ na wa atho’na yang mengatakan “saya mendengarkan dan saya melakukannya”, apa yang dikatakan guru agamanya dianggap benar dan diikuti. Apalagi masyarakat kita sangat mengharga profesi guru agama, ustadz atau ulama. Bahkan partai yang berazaskan agama juga dianggap benar-benar membawa aspirasi umat beragama, terutama umat Islam. Husnudzon atau prasangka baik masyarakat telah disalahgunakan oleh oknum-oknum yang mengaku guru agama, ustadz atau ulama. Semua tujuan yang baik ternyata hanya “kelihatannya” saja. Semua tujuan baik telah disalah gunakan.

Perlunya sikap berhati-hati

Tidak ada cara lain untuk menghindarkan diri dari penipuan yang berkedokkan agama atau profesi-profesi agama. Jika perlu bertanya kepada orang lain yang sudah punya pengalaman dan terbukti positif. Berhati-hati tidak sama dengan bersuudzon. Berhati-hati artinya “percaya” tetapi hanya “50%” dulu. Sebab, yang “50%” adalah hal-hal yang masih harus dibuktikan dulu berdasarkan saksi, bukti atau fakta.

Agama bukan untuk dikomersilkan

Ada baiknya semua umat beragama sadar bahwa agama bukanlah untuk dikomersilkan. Ayat-ayat suci bukan untuk diperjual belikan. Kalau alasannya “cari makan”, maka sebaiknya cari usaha lain yang halal. Cara-cara halal jumlahnya sangat banyak dan sangat terbuka lebar. Dunia usaha halal jumlahnya ada ratusan ribu usaha. Mulai dari yang tanpa modal, modal sedikit, modal sedang hingga modal besar. Yang penting ada kemauan dan semangat.

Banyak yang rajin beribadah tetapi perilakunya buruk

Cukup banyak orang yang rajin beribadah tetapi perilakunya buruk. Antara lain sirik. Pinjam uang tidak mau bayar. Suka mencela dan memfitnah. Berpenyakit hati (sombong dan lain-lain). Membenci agama lain, membenci suku lain dan semacamnya. Suka menyalahkan orang lain. Narsis berlebihan. Suka mengucapkan kata kasar, tak sopan dan tak senonoh. Suka berbohong atau menipu. Suka ingkar janji. Buang sampah sembarangan. Tidak disiplin berlalu lintas. Suka melanggar peraturan perundang-undangan. Korupsi, kolusi, nepotisme, suap,sogok,gratifikasi. Berbuat maksiat. Dan, perilaku buruk lainnya.

Sebaiknya pendekatan ke orang yang bisa dipercaya

Sebaiknya kita tidak mudah percaya kepada siapapun juga sebelum ada bukti, saksi dan fakta. Jika perlu, kita wajib bertanya kepada orang-orang yang benar-benar bisa kita percaya. Yang pasti jangan mudah terkecoh oleh penampilan seseorang. Jangan mudah terkecoh oleh agama atau ibadah seseorang. Nilailah orang dari perilakunya, dari kualitasnya, bukan dari yang lain-lain.

Semoga bermanfaat.
Hariyanto Imadha
Pengamat perilaku
Sejak 1973


Kategori