Oleh: psikologi2009 | November 30, 2013

PSIKOLOGI: Jangan Under Estimate atau Over Estimate Menilai Orang Lain

FACEBOOK-PsikologiJanganUnderEstimateAtauOverEstimateMenilaiOrangLain

DALAM kehidupan sehari-hari, baik di masyarakat biasa maupun di media online, terutama di Twitter atau Facebook, kadang-kadang kita menemukan orang-orang yang menilai kita secara “under estimate” ataupun “over estimate”. Sebuah penilaian yang bersifat apriori yang tidak sesuai dengan fakta yang kadang-kadang membuat kita bisa tersinggung.

Apakah sikap apriori itu?
Sikap apriori yaitu orang yang menilai kita secara keliru. Menilai kita terlalu rendah atau terlalu tinggi. Tidak pas. Tidak sesuai fakta. Biasanya dilakukan orang-orang yang belum mengenal kita secara mendalam atau baru saja mengenal.

Apakah sikap under estimate itu?

Sikap under estimate yaitu seseorang yang menilai kita terlalu rendah.Menganggap kita tidak tahu atau tidak mengerti, tidak bisa, tidak mampu, tidak punya uang, berpendidikan rendah, bodoh, tidak pernah memikirkannya dan anggapan-anggapan atau penilaian-penilaian yang bernada merendahkan.

Contoh 1

Si A sudah lama membuat kanopi/atap motor dengan menggunakan bahan acrylic. Lantas Si B berkomentar “Kalau dibuat dari bahan fiberglass tentunya lebih baik”. Pernyataan Si B pastilah menganggap Si A tidak memikirkan hal tersebut dan bernada menganggap Si A tidak mampu membuat kanopi motor dari bahan fiberglass. Padahal, Si A sudah memikirkannya sejak empat tahun yang lalu. Untuk membuat kanopi motor dari bahan fiberglass itu hanya soal waktu. Sudah dipikirkan tetapi belum direalisaasikan. Kebetulan Si A mempunyai kemampuan membuat apa saja dari bahan fiberglass.

Contoh 2

Si A sebenarnya punya banyak gelar sarjana tetapi sejak diwisuda tidak pernah dipakainya. Si B yang baru mengenalnya kalau bicara selalu bernada merendahkan.  Nada bicaranya selalu bernada “seharusnya tidak begitu, tetapi begini”,”hanya orang berpendidikan tinggi saja yang bisa melakukannya”, “kalau mau cari kerja sebaiknya harus punya gelar sarjana” dan pernyataan-pernyataan yang terkesan Si B menganggap Si A berpendidikan rendah.

Contoh 3

Si B yang baru kenal Si A bertanya “Sekarang pakai komputer apa dan pakai Windows apa?”. Si A menjawab “ Pakai komputer Pentium 4 dan Windows XP”. Si B-pun tertawa bernada membodoh-bodohkan dan mengatakan sekarang Pentium 4 dan Windows XP sudah ketinggalan jaman. Si B tidak tahu kalau Si A punya pengalaman 17 tahun mengelola lembaga pendidikan komputer. Komputer yang dipakainya sejak tipe XT, AT 286, AT 386,AT 486, Pentium 1, Pentium 2,Pentium 3 dan berhenti pada Pentium 4. Berhenti pada Pentium 4 karena lembaga pendidikan komputernya sudah tutup dan membuka warnet dengan sistem jaringan PC Station yang hanya support Windows XP. Kalau soal Windows, Si A sebenarnya punya Windows 7, Windows Vista dll. Karena tidak support PC station maka tidak pernah diinstalnya.

Apakah sikap over estimate itu?

Sikap over  estimate yaitu seseorang yang menilai kita terlalu tinggi. Antara lain menganggap kita pandai, tahu segala-galanya, mengerti segala-galanya, bisa apa saja, menguasai segala pengetahuan dan ilmu pengetahuan, menganggap kita punya uang banyak , mengira kita punya jabatan tinggi dan anggapan-anggapan atau penilaian-penilaian lain yang berlebihan.

Contoh 1

Si B baru saja kenal dengan Si A. Si B melihat baju yang dipakai Si A bagus-bagus dan pastilah mahal harganya. Maka Si B mengira Si A itu pastilah orang kaya dan banyak uangnya. Maka suatu hari Si B pun mencoba pinjam uang ke Si A. Tentu saja keliru. Si A memakai baju bagus karena dapat kiriman dari kakaknya yang bekerja di Amerika. Tiap bulan dapat kiriman baju-baju yang bagus dan mahal.Kalau soal uang, Si A bukan orang kaya. Si A cuma seorang buruh pabrik yang gajinya kecil. Rumahpun belum punya. Masih kost.

Contoh 2

Si A kemana-mana memakai mobil mewah. Si B yang baru kenal mengira Si A orang kaya. Padahal, Si A memakai mobil mewah bukan sebagai pemiliknya. Melainkan Si A merupakan sopir pribadi dari seorang direktur utamapurusahaan yang cukup besar. Hal-hal yang demikian sering terjadi di Indonesia. Banyak orang memakai mobil mewah. Padahal itu mobil pinjaman atau mobil kredit yang masih lama lunasnya.

Contoh 3

Si A adalah seorang politisi. Bahkan seorang capres. Parasnya gantheng. Kaya. Pandai bicara. Bisa main musik. Bisa main golf. Pandai berbahasa Inggeris. Lulusan universitas terkenal di Amerika. Seorang pengusaha kaya raya. Punya jabatan menteri. Pasang iklan capres terselubung di mana-mana. Memberi kesan dia lebih hebat daripada Jokowi. Maka ada beberapa orang menilai, Si A merupakan capres yang berkualitas. Bahkan banyak wanita dan gadis yang terpesona melihat keganthengannya. Para remajapun menilai dia capres andalan. Padahal, perusahaan yang dikelolanya sering tersangkut kasus. Sebagai menteripun hasil kerjanya biasa-biasa saja. Bahkan tidak bisa dibanggakan. Hasil kerjanya di bawah standar. Kalau jadi menteri saja hasil kerjanya kacau, apalagi mau menjadi presiden?

Sikap yang baik bukan under estimate dan bukan over estimate

Maka, sikap kita yang baik terhadap orang lain yaitu jangan  “under estimate” ataupun “over stimate” tetapi “exact estimate”.

Sikap kita yang baik yaitu:

-Kenali dulu siapa dia
-Apa pendidikannya
-Apa pengalaman kerjanya
-Apa kemampuan yang dimilikinya
-Bagaimana pandangan hidupnya
-Bagaimana penalaran-penalarannya
-Bagaimana kondisi ekonominya
-Bagaimana gaya hidupnya

Dengan kata lain, kita harus mengenal seseorang secara benar berdasarkan fakta. Jangan menilai orang lain secara apriori hanya berdasarkan “ilmu kira-kira” saja. Kita harus tahu dia benar-benar sarjana, benar-benar pandai, benar-benar bisa, benar-benar baik hati, benar-benar jujur, benar-benar berkualitas dan seterusnya. Jika kita bisa sudah mengetahui “siapa sebenarnya” orang yang kita hadapi, maka kita tidak boleh lagi bersikap “under estimate” maupun “over estimate” melainkan “exact estimate”. Menilai secara tepat.

Dan jika ada orang lain yang justru menilai kita “under estimate” atau “over estimate”, maka kita harus mengatakan secara jujur siapa  kita yang sebenarnya. Dengan demikian orang lain tidak akan salah faham ataupun salah menilai.

Semoga bermanfaat.

Hariyanto Imadha

Pengamat perilaku
Sejak 1973

Iklan

Kategori