Oleh: psikologi2009 | Maret 11, 2014

PSIKOLOGI: Membenci Golput Merupakan Gejala Sakit Jiwa

PSIKOLOGI-MembenciGolputMerupakanGejalaSakitJiwa

SUNGGUH aneh cara berpikir orang Indonesia, golput kok diharamkan, golput gok dimusuhi dan golput kok dianjurkan untuk tidak golput. Mereka lupa bahwa “urusanku adalah urusanku” dan “urusanmu adalah urusanmu”. Apalagi, pemilu di Indonesia merupakan hak (hak memilih) dan bukan kewajiban (kewajiban untuk memilih. Bahkan sikap yang salah itu juga dimiliki orang-orang yang bergelar S1, S2, S3 dan berpredikat profesor. Mungkin, mereka adalah orang-orang yang tidak faham psikologi, terutama psikologi-politik. Kasihan.

Apakah golput itu?

Golput adalah hak setiap warganegara untuk tidak menggunakan hak memilihnya. Sebab hak memillih adalah sebuah hak yang boleh digunakan maupun tidak digunakan. Golput adalah hak pribadi yang melekat pada sikap seseorang terhadap sebuah objek pilihan yang dinilainya tidak layak untuk dipilih dengan berbagai alasan.

Kenapa golput?
Banyak penyebab golput. Mungkin ada sekitar 100 alasan atau penyebab kenapa seseorang itu golput. Tiap alasan tentu benar bagi masing-masing pribadi golput. Walaupun orang lain menyalahkan, namun bagi pribadi golput alasannya benar karena sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada pada dirinya.

Golput urusan pribadi

Pada dasarnya golput adalah urusan pribadi, sesuai kondisi psikologis asing-masing pribadi. Sebagai urusan pribadi tentu bersifat privat-ekslusif. Sebagai urusan pribadi pastilah punya alasan yang benar bagi dirinya. Sikap golput juga merupakan sikap yang bisa menimbulkan kenyamanan bagi dirinya.

Golput tidak melanggar konstitusi maupun undang-undang

Sikap golput merupakan hak setai warganegara untuk menyatakan pendapat, berkelompok, berkomunitas, sejauh tidak bertentangan dengan undang-undang yang ada. Artinya, sikap golput tidak melanggar UUD 1945, UU Pemilu maupun peraturan perundang-undangan lain.

Membenci golput merupakan sikap sirik

Pada dasarnya orang yang mencampuri urusan pribadi golput adalah orang-orang sirik. Ada sikap tidak suka kalau ada orang lain golput. Seolah-olah mereka yang tidak golput adalah warganegara yang baik. Seolah-olah yang tidak golput merasa paling berjasa kepada bangsa dan negara.

Sirik merupakan gejala sakit jiwa

Sesungguhnya sikap sirik merupakan penyakit hati dan penyakit hati merupakan gejala sakit jiwa. Merupakan benih-benih sakit jiwa. Oleh karena itu gerakan anti golput atau sikap anti golput hanya dimiliki orang-orang yang berpotensi sakit jiwa.

Anti golput merupakan pribadi SNOB

Anti golput juga merupakan sikap snob. Yaitu sikap sok. Sok warganegara yang baik. Sok mengerti politik. Sok merasa ingin membangun bangsa dan negara. Sok lebih pandai dibanding yan golput. Sok pahlawan pembangunan. Sok telah berbuat apa-apa. Sok merasa produktif. Dan sikap-sikap sok lain yang bersikap superior. Padahal, sikap superior bisa mengarah ke “superiority complex” yang mengarah munculnya penyakit jiwa atau gangguan kejiwaan.

Anti golput merupakan sikap impulsif

Sikap impulsif dimiliki oleh pribadi-pribadi impulsif. Yaitu sebuah sikap yang tidak didukung penalaran-penalaran yang imiah. Sebuah tindakan yang tidak ada alasan rasionalnya. Yang dilakukan adalah alasan-alasan yang dirasional-rasionalkan padahal tidak rasional. Keputusannya atau sikapnya atau tindakannyapun muncul secara tiba-tiba.

Anti golput merupakan persoalan like or dislike

Pada dasarnya soal golput adalah soal like or dislike. Yang anti golput pastilah kelompok “dislike” atau “tidak suka” alias “sirik.

Politisi takut dengan angka golput yang besar

Bisa jadi gerakan anti golput dilakukan dan dibayar oleh para politisi, baik yang incumbent maupun yang bukan incumbent. Sebab, jika banyak yang golput, mereka takut (paranoid) kalau tidaak terpilih. Kalau tidak terpilih tentu merupakan kerugian besar karena telah keluar modal politik dalam jumlah yang cukup besar.

Korupsi tanggung jawab mereka yang tidak golput

Fakta bahwa banyak anggota DPR yang korupsi, gratifikasi,terlibat suap-sogok, pungli, kolusi, nepotisme, calo anggaran dan perbuatan negatif lainnya.  Siapa yang harus bertanggung jawab? Jelas, yang harus bertanggung jawab adalah mereka yang tidak golput. Mereka yang memilih para politisi busuk itu.

Gerakan anti golput gerakan bayaran

Sudah menjadi rahasia umum, gerakan-gerakan di Indonesia sebagian besar adalah gerakan bayaran. Mereka meneriakkan anti golput, membentangkan spanduk dan poster anti golput juga karena bayaran. Mereka berorasi anti golput juga karena bayaran.

Kesimpulan

Pada dasarnya sikap anti golput atau membenci golput adalah sikap sirik, snob, superiority complex, impulsif, like or dislike, paranoid, merupakan manifstasi daripada gejala-gejala sakit jiwa tahap awal.

Catatan:

Pengertian “sakit jiwa” di sini dalam konteks “psikologi politik”.

Hariyanto Imadha
Pengamat perilaku
Sejak 1973


Kategori