Oleh: psikologi2009 | April 28, 2014

PSIKOLOGI: Jokowi Haters Perlu Dikasihani

FACEBOOK-PsikologiJokowiHatersPerluDikasihani

MENURUT pakar psikologi Carl Gustav Jung, ada tiga macam kepribadian manusia. Yaitu kepribadian rasional, emosional dan intuitif atau egoistik. Kepribadian rasional adalah seseorang yang dalam kehidupannya selalu mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang rasional. Sedangkan kepribadian emosional yaitu kepribadian yang dalam segala sikap hidupnya berlandaskan pada emosi semata. Sedangkan kepribadian intuitif atau egoistik yaitu kepribadian di mana seseorang perilakunya dipengaruhi oleh intuisi atau sikap egoistiknya. Kebetulan, capres Jokowi memiliki kepribadian rasional. Capres Prabowo bisa dikategorikan berkepribadian temperamental atau emosional. Sedangkan ARB merupakan capres yang memiliki kepribadian kategorinya intuitif atau egoistik.

Jokowi Lovers dan Jokowi Haters
Menjelang Pileg 2014 maupun Pilpres 2014, muncul istilah Jokowi Lovers dan Jokowi Haters semata-mata karena berdasarkan hasil survei dari berbagai lembaga survei menunjukkan bahwa Jokowi selalu menempati peringkat pertama dalam hal popularitas maupun elektabilitasnya. Jadi tak heran muncul Jokowi Lovers sebagai pendukung capres Jokowi dan sebaliknya muncul juga Jokowi Haters yang bersikap anti- Jokowi.

Jokowi Haters perlu dikasihani
Namun berdasarkan analisa psikologi, para Jokowi Haters perlu dikasihani karena sikap mereka yang anti-Jokowi paling sedikit mempunyai lima kelemahan.

Yaitu:

1.Tidak memahami Psikologi
2.Tidak memahami ilmu logika
3.Tidak memahami ilmu politik
4.Tidak memahami ajaran Islam
5.Tidak memahami ilmu statsistik

Ad.1.Tidak memahami Psikologi
Mereka tidak faham Psikologi Kepribadian (Personality Psychology) sehingga tidak mampu menilai kepribadian para capres.

Ciri-cirinya:
-Tidak tahu mana capres yang rasional, mana yang emosional dan mana yang intuitif atau egoistik
-Tidak memahami perilaku capres di masa lampaunya
-Tidak tahu ciri-ciri capres yang bersih, jujur dan santun
-Terpengaruh oleh penampilan fisik atau figur
-Terpengaruh oleh iklan-iklan di TV, radio, surat kabar maupun di blog/website

Ad.2.Tidak memahami ilmu logika
Mereka tidak faham Ilmu Logika (Epistemology) sehingga cara berlogika dalam memilih capres tidak didukung logika-logika yg logis dan benar.

Ciri-cirinya:
-Cara berlogikanya dogmatis-statis. Merasa pendapatnya sendiri yang benar. Pendapat orang lain yang berbeda dengan pendapatnya selalu dianggap salah
-Bersikap subjektif dan tak mampu melihat masalah secara objektif, rasional dan faktual
-Cara memilih capres tidak didukung oleh alasan-alasan yang logis dan benar.
-Tidak bisa membedakan mana berita yang benar dan mana berita yang salah
-Percaya mentah-mentah terhadap berita tentang “keburukan-keburukan” capres lain padahal itu berita fitnah dari sumber yang tidak jelas atau tidak credible.

Ad.3.Tidak memahami ilmu politik

Mereka tidak faham Ilmu Politik sehingga tidak tahu ciri-ciri capres yang negarawan dan yang bukan negarawan

Ciri-cirinya:
-Tidak faham tentang track record, prestasi riwayat hidup, masa lalu,integritas, kapabilitas, akseptabilitas, popularitas maupun elektabilitas masing-masing capres
-Memilih capres hanya berdasarkan selera atau emosi
-Tidak mau mengakui keburukan-keburukan terhadap capres yang dipilihnya
-Tidak tahu apa bedanya pemimpin dan negarawan dan tidak tahu pula apa bedanya politisi dan negarawan
-Memilih capres tidak berdasarkan pertimbangan ilmu politik atau politik melainkan berdasarkan Ilmu Kira-Kira

Ad.4.Tidak memahami ajaran Islam
Mereka tidak faham ajaran Islam tentang ciri-ciri pemimpin yang berkualitas menurut Islam.

Ciri-cirinya:
-Tidak tahu syarat-syarat pemimpin yang baik menurut Islam, yaitu shiddiq/jujur, tabligh/aspiratif, amanah/terpercaya dan fathanah/mampu
-Tidak tahu kalau capres yang mencalonkan diri (tidak dicalonkan rakyat) menurut Islam adalah capres yang mencapreskan diri berdasarkan ambisi bukan berdasarkan amanah dari rakyat
-Tidak bisa membedakan mana capres yang sudah naik haji dan mana capres yang belum naik haji
-Selalu bersikap suudzon terhadap capres yang lain yang Islami tetapi selalu husnudzon terhadap capres pilihannya yang sebenarnya kurang atau tidak Islami
-Bersikap takliq atau sami’na wa’ athona. Apapun yang dikatakan capres pilihannya dianggap 100% benar dan tidak mungkin salah.

Ad.5.Tidak memahami ilmu statistik
Mereka tidak faham Ilmu Statistik sehingga tidak mampu membuat Forecast atau prediksi berdasar metode Least Square dari berbagai hasil survei.

Ciri-cirinya:
-Tidak bisa membedakan mana lembaga survei yang credible dan yang tidak credible
-Percaya terhadap hasil survei yang sesuai seleranya walaupun itu dari lembaga survei abal-abal yang tidak bonafide
-Tidak tahu atau tidak mampu menggunakan data-data statistik tentang tingkat popularitas maupun tingkat elektabilitas capres-capres yang dipilihnya maupun capres-capres lainnya
-Tidak mampu melihat perkembangan kemajuan dan kemunduran capres berdasarkan data-data statistik
-Tidak mampu melakukan kalkulasi politik berdasarkan perolehan suara pada pileg maupun berdasarkan data-data quick count maupun hasil survei dari lembaga-lembaga survei yang credible.

Akibatnya:

1.Mereka memilih capres hanya berdasarkan selera atau emosi
2.Mereka salah memilih capres
3.Capres pilihannya pasti kalah

Hariyanto Imadha
Pengamat Perilaku
Sejak 1973

 


Kategori