Oleh: psikologi2009 | November 17, 2011

PSIKOLOGI: Beda Pandai, Cerdas dan Jenius

BETAPA pentingnya kita banyak-banyak membaca buku ilmu pengetahuan, koran, menonton berita-berita di televisi, radio dan lain-lain. Apalagi kalau kita mau banyak baca buku-buku BAHASA, PSIKOLOGI, dan PSIKOLOGI BAHASA.

Terkadang sering masyarakat mencampuradukkan pengertian pandai, cerdas dan jenius. Padahal, dari sudut bahasa maupun psikologi tentu ada semantik khusus yang perlu dipahami secara benar dan utuh.

1.Pandai itu yang bagaimana?

Pandai bisa terealisasi karena proses belajar. Efek dari belajar. Tentu, belajar yang optimal. Meskipun juga harus diakui tidak semua proses belajar bisa menghasilkan hasil yang optimal. Banyak faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi. Orang yang tidak banyak kuliah, tetapi belajar sendiri secara otodidak, juga bisa pandai. Walaupun mungkin belum sempurna.

Kesimpulan:

Pandai karena proses belajar.

Seorang mahasiswa yang IQ-nya pas-pasan bisa saja disebut pandai karena tiap malam dia belajar terus hingga kacamatanya semakin tebal dan dengan hasil ujian yang bagus dan IPK yang tinggi. Tapi belum tentu dia cerdas atau jenius. Sebab, dia lulus dengan nilai tinggi karena kuat menghafal teori dan rumus.

2.Cerdas itu yang bagaimana?

Saya heran membaca UUD 1945 yang memuat kalimat “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Suatu hal yang tidak mungkin. Sebab cerdas berkaitan dengan faktor genetika. Artinya, kecerdasan tidak bisa diperoleh di bangku pendidikan karena sifatnya pribadi atau individual dan berhubungan dengan genetika.

Namun, faktor genetika jangan diartikan faktor keturunan walaupun bisa jadi ada gen yang diturunkan dari kedua orang tuanya. Namun orang tua yang tidak cerdas, bisa saja menghasilkan keturunan dengan gen yang baik.

Mohon dipahami, orang yang cerdas belum tentu pandai kecuali kalau dia melalui proses belajar. Albert Einstein tak akan pandai Ilmu Matematika, kecuali kalau dia mempelajari dan menekuni ilmu matematika. Jangan lupa, orang yang cerdas belum tentu kreatif.

Kesimpulan:

Cerdas karena faktor genetika yang baik tetapi IQ under-upper.

3.Jenius itu yang bagaimana?

Jenius berkaitan dengan IQ seseorang. Cara pikirnya tinggi, kreatif, punya imajinasi yang luar biasa, cepat memahami masalah, smart dalam menangkap substansi dan esensi suatu hal. Orang yang IQ tinggi sering membuat artikel, teori, kata, kalimat yang sulit dipahami orang awam. Tetapi IQ tinggi belum tentu pandai kecuali kalau melalui proses belajar.

Kesimpulan:

Jenius, karena faktor kualitas genetika yang baik dan IQ yang tinggi (upper-upper)

Sumber:Dari beberapa artikel psikologi

Hariyanto Imadha

Penulis Kritik Pencerahan

Sejak 1973

Iklan

Responses

  1. Menurut saya, mencerdaskan kehidupan bangsa itu mungkin saja. Peningkatan kebutuhan gizi mayarakat, pelayanan kesehatan, maupun mendorong kemajuan bidang ilmu kedokteran, bukankah ini semua pada gilirannya akan membentuk generasi bangsa yang semakin cerdas?

  2. Menurut saya, pemahaman saya, mungkin pembuat tujuan negara yang bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa, ya menyuplai segala bentuk usaha yang akan dilakukan apapun itu untuk terus dan selalu membuat/mengusahakan kesehatan yang sehat dan baik bagi si induk dan jantan agar menghasilkan/melahirkan keturunan yang cerdas untuk kehidupan yang cerdas, mungkin itu.


Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: