Oleh: psikologi2009 | Februari 19, 2014

PSIKOLOGI: Wanita Pemimpin Tidak Boleh Cengeng

WanitaPemimpin

ADA anggapan, wanita itu mudah tersentuh hatinya dan boleh-boleh saja menangis. Itu manusiawi, katanya. Secara umum memang itu benar. Tapi kalau wanita itu menjadi seorang pemimpin, mulai dari menjadi ketua RT, lurah/kepala desa, camat, bupati, walikota, gubernur, menteri apalagi presiden, maka persoalannya menjadi lain. Sebab, untuk menjadi pemimpin banyak syarat-syaratnya. Antara lain harus mempunyai “leadership” yang kuat. Harus memiliki mentalitas yang kuat. Harus siap mental. Harus siap dikritik, dicela, dicaci maki dan harus berani dan tabah menghadapi tantangan.

Pemimpin

Betul kata Megawati, menjadi presiden itu lebih mudah daripada menjadi pemimpin. Sebab, salah satu syarat menjadi presiden adalah seseorang yang mempunyai mentalitas dan kemampuan seorang pemimpin. Terlepas apakah dia pemimpin berjenis kelamin pria maupun wanita. Seorang pemimpin harus mampu memimpin. Harus berani menghadapi tantangan-tantangan dan ancaman-ancaman. Dan mampu mencari solusi secara tepat. Seorang pemimpin harus mampu berpikir cerdas dalam menghadapi berbagai persoalan.

Contoh:

Masih ingat kasus Lurah Susan, Lurah Lenteng Agung, Jakarta Selatan? Hanya karena dia nonmuslim, maka diapun didemo, dicaci-maki, dikatakan pemimpin kafir, haram, bahkan ada menteri yang mengusulkan supaya Lurah Susan dipindahkan. Tapi, apa yang dilakukan Lurah Susan? Menangis? Tidak. Lurah Susan tetap tenang. Tetap tabah. Akhirnya persoalanpun berlalu. Dan Lurah Susan tetap menjadi lurah.

Wanita menangis itu manusiawi?

Wanita menangis itu manusiawi?.Ya, tapi itu untuk wanita pada umumnya. Tapi kalau seorang wanita pemimpin menangis hanya untuk urusan politik atau sehubungan dengan jabatannya, tentu itu bukan sikap seorang pemimpin. Tidak boleh menggunakan kata “manusiawi” untuk seorang wanita pemimpin yang menangis dalam kaitannya dengan politik, jabatan atau kekuasaannya. Sebab, sebelum menjadi pemimpin, seorang wanita harus memiliki sikap mental yang tangguh.

Wanita-wanita pemimpin dunia

Banyak wanita yang menjadi pemimpin. Menjadi presiden, kepala negara, raja dan semacamnya.

(Selengkapnya di : http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_wanita_pemimpin_dunia).

Pernahkan Anda melihat mereka menangis hanya untuk urusan politik, urusan jabatannya. Atau urusan kebijakannya, apalagi di TV? Tidak! Mereka boleh menangis kalau untuk urusan lain. Misalnya, menangis melihat rakyatnya ternyata masih banyak yang miskin, karena suami atau anaknya meninggal dan hal-hal lain yang tidak ada hubungannya dengan kekuasaan maupun kepemimpinannya.

Menjadi pemimpin memang tidak mudah

Menjadi pemimpin memang tidak mudah, apalagi kalau dia seorang wanita. Oleh karena itu seorang pemimpin harus melatih dirinya sendiri untuk tidak menjadi pemimpin yang cengeng. Harus siap menghadapi berbagai rintangan dan tantangan. Tidak boleh mengeluh, apalagi mengeluh dan menangis di TV.

Kata “manusiawi” harus ditempatkan pada tempat yang tepat

Dengan demikian, kalimat “wanita menangis itu manusiawi” harus diletakkan pada konteks yang tepat. Tidak boleh menangis untuk urusan kekuasaan atau kepemimpinannya. Apalagi di depan TV. Boleh menangis untuk urusan-urusan lain yang bersifat nonpolitik. Atau, menangislah tanpa diketahui publik.

Jangan menjadi pemimpin cengeng

Semua masyarakat di dunia tidak suka mempunyai pemimpin cengeng, baik pria maupun wanita. Sebab, masyarakat membutuhkan seorang pemimpin yang berani, tangguh, tabah, cerdas, takwa, jujur, bersih dan merakyat. Masyarakat dunia tidak ingin dipimpin seorang pemimpin yang cengeng, suka menangis, suka mengeluh atau suka curhat. Walaupun dia seorang wanita sekalipun.

Bagaimana dengan wanita pemimpin Surabaya?
Walikota Surabaya, Bu Risma (Tri Rismaharini), dalam acara Mata Najwa ataupun dalam berbagai kesempatan, selalu mengusap air matanya. Menangis. Bukan soal salah atau tidak salah, tetapi seorang wanita pemimpin tidak boleh cengeng. Menangisnya Bu Risma, hanya merupakan “solusi psikologis”, bukan “solusi politis”. Artinya, menangisnya Bu Risma, bukan solusi untuk  menyelesaikan masalah. Dan tidak menyelesaikan masalah.

Kesimpulan

-Sekali lagi, betul kata Megawati :” Menjadi presiden itu mudah, tetapi menjadi pemimpin itu sulit”.

– Oleh karena itu, kalau tidak siap menjadi pemimpin, jangan mencalonkan diri jadi pemimpin.

-Masyarakat tidak butuh pemimpin yang cengeng, suka menangis, suka mengeluh dan suka curhat.

(Sumber foto: arsiparmansyah.wordpress.com).

Hariyanto Imadha
Pengamat perilaku
Sejak 1973

Iklan

Kategori

%d blogger menyukai ini: