Oleh: psikologi2009 | Mei 1, 2014

PSIKOLOGI : Kemenangan Pilpres Tidak Ditentukan Oleh Banyaknya Koalisi Maupun Kursi

FACEBOOK-PsikologiKemenanganPilpresTidakDitentukanBanyaknyaKoalisiMaupunKursi
PILEG dan pilpres adalah dua hal yang berbeda, walaupun saling berkaitan. Pileg basis kemenangannya adalah jumlah suara ataupun jumlah kursi. Hal ini karena ada kaitannya dengan syarat pencapresan. Sedangkan pilpres itu hal lain lagi. Kemenangan seorang capres tidak lagi ditentukan jumlah koalisi maupun kursi (walaupun itu penting), namun lebih ditentukan oleh faktor popularitas dan elektabilitas .
Ada dua factor utama kemenangan capres
Yaitu:

1.Faktor popularitas
2.Faktor elektabilitas

Ad.1.Popularitas
Popularitas atau ketenaran nama seorang capres pastilah merupakan salah satu faktor kemenangan. Namun popularitas di sini haruslah popularitas yang putih bersih. Artinya, rakyat akan memilih capres yang dianggapnya jujur dan bersih. Bahkan jika perlu, capres yang namanya tiap hari selalu menjadi bahan berita di TV, radio, surat kabar, blog atau website dan media massa lainnya.

70% rakyat masih awam politik
Namun harus diakui bahwa rakyat Indonesia masih banyak yang awam politik. Mereka tidak tahu apa artinya track record, kompetensi ataupun integritas capres. Rakyat juga tidak tahu kriteria capres yang berkualitas. Rakyat memilih masih berdasarkan ilmu kira-kira. Bahkan boleh dikatakan memilih secara tidak rasional. Masih secara subjektif. Bahkan mudah dikadalin para politisi apalagi kalau ada faktor money politicnya. Betapapun juga, sebagian besar rakyat tetap punya rasa kepercayaan kepada capres yang paling popular.

Ad.2.Elektabilitas
Elektabilitas atau tingkat keterpilihan adalah rasa percaya yang diberikan oleh rakyat kepada capres idolanya. Rasa percaya bisa muncul akibat berita-berita yang baik tentang sosok capres. Karena tiap hari tiap saat selalu mendengar nama capres yang menjadi bahan berita, apalagi capres tersebut diberitakan sebagai capres yang bersih, jujur dan punya prestasi nasional maupun internasional, maka tingkat elektabilitasnya semakin tinggi.

Black campaign dan negative campaign
Di negara manapun, dalam setiap kampanye politik pasti memunculkan efek black campaign maupun negative campaign.

1.Black campaign
2.Negative campaign

Ad.1.Black campaign
Black campaign atau kampanye hitam yaitu kampanye yang disengaja atau tidak sengaja merupakan kampanye yang tidak didukung fakta ataupun bukti. Merupakan kampanye fitnah.

Contoh:

Kampanye bahwa ayah Jokowi adalah seorang keturunan China atau Tionghoa.

Ad.2.Negatif campaign
Negative campaign atau kampanye negatif adalah kampanye berdasarkan fakta, tetapi biasanya fakta itu dilakukan orang lain, diplintir, tidak lengkap, dikurangi atau ditambahi.

Contoh:
Jokowi dituduh akan menjual aset negara apabila terpilih sebagai presiden. Sebab, Megawati selama menjadi presiden juga menjual aset negara. Hal ini karena Jokowi dan Megawati sama-sama dari PDI-P.

Logika keblinger
Pada umumnya black campaign maupun negative campaign merupakan kampanye yang menggunakan logika-logika keblinger. Tidak ada argumentas yang benar-benar logis dan benar, rasional dan faktual serta realistis. Hanya memberi kesan materinya benar. Termasuk bersifat menghasut rakyat.

Kampanye informatif dan faktual
Yaitu kampanye yang berdasarkan fakta yang tidak bisa dibantah karena berdasarkan fakta yang diketahui oleh umum. Sebagai suatu kebenaran yang tidak mungkin bisa dibantah karena banyak bukti dan saksi.

Contoh
Adanya capres yang cerai, pernah diberhentikan dari TNI AD, pernah dipindahtugaskan oleh BJ Habibie, banyak karyawan perusahaannya yang berbulan-bulan belum digaji dan semacamnya. Kampanye itu bersifat informatif  didukung fakta dan saksi yang cukup banyak.

Black campaign dan negative campaign versus popularitas dan elektabilitas
Secara bertahap rakyat pemilih menjadi semakin cerdas dan berwawasan luas. Hal ini karena semakin banyaknya media massa berupa TV, internet, surat kabar, radio dan media massa sosial lainnya. Juga ditambah banyaknya rakyat yang berpendidikan tinggi. Juga mudahnya transportasi dari desa ke kota dari pedalaman ke kota besar yang mengakibatkan terjadinya interaksi dan semakin meluasnya informasi.

Efeknya yaitu, rakyat yang mendengar black campaign dan negative campaign sekitar 30% percaya dan 70% tidak percaya. Hal ini karena faktor popularitas dan elektabilitas menyumbang 70% kemenangan seorang capres.

Fitnah tidak mempan
Fitnah, caci maki, olok-olok, celaan, hasutan, hujatan dan semacamnya yang ditujukan ke seorang capres tidak mempan sejauh capres yang diserang mempunyai sikap yang tenang dan tidak emosional. Tidak membalas semua serangan pribadi. Paling tidak, membalas semua serangan pribadi dengan guyonan-guyonan yang menyegarkan.

Emosional versus rasional
Dari sudut psikologi, emosi tidak boleh dibalas dengan emosi, tetapi harus dibalas dengan rasionalitas. Ibarat api yang tidak boleh dibalas dengan api, melainkan harus dibalas dengan air. Apipun akan padam kalau disiram air dalam jumlah yang cukup. Artinya, seorang capres yang terus difitnah dan diserang dan tidak melakukan pembalasan, justru akan mendapatkan nilai plus. Justru tingkat popularitas dan elektabilitasnya semakin meningkat.

Boomerang effect
Boomerang effect atau efek bumerang akan terjadi justru terhadap para pemfitnah. Rakyat yang sebagian besar melihat capres yang terbukti bersih, jujur dan sabar justru akan menaruh antipasti terhadap para penyebar fitnah dan semacamnya. Dan orang-orang yang antipasi terhadap para pemfitnah jumlahnya tiap hari akan semakin bertambah. Berita-berita yang menyudutkan capres jujur tidak akan dipercaya. Sudah ada keyakinan yang melekat pada rakyat bahwa capres pilihannyalah yang benar dan para pemfitnahlah yang salah.

Boomerang effect menguntungkan lawan politik
Dalam praktek, capres yang paling banyak mendapat serangan fitnah, kampanye hitam maupun kampanye negatif, justru akan mendapatkan kemenangan. Sebab, boomerang effect justru meningkatkan tingkat popularitas dan elektabilitas capres yang jujur. Dengan kata lain, akibat kebodohan para pemfitnah, justru capres yang jujur yang memetik kemenangan.

Kesimpulan
Rasa-rasanya kurang realistis atau bahkan tidak realistis kalau ada capres yang popularitas dan elektabilitasnya berada di peringkat kedua, ketiga dan seterusnya merasa optimis akan memenangkan pilpres. Kecuali melalui cara-cara curang, tidak etis dan atau melakukan black campaign serta negative campaign secara berlebihan. Apalagi disertai proses money politic yang berlebihan.
Semoga bermanfaat

Hariyanto Imadha
Pengamat perilaku
Sejak 1973


Kategori

%d blogger menyukai ini: