Oleh: psikologi2009 | Agustus 4, 2011

PSIKOLOGI: Puasa di Indonesia adalah Puasa Basa-basi Saja

SAYA, sebagai pengamat perilaku (behavior observer) sejak 1973 tahu benar bahwa sebagian besar bangsa Indonesia mempunyai sifat basa-basi. Bahkan saya setuju dengan buku karya Mochtar Lubis berjudul “Manusia Indonesia” yang mengatakan bahwa sebagian orang Indonesia bersifat munafik.

Enam puluh enam kali berpuasa

Kalau  dihitung sejak Indonesia merdeka, maka sebenarnya bangsa Indonesia sudah 65 kali menjalani puasa Ramadhan.Sebagian ada yang menjalaninya dengan tekun dan tetap beraktivitas, namun sebagian lagi berpuasa dan mengisi waktunya dengan tidur-tiduran dan bermalas-malasan dengan mengandalkan haditz dhoif yang mengatakan bahwa tidurnya orang berpuasa adalah ibadah. Padahal, Nabi Muhammad SAW sudah jelas memberi contoh bahwa beliau tidak pernah tidur-tiduran dan bermalas-malasan di siang hari selama bulan Ramadhan. Beliau mengisi waktu siang harinya dengan berdagang.Nabi sudah memberi contoh, kenapa justri mencontoh hadits yang dhoif?

Sesudah puasa kelakuannya tidak berubah

Selama berpuasa memang banyak umat Islam yang berkelakuan baik, antara lain bersodaqoh, berzakat, tarawih, dan kegiatan amal bakti lainnya yang sangat bermanfaat bagi diri sendiri ataupun orang lain.Namun sebaggian besar, kelakuan baik itu hanya bersifat artifisial dan sementara saja.

Namun kelakuan adalah kelakuan.

“Behavior is behavior”.Artinya, manusia sangat mudah kembali ke kelakuan aslinya. Artinya, sesudah Ramadhan, maka kelakuan aslinya akan muncul lagi, baik disadari ataupun tidak disadari. Begitu juga masalah kebiasaan bruk atau “habit” juga muncul lagi.

Contoh munculnya kembali kelakuan buruk sesudah Ramadhan

-kompleks psk dibuka lagi

-korupsi jalan terus

-masih suka mencela sesama muslim dengan menggunakan ayat Al Qur’an atau hadits

-membuang sampah seenaknya

-merokok di sembarang tempat termasuk di kendaraan umum

-ngrumpi

-pungli,nepotisme jalan terus

-seribu kali berjanji mengucapkan insya allah,seribu kali ingkar janji

-suka mencela sesama facebooker

-tidak disiplin berlalu lintas

-tidak disiplin masuk kerja

-tidak mau bersedekah (padahal sedekah bisa kapan saja)

-utang tidak mau bayar

-wakil rakyat masih suka membolos

-dan masih sangat banyak kelakuan buruk yang asli keluar lagi.

Kesimpulan

1.Pemahaman agama Islam di Indonesia sebagian besar dipahami hanya kulit-kulitnya saja.

2.Berbuat baik selama Ramadhan sebagian besar merupakan tingkah laku artifisial dan bersifat sementara

3.Ucapan Selamat Idul Fitri Mohon Maaf Lahir dan Batin cuma basa-basi saja

4.Acara silaturahim cuma basa-basi saja

5.Sesudah Ramadhan, kelakuan buruk yang asli muncul lagi.

Catatan:

Dari 1.000 orang,hanya 1 orang yang berhasil mengubah perilakunya dari perilaku buruk menjadi perilaku yang baik. Lainnya, yang baik tetap baik dan yang buruk tetap buruk.

Hariyanto Imadha

Pengamat perilaku

Sejak 1973

Iklan

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: