Oleh: psikologi2009 | Februari 20, 2014

PSIKOLOGI: Perilaku Anak Muda Yang Disukai Dan Yang Tidak Disukai

FACEBOOK-PsikologiPerilakuAnakMudaYangDisukaiDanYangTidakDisukai

ANAK muda, biasanya identik dengan remaja yang belum menemukan jati dirinya, mudah tersinggung, cepat marah, merasa sudah tahu atau merasa pintar, tidak mau dikoreksi, emosional, merasa benar sendiri, mudah tersinggung, selalu ingin tahu dan ingin mencoba, tidak mau dinasehati orang tua dan semacamnya. Pokoknya konotasinya buruk. Kenyataannya, tidak semua anak muda seperti itu. Banyak juga anak muda yang baik, suka merendahkan diri, bisa menghargai orang lain terutama yang lebih tua, rajin beribadah, suka bertanya kalau tidak mengerti, selalu menambah pengetahuan, menyadari kalau ilmunya masih sedikit, sabar dan lain-lain yang berkonotasi positif. Namun ada juga yang merupakan kombinasi keduanya, ada baiknya ada tidak baiknya, tergantung lebih dominan yang mana.

Secara umum, ada dua kategori anak muda

1.Anak muda yang disukai

2.Anak muda yang tidak disukai

Ad.1.Anak muda yang disukai

Dari sudut psikologi, ada beberapa karakter anak muda yang  disukai

a.Merasa kalau ilmunya masih sedikit dan suka bertanya

Anak muda yang merasa ilmunya kurang, cenderung selalu membaca apa saja.  Cenderung suka membeli buku. Selalu ingin tahu dan menambah pengetahuannya. Selalu menganalisa sesuatu. Kalau ada sesuatu yang tidak diketahui, selalu berusaha bertanya kepada orang yang tahu.

Contoh:

Si A bertanya, apa bedanya “blender” dan “juicer”

Si A bertanya, apa bedanya “maksimal” dan “opimal”

Si A bertanya, apa bedanya “logika” dan “filsafat”, dan lain-lain.

b.Patuh terhadap nasehat orang yang lebih tua

Patuh terhadap nasehat orang tua, sebab orang tua dianggap sudah kaya pengalaman hidup. Nasehat orang tua pastilah punya tujuan dan maksud yang baik.

Contoh:

Si A ingin melanjutkan kuliah di SSRI (Sekolah Seni Rupa Indonesia”, Yogya, tetapi ayahnya melarang dengan alasan masa depan lulusan SESRI belum baik. Si A pun pindah haluan dan melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi UI dan setelah lulus, bekerja di perusahaan asing dengan gaji besar.

c.Lebih rasional daripada emosional

Lebih menekankan rasio daripada emosional. Selalu membandingkan manfaat dan mudarat. Selalu berpikir apa untung dan apa ruginya. Selalu berpikir apa sebab dan akibatnya. Tindakannya benar-benar dipertimbangkan baik buruknya.

Contoh:

d.Menyukai kegiatan-kegiatan yang positif

Kalau ada kegiatan ekstra di sekolah, pastilah memilih kegiatan yang positif baginya. Dan di luar sekolah juga memilih kegiatan yang positif karena lebih banyak manfaatnya daripada mudaratnya.

Contoh:

Di sekolah Si A mengambil ekstra kulikuler musik ataau kesenian Jawa, sedangkan di luar sekolaah mengambil kursus matematika dan bahasa Inggeris karena sangat berguna bagi masa depannya.

e.Suka merendahkan diri

Suka merendahkan diri  jika berhadapan dengan orang lain. Sambil merendahkan diri dia juga menilai seberapa “tinggI imu yang dimiliki lawan bicaranya. Juga ingin tahu sampai di mana level lawan bicaranya.

Contoh:

Si A suka merendahkan diri di hadapan teman barunya. Kalau teman barunya lebih pandai, maka Si A lebih suka bertanya daripada berpendapat. Tapi jika teman barunya tampaknya ilmunya lebih rendah, maka Si A lebih banyak berbagi ilmu kepada teman barunya itu.

f.Sopan santun

Sikapnya sopan. Tindak tanduknya serba etika. Dia tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik. Mana yang seharusnya dan mana yang tidak seharusnya.

Contoh:

Si A, kalau berjanji selalu ditepati. Kalau pinjam barang slalu dikembalikan. Tutur bahasanya sopan dan berhati-hati sebab tidak mau sampai menyinggung perasaan orang lain.

g.Rajin beribadah

Anak mudapun banyak yang rajin beribadah. Baginya ibadah merupakan pedoman perilaku agar bisa berbuat baik dan terhindar dari perbuatan yang tidak baik.

Contoh:

Si A rajin beribadah. Oleh karena itu kalau ingin berbuat yang tidak baik, selalu takut kepada dosa. Selalu takut kepada Tuhan. Sehingga Si A hanya melakukan perbuatan yang baik karena tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik dan tahu mana yang dibolehkan agama dan mana yang tidak dibolehkan agama.

Ad.2.Anak muda yang tidak disukai

Dari sudut psikologi, ada beberapa karakter anak muda yang  tidak disukai

a.Merasa ilmunya sudah cukup dan tidak suka bertanya

Yaitu anak muda yang merasa ilmunya sudah cukup, padahal hanya tahu kulit-kulitnya saja. Konsekuensinya, dia tidak suka bertanya karena merasa ilmunya sudah sempurna, padahal ilmunya masih dangkal.

