Oleh: psikologi2009 | Maret 27, 2014

PSIKOLOGI: Rakyat Yang Korup Akan Memilih Capres/Caleg Yang Korup Juga

FACEBOOK-PsikologiRakyatYangKorupAkanMemilihCapresCalegYangKorupJuga

HUKUM Komunitas” mengatakan bahwa, sebuah komunitas, akan memilih pemimpin yang berasal dari komunitas yang sama. Misalnya, komunitas preman, akan memilih pemimpinnya dari kalangan preman. Komunitas narkoba, akan memilih pemimpinnya dari kalangan narkoba. Komunitas artis, akan memilih pemimpinnya dari kalangan artis. Komunitas orang-orang indigo akan memilih pemimpinnya dari kalangan indigo juga. Komunitas sarjana ekonomi akan memilih pemimpinnya dari kalangan sarjana ekonomi juga. Dan seterusnya. Benarkah demikian?

Apakah hukum komunitas itu?

Hukum komunitas yaitu hukum yang mengatakan bahwa sebuah komunitas dengan karakter tertentu, akan memilih pemimpinnya dari komunitas yang sama dengan karakter tertentu pula.

Contoh:

Sudah disebutkan diatas, antara lain:

-Komunitas preman akan memilih pemimpinnya dari kalangan preman

-Komunitas narkoba, akan memilih pemimpinnya dari kalangan narkoba

-Komunitas artis, akan memilih pemimpinnya dari kalangan artis.

-Dan lain-lain.

 

Kenapa memilih pemimpin dari komunitas yang sama?

Hal tesebut terjadi karena:

 

-Adanya unsur persamaan nasib, tujuan, agama, suku, hobi dan persamaan lainnya

-Sudah merupakan tradisi turun temurun

-Cara berlogikanya logis

-Mempermudah komunikasi

 

Ada berapa macam hukum komunitas?

Sebenarnya, ada dua macam hukum komunitas

 

1.Hukum komunitas skala kecil

2.Hukum komunitas skala besar

 

Ad.1.Hukum komunitas skala kecil

Yaitu hukum yang berlaku bagi komunitas terbatas yang hanya berlaku untuk komunitas homogen.

 

Contoh:

Komunitas seni akan akan memilih pemimpinnya dari kalangan seniman

 

Ad.2.Hukum komunitas skala besar

Yaitu hukum yang berlaku bagi komunitas yang tak terbatas dan berlaku untuk komunitas heterogen.

 

Contoh:
Komunitas yang jumlahnya banyak, tetapi punya pilihan calon pemimpin yang banyak.

 

-Komunitas agama, akan memilih capres dari agama yang sama

-Komunitas simpatisan parpol, akan memilih capres siapa saja yang diusung parpol yang bersangkutan

-Dan komunitas-komunitas lainnya (jumlahnya sangat banyak).

 

Cara memilih yang salah

Kalau cara memilih pemimpin atau calon pemimpin hanya berdasarkan pertimbangan persamaan, maka itu cara memilih yang salah. Sebab, mereka mengabaikan integritas, kapabilitas ,kompetensi, prestasi, track record dan kepribadian.

 

Cara memilih yang benar

Kalau cara memilih pemimpin atau calon pemimpin berdasarkanpertimbangan kualitas, integritas, kompetensi,prestasi, track record dan kepribadian, maka itu merupakan cara memilih yang logis dan benar.

 

Apakah pemimpin yang korup berarti dipilih oleh para pemilih yang korup juga?

Ada dua jawaban:

 

-Bisa “Ya”

-Bisa “Tidak”

 

Ad.Bisa “Ya”

Bisa “Ya”  kalau semua calon pemimpinnya merupakan calon-calon koruptor atau bermental koruptor.

 

Contoh:

Ada 10 capres yang semuanya bermental korup, maka rakyat yang berasal dari komunitas korup pastilah akan memilih capres yang korup.

 

Ad.Bisa “Tidak”

Bisa “Tidak” kalau sebagian capres adalah capres berkualitas dan sebagian lagi merupakan capres berkualitas. Maka suara terbanyaklah yang menentukan, Jika suara rakyat yang tidak berkualitas lebih banyak, maka akanm terpilih capres yang tidak berkualitas. Kalau suara terbanyak adalah suara rakyat yang berkualitas, maka akan terpilih pemimpin yang berkualitas.

 

Apakah logika bisa “ya” bisa “tidak” merupakan logika yang benar?
-Bisa benar dan

-Bisa tidak benar

 

Ad.Bisa benar

Bisa benar kalau sebagian calon pemimpin berkualitas dan sebagian pemimpin tidak berkualitas serta sebagian rakyat pemilih berkualitas dan sebagian rakyat pemilih tidak berkualitas.

 

Ad.Bisa tidak benar (1)

Bisa tidak benar kalau semua calon pemimpinnya berkualitas. Walaupun sebagian pemilihnya berkualitas dan sebagian pemilihnya tidak cerdas, maka yang terpilih tetap saja pemimpin yang berkualitas.

 

Ad.Bisa tidak benar (2)
Bisa tidak benar kalau semua calon pemimpinnya tidak berkualitas. Walaupun sebagian pemilihnya berkualitas dan sebagian pemilihnya tidak cerdas, maka yang terpilih tetap saja pemimpin yang tidak berkualitas.

 

Kesimpulan

1.Semakin banyak pemilih yang berkualitas, maka semakin besar kemungkinannya yang terpilih adalah pemimpin yang berkualitas.

2.Kalau semua calon pemimpin berkualitas (melalui seleksi yang sangat ketat), maka walaupun sebagian pemilihnya berkualitas dan sebagian pemilihnya tidak berkualitas, maka yang terpilih tetap saja pemimpin yang berkualitas.

3.Kalau diIndonesia banyak korupsi, berarti jumlah pemilih yang bermental korup lebih banyak dibandingkan pemilih yang tidak bermental korup.

4.Pada umumnya pemilih yang berkualitas akan memilih pemimpin yang cerdas (apapun parpolnya, apapun agamanya, apapun sukunya,dan lain-lain).

5.Pemimpin yang berkualitas menggunakan logika kualitas, integritas dan kompetensi, prestasi,track record dan kepribadian.

 

Saran

Jika bangsa Indonesia menginginkan capres dan caleg berkualitas, maka syarat untuk menjadi capres dan caleg diperketat. Harus mempertimbangkan aspek kualitas, integritas, kompetensi, prestasi,track record dan kepribadian. Dan memenuhi syarat utama: negarawan.

 

Catatan:
Artikel ini termasuk kategori “psikologi-politik”.

 

Semoga bermanfaat

 

Hariyanto Imadha

Pengamat perilaku

Sejak 1973


Kategori