Oleh: psikologi2009 | Maret 4, 2014

PSIKOLOGI: Kenapa Bisa Salah Paham?

FACEBOOK-PsikologiKenapaBisaSalahPaham

SETIAP orang pasti pernah mengalami salah paham. Mungkin Anda. Mungkin tetangga Anda. Mungkin tean sekantor Anda. Mungkin Anda. Atau siapa saja bisa saja mengalami sala paham. Salah paham pastilah ada akibatnya. Ada akibat yang ringan, sedang maupun yang berat. Salah paham bisa melanda siapa saja, apapun agamanya, apapun sukunya, apapun status sosialnya, apapun pendidikannya. Salah paham juga tidak mengenal usia, bisa mulai dari anak-anak hingga orang tua.

A.Apakah salah paham itu?

Salah paham adalah sebuah anggapan, prasangka, prakiraan/perkiraan, praduga, pemahaman, pengertian, kesimpulan, penilaian dan semacamnya tentang sebuah hal, sebuah peristiwa, sebuah pendapat, sebuah keadaan yang ternyata berbeda dengan kenyataan sesungguhnya, fakta yang sesungguhnya, objektivitas yang sesungguhnya. Hal ini karena merupakan hal yang belum atau tidak diketahui sebelunya baik sementara ataupun selamanya.

B.Beberapa contoh

1.Menganggap tidak mampu membeli mobil

Anggapan:

Si A, merupakan warga baru di BSD Nusaloka, BSD City,Tangerang Selatan. Tiap hari naik motor. Maka, tetangganyapun mengira Ai A tidak mampu membeli mobil.

Kenyataan sesungguhnya:

-Si A suka naik motor karena sudah menjadi hobinya sejak Si A masih duduk di bangku SMA

-Si A yang hingga usia 61 belum menikah merasa tidak efisien kalau punya mobil yang berkapasitas lima ataupun enam orang

-Si A berusaha mencari transportasi yang hemat BBM dan bisa mengatasi kemacetan lalu lintas

-Si A punya deposito Rp 3 M yang pastinya cukup untuk membeli mobil

2.Menganggap karena patah hati

Anggapan:

Si A tidak menikah hinga usia 61 tahun. Maka Si B yang baru mengenalnya menganggap Si A tidak menikah karena pernah patah hati.

Kenyataan sesungguhnya:

Padahal, yang sesungguhnya terjadi adalah Si A punya kepribadian perfectionisme. Selalu mencari pasangan yang sempurna. Dan yang sempurna tidak pernah didapatkannya karena mantan pacarnya selalu bermasalah. Misalnya tidak mau masuk Islam, sakit asma/jantung yang bisa menurun, karena untuk melamar harus dengan siste beli, karena kalau menikah maka semua hartanya harus atas nama isterinya,karena pacarnya mengaku single tapi kenyataannya sudah punya anak, sebab pacarnya ternyata anak pungut yang tidak jelas siapa orang tua kandung yang sebenarnya dan masalah lainnya.

3.Menganggap  hanya punya deposito

Anggapan:

Si B menganggap Si A hanya punya investasi berupa deposito, saat Si A bercerita tentang depositonya di Bank BRI. Bahkan enganggap Si A baru tahun 2014 ini punya deposito.

Kenyataan sesungguhnya:

Sesungguhnya Si A sudah 30 tahun lebih jadi nasabah berbagai bank dengan cara pindah-pindah bank. Antara lain Bank Danamon, Bank Panin, Bank BUN (sudah bubar), Bank Jabar, Bank Mandiri, Bank BTN, Bank BCA, Bank BRI dan lain-lain. Jadi, tidak benar kalau Si A baru jadi nasabah bank pada tahun 2014. Juga tidak benar kalau Si A hanya punya investasi dalam bentuk deposito, sebab kenyataan sesungguhnya Si A juga punya investasi lain berupa properti, emas batangan dan dollar AS.

4.Menganggap  tidak shalat Jumat

Anggapan:

Beberapa orang tahu biasanya Si A shalat Jumat di masjid di dekat rumahnya. Sesudah itu teman-temannya tidak pernah lagi melihat shalat Jumat di masjid di dekat rumahnya. Maka teman-temannya menganggap Si A tidak pernah shalat Jumat.

Kenyataan sesungguhnya:

Padahal, Si A sesungguhnya shalat Jumat di masjid lain yang halamannya luas sehingga tempat parkirnya aman. Lantainya berkarpet. Ada tempat penitipan sandal/sepatu. Artinya, atas dasar pertimbangan keamanan dan kenyamanan. Sedangkan masjid di dekat rumahnya tempat parkirnya kurang aman karena sering ada kendaraan yang hilang, tidak berkarpet dan tidak ada penitipan sandal/sepatu. Lagipula ceramah agamanya juga sering bersifat Anti-Pancasila.