Contoh:

Si B mengomentari secara negatif sebuah artikel politik. Bahkan menasehati penulisnya ang lebih tua. Padahal, pengetahuan Si B tentang politik masih dangkal. Apalagi, menasehati orang tua yang sudah pukuhan tahun punya pengalaman menulis.

b.Suka membantah nasehat atau pendapat orang yang lebih tua

Anak muda ada yang tidak suka dinasehati orang tua. Merasa sudah tahu, merasa sudah benar, tidak mau dianggap tidak mengerti.

Contoh:

Si B kalau dinasehati orang tua atau orang yang lebih tua, selalu membantah. Merasa pendapatnya disalahkan (padahal memang pendapatnya Si B yang salah). Merasa tersinggung kalau dinasehati orang yang lebih tua.

c.Lebih emosional daripada rasional

Anak muda juga ada yang emosional. Suka marah. Bahkan kadang-kadang tanpa tahu sebabnya, tanpa tahu alasaannya, langsung marah. Solidaritas antar teman merupakan solidaritas yang negatif.

Contoh:

Si B habis dipukul anak SMA ABCD karena persoalan sepele saja. Si B-pun mengadu ke teman-temannya di SMAN PQRS. Maka, terjadilah tawuran antara puluhan siswa SMA ABCD dan siswa PQRS. Emosi yang bicara.

d.Lebih suka melakukan kegiatan-kegiatan negatif

Karena tidak tahu mana yang positif dan negatif, maka cara berlogikanya cenderung negatif. Menganggap kegiatan negatifnya sebagai solusi atau sebagai penyaluran yang positif, padahal negatif.

Contoh:

Si B bergabung di Geng Motor “Zadish”, karena di situ meraasa punya harga diri. Merasa ditakuti banyak orang. Merasa gagah dan hebat. Bisa menunjukkan sikap berani matinya. Tidak takut kepada siapapun. Siapa yang melawan akan dihajar. Tidak pernah merasa bersalah. Apa yang dilakukannya justru dianggap membanggakan.

e.Bersikap snob (sok tahu, sok kaya, sok pintar)

Ada juga anak muda yang snob. Sok tahu, sok mengerti, sok pintar, sok suci dan sok-sok lainnya. Tidak disadari bahwa sikap sok adalah sikap yang bertentangan dengan fakta, realita atau kenyataan yang ada.

Contoh:

Si B adalah seorang Facebooker. Kalau ada artikel politik, dikomentari dgn gaya sok tahu politik. Kalau ada artikel psikologi, dikomentari dengan lagak sok tahu psikologi. Kalau ada artikel hukum, dikomentari seolah-olah dia pakar hukum. Padahal, Si B tidak tahu apa-apa tentang artikel atau status yang dikomentari.  Padahal, Si B tidak punya kompetensi apa-apa. Tidak punya pengetahuan, ilmu pengetahuan atau pengalaman yang mendukung. Bisanya hanya mencela. Padahal, Si B membuat satu artikel saja tidak pernah. Sikap sbob sebenarnya merupakan salah satu ciri pengidap psikopat.

g.Kurang sopan

Memang kadang-kadang menjengkelkan kalau ada anak muda yang tidak sopan. Bicara seenaknya sendiri. Perilakunya seenaknya sendiri.

Contoh:

Bagi Si B, segala sesuatunya seenaknya sendiri. Tidak menggunakan kata-kata yang sopan, tetapi justru menggunakan kata-kata vulgar, norak, menyinggung perasaan, kasar dan terkesan tak berpendidikan. Semua sebenarnya merupakan ungkapan rasa stres, frustrasi dan bahkan depresi.

h.Tidak rajin beribadah

Rata-rata, anak muda yang perilakunya negatif, tidak pernah beribadah, jarang beribadah atau beribadah tapi hanya basa-basi saja. Baginya ibadah hanya sebuah rutinitas saja. Hanya merupakan basa-basi saja. Hanya untuk memberi kesan dia rajin beribadah. Padahal, hanya fisiknya saja yang beribadah, tetapi rohaninya tidak beribadah.

Cermin kualitas pendidikan orang tuanya

Boleh dikatakan perilaku positif atau negatif anak muda, merupakan cermin kualitas pendidikan yang diberikan kedua orang tuanya. Anak muda yang perilakunya baik, pastilah kedua orang tuanya mampu memberikan pendidikan yang baik. Sebaliknya, perilaku anak muda yang tidak baik, merupakan hasil dari pendidikan kedua orang tuanya yang kurang berkualitas.

Pengaruh lingkungan

Di amping karena faktor pendidikan orang tua, sikap baik atau buruk anak muda, juga karena pengaruh dari lingkungannya. Antara lain dari buku-buku, video, film, internet, sinetron, teman sepergaulan, dan pengaruh lingkungan lainnya. Pengaruh lingkungan bisa positif dan bisa juga negatif

Akibat brainwashing

Perilaku baik dan tidak baik dari anak muda juga bisa akibat pengaruh “brainwashing” atau “cuci otak” tentang apa saja. Tentang narkoba, tentang seks bebas, tentang perlunya mengganti Pancasila, juga ada brainwashing yang positif, yaitu tentang ilmu pemasaran yang efektif, komunikasi yang baik, cara berpidato yang efektif dan lain-lain. Brainwashing bisa baik dan bisa tidak baik tergantung tujuan dan materinya.

Cara berlogika

Pengaruh ketiga dari perilaku baik dan tidak baik dari anak muda juga ditentukan oleh cara berlgikanya. Kalau cara berlogikanya “positive thinking”, pastilah perilakunya baik. Sebaliknya kalau cara berlogikanya “nrgative thinking”, pastilah perilakunya tidak baik. Cara berlogika juga bisa menunjukkan kecerdasan atau ketidakcerdasan anak muda.

Semoga bermanfaat

Hariyanto Imadha
Pengamat perilaku
Sejak 1973


Kategori