5.Menganggap orang cacat

Anggapan:

Banyak orang menganggap Si A penyandang cacat karena naik motor tiga roda, terutama beberapa satpam yang bertugas di Plasa Cordoba.

Kenyataan sesungguhnya:

Padahal, Si A bukan penyandang cacat karena saat turun dari motor bisa berjalan secara normal seperti orang-orang pada umumnya. Maka orang-orang terutama para satpam baru tahu kalau Si A ternyata bukan penyandang cacat atau disabilitas.

6.Menganggap orang bodoh

Anggapan:

Si A sejak diwisuda tidak pernah memakai gelar sarjana. Penampilannyapun biasa-biasa saja. Bahkan mengesankan Si A berpendidikan rrendah. Maka ketika Si A mengikuti rapat warga di RT/RW-nya, banyak yang mengira Si A itu bodoh. Semua pendapatnya disalahkan.

Kenyataan sesungguhnya:

Padahal, Si A pernah kuliah di 6 (enam) perguruan tinggi, mempunyai karya lebih dari 6.000 karya tulis tentang apa saja (psikologi, hukum,ekonomi,filsafat, logika,komputer,internet dan sebagainya). Si A enganggap tidak perlu memakai gelar sarjana kalau apa yang dilakukannya bukan merupakan kegiatan ilmiah. Si A baru akan memakai gelar sarjananya kalau ada hubungannya dengan kegiatan ilmiah .

7.Menganggap sesuai perhitungan standar

Anggapan:

Si A membuka deposito di Bank BRI. Karena bunganya hanya 4,25%, maka Si A-pun melakukan negosiasi bunga dan cara perhitungannya. Maka akhirnya melalui nego yang alot, maka disetujuilah bunga 6,5% yang bisa diambil bunganya per bulan.  Namun teman-temannya menyalahkan cara perhitungannya dan menganggap Si A tidak mengerti perhitungan bunga deposito. Bahkan pendapat Si A disalahkan. Bahkan dianggap tidak mengerti soal bunga deposito dan di”tuduh” Si A beranggapan bunga 4,25% atau 6,5% adalah bunga deposito per bulan karena Si A mengambil bunganya per bulan.

Kenyataan sesungguhnya:

Cara perhitungannyapun agak berbeda sedikit dengan perhitungan standar. Ada pertibangan khusus. Jadi, kalau Si A dikatakan salah perhitungan tentu itu tidak benar. Yang seebenarnya terjadi adalah teman-temannya tidak tahu kalau Si A mempunyai hasil nego yang bunganya tidak selalu sama dengan perhitungan standar. Ini hasil nego yang tentunya tidak sesuai 100% dengan standar dan pimpinan bank diberi wewenang untuk membuat kebijakan itu.

8.Menganggap yang dilakukan caleg itu benar

Anggapan:

Hampir semua warga menganggap apa yang dilakukan caleg Si B itu benar. Yaitu, Si B merupakan caleg (incumbent) yang berjanji akan memperbaiki jalan-jalan rusak di komplek perumahan itu. Itu bisa terjadi karena dialah yang punya wewenang untuk menyetujui atau tidak menyetujui anggaran. Namun dia meminta imbalan agar para memilih dia sbagai anggota DPR.

Kenyataan sesungguhnya:

Padahal, Si B sebagai anggota legislatif, weweangnya terbatas antara lain menyetujui atau tidak menyetujui anggaran. Titik. Sampai di situ. Sedangkan perbaikan jalan merupakan wewenangnya eksekutif atau pemda atau PU (Pekerjaan Umum). Bukan wewenangnya anggota legislatif. Dengan demikian salah besar kalau Si B meminta supaya dipilih sebagai anggota DPR. Sebab, itu artinya Si B menunggangi uang rakyat, menunggangi wewenang eksekutif dan sekaligus menjadikan proyek sebagai alat politik pribadinya. Si A 30 Tahun lebih pernah menjadi nasabah beberapa bank. Tentunya sangat faham kalau bunga 4,25% atau 6,5% adalah bunga deposito per tahun. Cuma, pengambilan bunga depositonya per bulan dan ada perhitungan khusus.

9.Menganggap memilih dalam pemilu itu wajib

Anggapan:

Sangat banyak masyarakat mengira memilih adalah sebuah kewajiban. Bahkan ada fatwa haram golput dan tentunya sambil membawa ayat-ayat suci Al Quran. Seolah-olah mereka yang golput akan masuk neraka. Padahal penyebab golput ada puluhan sebab. Karena menganggap memilih itu wajib,maka banyak yang berduyun-duyun datang ke TPS. Juga ada anggapan mereka yang datang ke TPS adalah warganegara yang baik.

Kenyataan sesungguhnya:

Kenyataan sesungguhnya, menurut UU Pemilu memilih adalah “hal”, nukan “kewajiban”. Hal adalah boleh memilih dan boleh tidak memilih. Memilih bukan ukuran warganegara yang baik sebab yang datang ke TPS banyak juga warganegara yang tidak baik : PSK, koruptor, penipu, preman, tukang copet dan lain-lain. Warganegara yang baik adalah warganegara yang tidak melanggar peraturan perundang-undangan dan mematuhi semua kewajibannya sebagai warganegara.

10.Menganggap agama bisa mengubah watak

Anggapan:

Banyak yang menganggap bahwa agama bisa menguvah watak atau karakter atau perilaku manusia.

Kenyataan sesungguhnya:

Kenyataannya, banyak umat beragama yang melakukan korupsi, kolusi, nepotisme, gratifikasi, pungli, suap, sogok ataupun penyalahgunaan wewenang. Yang bisa mengubah watak, karakter atau perilaku bukanlah agama, melainkan kemauan, niat, atau nawaittu atau motivasi yang sangat kuat diikuti dengan langkah-langkah yang kongkrit sehingga watak, karakter atau perilakunya yang semula tidak baik menjadi perilaku yang baik.

Dan masih banyak contoh lainnya.

C.Contoh kasus lain:

Penulis menjadi nasabah bank 30 tahun lebih dan suka ganti-ganti bank (Bank Danamon, Bank Panin, Bank Mandiri, Bank BCA dan lain-lain. Pada 3 Maret 2014 penulis ke Bank BRI untuk mengubah status tabungan biasa menjadi deposito. Sayang, bunganya Cuma 4,25% pertahun, padahal di Bank BCA 7,5% pertahun. Karena penulis ingin mengambil bunganya per bulan, penulispun melakukan nego bunga deposito, bukan 4,25% per tahun tetapi per bulan dengan bunga lebih tinggi. Penulis minta 6,5% per bulan (tentu dari pokok deposito/12). Karena kalau penulis menulis 6,5% per tahun, orang akan mengira penulis akan mengambil bunganya per tahun. Disetujui. Bunganya 6,5% per bulan (dari pokok deposito/12).

Terus, siangnya penulis membuat status di Facebook sbb:

BUNGA DEPOSITO: Tadi pagi saya mau buka deposito di Bank BRI. Wah, bunganya kok cuma 4,25% per bulan? Sayapun bilang, bahwa bunga depositi di Bank BCA 7,5% per bulan. Akhirnya pihak CS (Customer Setvice), bunga deposito di Bank BRI bisa dinego. Akhirnya saya diberi bunga 6,5% per bulan. Lumayan! —– Masalahnya, banyak lho org yg belum tahu kalau bunga deposito di Bank BRI bisa dinego (tentu, semakin besar nilainya, semakin besar bunganya).

Salah paham

Ternyata, status tersebut menimbulkan banyak kesalahpahaman di kalangan Facebooker. Bahkan ada yang meralat, mengoreksi , merevisi dan semacamnya seolah-olah penulis tidak paham tentang bunga deposito.

Penyebab salah paham

Penyebab salah paham yaitu:

1.Status kurang lengkap dan kurang dipahami oleh para Facebooker

2.Menganggap ada kejanggalan tetapi Facebooker tidak mau bertanya ke pembuat status.

D.Secara umum kenapa bisa salah paham?

Seseorang bisa saja salah paham karena beberapa hal. Antara lain:

1.Cara berlogika apriori (berpikir tidak berdasarkan fakta  objektif yang sesungguhnya melainkan berpikir hanya berdasarkan angggapan subjektif belaka).

2.Karena terpaku pada format baku sehingga ketika ada format yang berbeda tidak diketahuinya. Kalau ada sesuatu yang “janggal”, tidak mau bertanya kepada yang bersangkutan.

3.Mengukur pengalaman orang lain dengan pengalaman pribadinya yang sebenarnya berbeda dengan orang lain.

4.Merasa pendapatnyalah yang benar dan pendapat orang lain yang ssalah. Padahal, pendapatnyalah yang salah karena tidak memahami fakta yang sesungguhnya.

5.Tidak mampu berpikir secara alternativisme. Tidak membuka adanya kemungkinan-kemungkinan lain. Juga, karena terbatasnya pengetahuan, ilmu pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya.


Hariyanto Imadha

Pengamat perilaku
Sejak 1973

Iklan

Kategori